HomePendidikanTalkshow Kombel Setara : Dari Sekolah ke Dunia Kerja, Menyiapkan Anak Inklusi...

Talkshow Kombel Setara : Dari Sekolah ke Dunia Kerja, Menyiapkan Anak Inklusi Mandiri dan Berdaya

Jabaran.id – Komunitas (Kombel) Setara menggelar sebuah talkshow pendidikan bertajuk ‘Dari Sekolah ke Dunia Kerja, Mempersiapkan Masa Depan Anak Inklusi yang Mandiri dan Berdaya’. Kegiatan yang diadakan di lantai 10 Gedung Baleka II, Kota Depok menghadirkan empat narasumber ahli dan dibuka langsung oleh Staf Ahli Pemerintah Kota Depok, Sigit Prasetyo.

Keempat narasumber yang turut serta dalam diskusi tersebut adalah Ketua Komunitas Belajar (Kombel) Setara Yeti Meriani, Psikolog Intan Erlita, Kepala Dinas Tenaga Kerja Kota Depok Nessi Annisa Handari, serta Kepala Dinas Sosial Kota Depok Utang Wardaya. Mereka bersinergi membahas tantangan dan peluang bagi Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) dalam mengakses dunia kerja yang layak.

Talkshow komunitas setara di kota depok 3

Ketua Kombel Setara, Yeti Meriani, menyampaikan bahwa kegiatan ini menjadi momentum penting untuk menyadarkan banyak pihak akan potensi besar yang dimiliki anak inklusi. Ia menjelaskan bahwa kesiapan anak inklusi menghadapi dunia kerja bukan hanya tanggung jawab sekolah semata.

- Advertisement -

“Anak inklusi memiliki hak yang sama untuk mengembangkan potensi dirinya. Namun, mereka membutuhkan pendampingan yang terstruktur dan berkelanjutan, mulai dari proses pembelajaran di sekolah hingga saat mereka benar-benar memasuki dunia kerja. Kolaborasi antara orang tua, guru, tenaga kesehatan, dan dunia industri menjadi kunci utama keberhasilan transisi ini,” ujar Yeti Meriani.

Lebih lanjut, Yeti menjelaskan bahwa pembentukan kemandirian anak inklusi harus dimulai sejak dini di lingkungan keluarga dan sekolah. Ia menambahkan bahwa Kombel Setara secara aktif terus melakukan pendampingan bagi sekolah-sekolah penyelenggara pendidikan inklusif di Kota Depok. Menurutnya, ada beberapa aspek fundamental yang kerap terabaikan, seperti pengembangan keterampilan sosial, pengelolaan emosi, serta pengenalan lingkungan kerja secara bertahap.

“Fakta di lapangan menunjukkan bahwa banyak anak inklusi yang secara akademik dan keterampilan teknis sudah mumpuni, tetapi mereka belum siap secara non-teknis seperti beradaptasi dengan budaya kerja, bekerja dalam tim, maupun berkomunikasi dengan atasan dan rekan kerja. Oleh karena itu, program magang terstruktur yang didampingi sangat diperlukan,” tambah Yeti.

Talkshow komunitas setara di kota depok 2

Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan Kota Depok, Wahid Suryono, menegaskan bahwa saat ini bangsa Indonesia sedang menuju era berpengetahuan. Ia menyebut tema dalam kegiatan ini sangat kuat dan relevan karena kerap kali masyarakat membahas tentang kesempatan kerja dan lulusan sekolah yang tidak bisa diterima di dunia kerja.

“Kita menuju era berpengetahuan. Tema dalam kegiatan ini sangat kuat, ini menjadi tema yang relate. Karena kerap kali membahas tentang kesempatan kerja, lulusan sekolah yang tidak bisa diterima di dunia kerja, isu yang beredar sempat siswa lulusan SMK tidak terjaring di dunia kerja. Padahal SMK dulunya dianggap solusi untuk lulusan yang bisa langsung bekerja,” ujar Wahid.

Wahid menjelaskan bahwa tantangan terbesar saat ini adalah bagaimana menyiapkan siswa, terutama yang inklusi, sementara semua pihak belum sepenuhnya sampai pada tahapan di mana inklusi bisa masuk ke dunia kerja secara massif. Ia mengakui bahwa saat ini baru tahap awal membangun semua yang berkaitan dengan inklusi.

Menurutnya, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) telah menyebutkan bahwa semua anak memiliki hak yang sama. Karena itu, Wahid menekankan pentingnya menerima apapun kondisi anak, dan kesadaran ini harus dimulai dari orang tua. Ia juga menyoroti bahwa kondisi anak sangat beragam, sehingga pada akhirnya membuat target pendidikan yang berbeda-beda.

“Anak inklusi target untuk bisa hidup mandiri saja sudah luar biasa. Namun demikian, ia juga mengingatkan bahwa ada anak inklusi yang ternyata memiliki kemampuan atau kecerdasan intelektual (IQ) yang tinggi, dan anak seperti ini pun harus mendapatkan perhatian khusus agar potensinya tidak terbuang sia-sia,” jelasnya.

“Dengan memberikan target yang berbeda, kita tidak membandingkan satu anak dengan anak lainnya. Pendidikan inklusi bukanlah pendidikan yang menyamaratakan, melainkan pendidikan yang membedakan pendekatan sesuai dengan kebutuhan unik setiap anak. Ini yang harus dipahami oleh seluruh pemangku kepentingan,” tutur Wahid.

Sementara itu, data yang disampaikan oleh Psikolog Intan Erlita memberikan gambaran yang lebih konkret mengenai tantangan yang dihadapi penyandang disabilitas di pasar kerja. Ia memaparkan bahwa berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS), tingkat pengangguran penyandang disabilitas mencapai angka 12,4 persen.

“Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan pengangguran penyandang disabilitas mencapai 12,4 persen, jauh di atas rata-rata nasional yang hanya 5,8 persen. Ini adalah angka yang sangat memprihatinkan dan menunjukkan bahwa sistem kita belum sepenuhnya ramah terhadap mereka,” jelas Intan Erlita.

Intan menguraikan bahwa tingginya angka tersebut disebabkan oleh tiga faktor utama. Pertama, rendahnya akses pelatihan vokasional yang relevan di sekolah inklusi. Kedua, stigma sosial yang masih kuat terhadap kemampuan Anak Berkebutuhan Khusus (ABK). Ketiga, kurangnya akomodasi yang layak di lingkungan industri. Ia juga menyebut kesenjangan kurikulum antara sekolah dan kebutuhan nyata pasar kerja menjadi faktor penghambat yang tidak kalah penting.

Lebih lanjut, psikolog yang akrab disapa Intan itu menjelaskan bahwa diperlukan sebuah ekosistem dukungan inklusif, yakni kolaborasi lintas sektor. Menurutnya, transisi yang efektif dari sekolah ke dunia kerja membutuhkan sinergi yang kuat antara sekolah, keluarga, dan industri. Ia juga menambahkan bahwa dunia usaha perlu diberikan pemahaman bahwa merekrut tenaga kerja disabilitas bukanlah bentuk amal, melainkan investasi sumber daya manusia yang menguntungkan.

“Fakta yang sering terlewat adalah bahwa banyak penyandang disabilitas memiliki loyalitas kerja yang tinggi, tingkat absensi yang rendah, serta ketelitian yang luar biasa pada bidang-bidang tertentu. Sayangnya, minimnya akses terhadap pelatihan vokasional yang sesuai dengan minat dan bakat mereka membuat potensi ini tidak termanfaatkan secara optimal,” papar Intan. (*)

TERBARU

spot_img

POPULER

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here