Jabaran.id – Rangkaian kegiatan Pesantren Kilat (Sanlat) Ramadan 1447 Hijriyah di SDN Sukatani 4 resmi ditutup dengan sebuah acara yang penuh kebersamaan dan kepedulian. Acara puncak diisi dengan pemberian santunan kepada puluhan siswa yang berasal dari kalangan yatim, piatu, dan dhuafa, yang kemudian dilanjutkan dengan kegiatan berbuka puasa bersama di lingkungan sekolah.
Kegiatan Sanlat Ramadan berlangsung sejak Senin, 9 Maret 2026 ini diikuti oleh seluruh siswa muslim SDN Sukatani 4. Selama sepekan, mereka dibekali dengan berbagai materi keagamaan yang bertujuan untuk memperkuat iman dan takwa di bulan suci. Puncak acara pada Jumat, 13 Maret 2026 menjadi momen yang paling dinantikan, tidak hanya sebagai penanda berakhirnya sanlat, tetapi juga sebagai implementasi nyata dari nilai-nilai sosial yang diajarkan selama ini.

Ketua Sanlat Ramadan SDN Sukatani 4, Yus Arifin, mengungkapkan bahwa penutupan kali ini sengaja dirangkai dengan kegiatan sosial. Pihak sekolah ingin memastikan bahwa esensi dari Ramadan, yaitu meningkatkan kepedulian terhadap sesama, benar-benar dirasakan oleh seluruh warga sekolah, khususnya para siswa yang membutuhkan.
“Kegiatan penutupan pesantren kilat yang diadakan dari Senin. Ditutup dengan acara pemberian santunan yatim, piatu, dan duafa sebanyak 101 siswa,” ujar Yus Arifin.
Angka 101 penerima santunan ini menjadi sorotan tersendiri dalam kegiatan tahun ini. Jumlah tersebut menunjukkan besarnya kepedulian yang berhasil dihimpun oleh pihak sekolah dan para guru. Yus menjelaskan bahwa dana yang digunakan untuk santunan berasal dari berbagai sumber yang dikumpulkan secara konsisten oleh warga sekolah.
“Yang berasal dari uang amal Ramadan dan uang amal Jumat dan donasi dari guru,” tambah Yus Arifin.
Ia memaparkan, penggalangan dana untuk santunan ini sebenarnya sudah berlangsung jauh sebelum bulan Ramadan tiba. Melalui program amal Jumat yang rutin digelar setiap pekan, para siswa diajarkan untuk menyisihkan sebagian uang saku mereka untuk ditabung dan disalurkan kepada yang membutuhkan. Kebiasaan kecil ini kemudian menjadi kebiasaan baik yang berbuah manis di bulan Ramadan, di mana dana yang terkumpul dapat digunakan untuk membahagiakan 101 teman mereka.

Pada momen Ramadhan ini, intensitas penggalangan dana ditingkatkan dengan program amal Ramadhan. Para guru juga turut berpartisipasi aktif dengan memberikan donasi tambahan. Semangat gotong royong inilah yang kemudian memungkinkan pihak sekolah untuk menjangkau lebih banyak penerima manfaat dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
Setelah penyerahan santunan, acara dilanjutkan dengan tausyiah yang disampaikan oleh penceramah, kemudian diikuti dengan doa bersama sebelum azan Magrib berkumandang.
Kegiatan berbuka puasa bersama menjadi penutup yang sempurna dari rangkaian acara tersebut. Seluruh siswa, guru, dan panitia duduk bersama menikmati hidangan berbuka yang sederhana namun penuh makna. Suasana kekeluargaan begitu terasa, mencerminkan nilai-nilai persaudaraan yang ingin ditanamkan oleh sekolah melalui kegiatan sanlat.
Yus Arifin berharap bahwa kegiatan ini tidak hanya berhenti pada seremonial belaka, tetapi dapat membentuk karakter siswa yang lebih peka terhadap lingkungan sekitar. Dengan melibatkan siswa dalam proses penggalangan dana hingga penyaluran, mereka belajar secara langsung tentang arti berbagi dan kebahagiaan yang muncul ketika dapat membantu orang lain.
“Nilai-nilai inilah yang diharapkan akan terus melekat pada diri para siswa, tidak hanya di bulan Ramadhan, tetapi juga di bulan-bulan lainnya sepanjang tahun,” katanya. (*)
