HomeNewsKetika Harapan Diternakkan di Lapas Gunung Sindur Getarkan Ketahanan Pangan Nasional

Ketika Harapan Diternakkan di Lapas Gunung Sindur Getarkan Ketahanan Pangan Nasional

Jabaran.id – Di balik tembok kokoh dan kawat berduri Lapas Narkotika Kelas IIA Gunung Sindur, sebuah revolusi senyap sedang berlangsung. Bukan tentang jeruji, melainkan tentang jemari yang dahulu salah melangkah, kini justru menjadi tulang punggung ketahanan pangan bangsa.

Di bawah komando Bambang Widjanarko, Kepala Lapas Narkotika Kelas IIA Gunung Sindur, para warga binaan tidak sekadar menjalani masa hukuman. Mereka bertransformasi menjadi tenaga kerja industri yang produktif, memproduksi ribuan kandang baterai ayam petelur yang kini merambah pasar antar-provinsi hingga lintas pulau.

Program ketahanan pangan yang dicanangkan Direktorat Jenderal Pemasyarakatan disambut dengan dentum mesin las dan percikan api di bengkel kerja Lapas Gunung Sindur. Hasilnya luar biasa. Kandang baterai produksi “produk dalam lapas” ini telah terbang ke berbagai UPT Pemasyarakatan di Indonesia.

“Kita sudah kirim dan pasarkan ke enam UPT, mulai dari Lapas Kelas 1 Cipinang, Rutan Depok, Bandung, Subang, Bekasi, hingga Lapas Terbuka Kendal di Jawa Tengah. Sebentar lagi menyusul Slawi dan terbang ke Banjarbaru, Kalimantan Selatan,” ujar Bambang dengan nada bangga.

- Advertisement -

Di sebuah ruang kerja yang riuh oleh suara mesin, terlihat 20 warga binaan terpilih bekerja dengan presisi tinggi. Dibagi dalam dua shift untuk mengejar target, mereka mampu menghasilkan 100 set kandang per hari. Satu set kandang ini dirancang khusus untuk kapasitas delapan ekor ayam.

Bambang menceritakan bahwa keahlian ini tidak datang begitu saja. Mereka dilatih secara profesional oleh ahli mesin selama dua minggu hingga benar-benar dilepas menjadi teknisi mandiri.

“Harapan kita, mereka berdaya. Keluar dari sini, mereka bukan lagi orang yang sama, tapi membawa ilmu yang konkret untuk mencari nafkah,” tambahnya.

Yang paling menyentuh dari program ini adalah sistem ekonomi mikro yang tercipta. Dengan harga jual yang kompetitif—hanya Rp125.000 per unit—produk ini sudah merambah marketplace raksasa seperti Tokopedia dan Shopee.

Namun, di balik angka penjualan itu, ada hak warga binaan yang tetap dijaga. Melalui sistem premi (bagi hasil), para narapidana ini mendapatkan penghasilan dari setiap tetes keringat mereka.

Ongkos kerja yang diberikan pun disesuaikan dengan standar di luar lapas, memberikan martabat baru bagi mereka yang sedang berbenah diri.

“Walaupun berada di lapas, mereka masih bisa menghidupi keluarga di luar,” ujar Bambang.

Tak semua warga binaan bisa langsung bergabung. Dari sekitar 1.000 penghuni, hanya 20 orang terpilih melalui seleksi yang mempertimbangkan kedisiplinan dan kemauan bekerja. Namun justru di situlah nilai pentingnya—bahwa kesempatan ini menjadi motivasi, bukan sekadar fasilitas.

Di tengah keterbatasan, program ini menjelma menjadi ruang kedua bagi harapan. Ia mengajarkan bahwa kesalahan di masa lalu tidak harus menjadi akhir cerita. Dengan keterampilan yang mereka bawa pulang kelak, para warga binaan diharapkan mampu berdiri kembali di tengah masyarakat—bukan sebagai beban, tetapi sebagai individu yang produktif.

Dari Gunung Sindur, sebuah pesan sederhana mengalir: perubahan selalu mungkin, bahkan dari tempat yang paling tak terduga. Dan di balik setiap kandang yang dikirim keluar, terselip kisah tentang manusia yang sedang memperbaiki dirinya—satu rangka besi, satu harapan, dalam setiap set yang mereka buat.

TERBARU

spot_img

POPULER

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here