Jabaran.id – Universitas Indonesia (UI) melalui Tim KATAMATAKU menggelar pemeriksaan kesehatan multidisiplin bagi balita, ibu hamil, dan ibu balita di Posyandu Kuntum Mekar, Kelurahan Karangsari, Sitanala, Tangerang, pada Senin, 21 September 2026.
Kegiatan tahun ini mengusung tema “Intervensi Berbasis Komunitas untuk Deteksi Dini Stunting dan Peningkatan Kesehatan Balita melalui Penguatan Kader Posyandu di Sitanala, Tangerang.”
KATAMATAKU UI merupakan program pengabdian masyarakat yang telah mendampingi warga Sitanala sejak 2018. Program ini diinisiasi oleh Departemen Ilmu Kesehatan Mata, Dermatologi dan Venereologi, serta Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi FKUI-RSCM untuk meningkatkan kualitas hidup pasien kusta dan orang yang pernah mengalami kusta, sekaligus memberdayakan keluarga dan masyarakat di sekitarnya.
Ketua Tim KATAMATAKU UI sekaligus Guru Besar Departemen Ilmu Kesehatan Mata FKUI, Prof. Dr. dr. Yunia Irawati, Sp.M(K), mengatakan bahwa kegiatan ini terlaksana berkat kerja sama KATAMATAKU UI, Puskesmas Neglasari, Pemerintah Kecamatan Neglasari, dan berbagai mitra lokal.
“Pengabdian masyarakat ini merupakan bentuk sinergi strategis antara KATAMATAKU UI, Puskesmas Neglasari, Pemerintah Kecamatan Neglasari, serta berbagai mitra lokal yang bertujuan untuk meningkatkan akses layanan kesehatan, memberikan edukasi gizi, serta memperkuat kapasitas tenaga medis dan kader kesehatan daerah dalam memerangi stunting,” ujar Prof. Yunia.
Senada dengan hal tersebut, Konsultan Nutrisi dan Penyakit Metabolik Anak Departemen Ilmu Kesehatan Anak FKUI, Dr. dr. Titis Prawitasari, Sp.A(K), menegaskan bahwa kader memiliki peran penting dalam menjaga keberlanjutan upaya pencegahan stunting di tingkat masyarakat.
“Melalui pendekatan berbasis komunitas dan penguatan kapasitas kader Posyandu, kami berharap upaya deteksi dini dan intervensi kesehatan balita di wilayah Sitanala dapat berjalan lebih optimal dan berkelanjutan,” kata Dr. Titis.
Rangkaian kegiatan diawali dengan Lomba Kreasi Makanan Pendamping ASI (MPASI) dan Makanan Balita pada 24 Agustus 2026. Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan edukasi bagi tenaga kesehatan dan kader Posyandu, pemeriksaan kesehatan multidisiplin, serta pemberian makanan tambahan (PMT) bagi balita.
Pemeriksaan meliputi pengukuran antropometri untuk memantau pertumbuhan, skrining kesehatan mata dan kulit, pemeriksaan gigi dan mulut, serta evaluasi fungsi oromotor balita. Kegiatan ini berhasil menjangkau 33 tenaga kesehatan dan kader, 66 bayi dan balita, serta 54 ibu hamil dan ibu balita.
Dukungan pemerintah setempat juga menjadi faktor penting dalam keberhasilan pelaksanaan program ini. Kepala Puskesmas Kecamatan Neglasari, dr. Sakuncoro, menilai kerja sama lintas sektor sangat diperlukan untuk memperkuat upaya kesehatan masyarakat.
“Dukungan penuh dari pemangku kepentingan tingkat kecamatan dan Puskesmas Neglasari menjadi pilar penting terlaksana kegiatan ini. Langkah bersama ini diharapkan mampu mencetak kader kesehatan yang mandiri serta mewujudkan generasi bebas stunting di wilayah Tangerang,” tutur dr. Sakuncoro.
Dekan FKUI, Prof. Dr. dr. Anna Rozaliyani, M.Biomed., Sp.P(K), turut mengapresiasi kolaborasi lintas disiplin yang dilakukan Tim KATAMATAKU UI. Menurutnya, keilmuan dari berbagai bidang dapat diterapkan untuk menjawab kebutuhan kesehatan masyarakat secara langsung.
“Saya mengapresiasi dedikasi para staf pengajar FKUI yang terus berkontribusi melalui pengabdian masyarakat. Program ini tidak hanya memperkuat kapasitas kader kesehatan dan meningkatkan akses layanan kesehatan bagi ibu dan anak, tetapi juga berkontribusi dalam upaya pencegahan stunting yang menjadi salah satu prioritas kesehatan nasional. Kami berharap dampak positif yang telah dibangun dapat terus berlanjut dan menjadi fondasi bagi terwujudnya generasi Indonesia yang lebih sehat dan berkualitas,” tutur Prof. Anna.
Program ini mendapat dukungan dari Hibah Pengabdian Masyarakat Dosen Universitas Indonesia 2026. Dukungan tersebut menjadi bagian dari upaya UI untuk mendorong pemanfaatan kepakaran akademik dalam menjawab kebutuhan kesehatan masyarakat, sekaligus memperkuat kolaborasi dengan pemangku kepentingan di tingkat lokal.

