HomeLifestyleLima Alasan Greenland Ingin Direbut Amerika, Tersembunyi 'Harta Karun' Alam

Lima Alasan Greenland Ingin Direbut Amerika, Tersembunyi ‘Harta Karun’ Alam

Jabaran.id – Greenland, wilayah otonom Denmark yang tertutup es di Arktik, kembali menjadi sorotan dalam percaturan geopolitik global. Pertemuan antara diplomat senior Denmark dan Greenland dengan pejabat tinggi Amerika Serikat di Gedung Putih membahas masa depan pulau tersebut, yang pernah diungkapkan keinginan Presiden AS Donald Trump untuk direbut dengan alasan keamanan nasional.

Pertemuan tersebut melibatkan Wakil Presiden AS JD Vance dan Menteri Luar Negeri Marco Rubio. Beberapa jam sebelumnya, Menteri Pertahanan Denmark Troels Lund Poulsen menyatakan Denmark sedang meningkatkan kehadiran militernya di Greenland dan sedang berdiskusi dengan sekutu tentang “peningkatan kehadiran NATO di Arktik.”

Lima faktor utama menjadikan Greenland sebagai wilayah yang diperebutkan oleh kekuatan global, berdasarkan data dan pernyataan para ahli.

1. Potensi Sektor Pertambangan yang Masih Terkunci

- Advertisement -

Sejak 2009, penduduk Greenland memegang kendali penuh atas pengelolaan sumber daya alam mereka.

Tanah Greenland telah dieksplorasi dengan cukup baik, memungkinkan pembuatan peta sumber daya yang detail.

Akses terhadap sumber daya ini dianggap sangat penting oleh Amerika Serikat, yang menandatangani memorandum kerja sama untuk sektor pertambangan pada tahun 2019. Uni Eropa menyusul dengan perjanjian serupa empat tahun kemudian, pada tahun 2023.

2. Simpanan Mineral Tanah Jarang yang Strategis

Greenland diketahui memiliki kandungan mineral yang kritis bagi industri teknologi dan pertahanan modern. Uni Eropa telah mengidentifikasi 25 dari 34 mineral dalam daftar resmi bahan baku penting berada di Greenland, termasuk unsur tanah jarang.

Ditte Brasso Sorensen, seorang analis di Think Tank Europa, mengatakan, “Seiring meningkatnya permintaan mineral, ada kebutuhan untuk mencari sumber daya yang belum dimanfaatkan.

Para pelaku semakin menyadari bahwa mereka perlu mendiversifikasi sumber daya mereka, terutama dalam hal ketergantungan pada China untuk unsur tanah jarang.” Sorensen menambahkan bahwa ada kekhawatiran China akan menguasai sumber daya mineral tersebut.

3. Tingkat Eksploitasi yang Masih Minimal

Meski kaya potensi, aktivitas penambangan komersial di Greenland saat ini sangat terbatas.

Hanya terdapat dua tambang yang beroperasi: satu untuk rubi, yang sedang mencari investor baru, dan lainnya untuk anortosit, batuan yang mengandung titanium.

Di Greenland selatan, proyek logam tanah jarang Tanbreez, yang dipimpin oleh Critical Metals Corp, berencana membuka tambang di dekat Quaqortoq pada tahun ini, dengan operasi yang diharapkan dimulai tahun depan.

4. Kedekatan Geografis dan Sejarah dengan Amerika Serikat

Greenland, dengan populasi sekitar 57.000 jiwa, adalah wilayah otonom di bawah Kerajaan Denmark. Kopenhagen mengendalikan penegakan hukum, kebijakan moneter, urusan luar negeri, pertahanan, dan kebijakan keamanannya. Namun, ibu kotanya, Nuuk, lebih dekat ke New York daripada ke Kopenhagen.

Sejarawan Astrid Andersen dari Institut Studi Internasional Denmark menyatakan bahwa Greenland berada di “zona kepentingan” Amerika Serikat.

Andersen menjelaskan, “Selama Perang Dunia II, ketika Denmark diduduki oleh Jerman, AS mengambil alih Greenland. Dalam arti tertentu mereka tidak pernah meninggalkannya.”

Bukti kehadiran AS adalah Pangkalan Ruang Angkasa Pituffik, yang digunakan selama Perang Dingin sebagai pos peringatan dini dan masih menjadi bagian dari infrastruktur pertahanan rudal AS.

5. Lokasi Strategis di Jalur Militer dan Ekonomi Baru

Sebagai pulau Arktik terbesar, Greenland terletak di jalur terpendek untuk rudal antara Rusia dan Amerika Serikat, menjadikannya sangat penting secara strategis. Pemerintahan Trump sebelumnya menuduh Denmark kurang berinvestasi dalam keamanan Greenland dan gagal melindunginya dari pengaruh Rusia dan China.

Denmark, sebagai anggota pendiri NATO, menolak klaim tersebut. Mereka menyatakan telah mengalokasikan hampir 90 miliar kroner Denmark (setara USD14 miliar) untuk memperkuat kehadiran militernya di kawasan Arktik.

Selain aspek militer, kepentingan ekonomi Greenland juga diproyeksikan meningkat seiring dengan dibukanya jalur pelayaran baru di Arktik akibat mencairnya es. (*)

TERBARU

spot_img

POPULER

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here