Jabaran.id — SMPN 7 Depok menginisiasi program inovatif bertajuk ‘Sevendep Hijau’. Gerakan berbasis lingkungan ini dirancang khusus untuk membangun budaya cinta lingkungan yang diintegrasikan langsung ke dalam aktivitas harian seluruh warga sekolah, baik siswa maupun staf pengajar.
Kepala SMPN 7 Depok, Rodiah Ambarsari mengatakan, umplementasi program ini berfokus pada pembagian zona hijau di seluruh penjuru area sekolah. Pengelola sekolah mendistribusikan tata kelola area taman kepada seluruh siswa, di mana setiap kelompok kelas diberikan hak pengawasan serta perawatan terhadap satu zona vegetasi tertentu secara mandiri.

“Langkah preventif ini dinilai efektif untuk melatih kepekaan serta kepedulian siswa terhadap kondisi ekosistem di sekitar mereka sejak dini,” terangnya.
Melalui sistem pembagian zona tersebut, para siswa dilatih untuk mengorganisasi manajemen perawatan tanaman melalui penyusunan jadwal piket harian internal kelas. Mekanisme ini tidak sekadar menjaga kerapian estetika lanskap sekolah, melainkan menjadi instrumen pendidikan karakter yang menekankan aspek kepemimpinan, kerja sama tim, serta akuntabilitas terhadap ruang publik yang mereka gunakan setiap hari.
Rodiah Ambarsari menjelaskan latar belakang pedagogis di balik penetapan zonasi taman tersebut sebagai sarana pembentukan karakter siswa. Menurutnya, pembelajaran lingkungan hidup tidak cukup hanya diberikan melalui teori di dalam kelas, melainkan harus dipraktikkan secara langsung melalui tindakan-tindakan kecil yang terukur.
“Sevendep Hijau menjadi program peduli lingkungan yang digalangkan SMPN 7 Depok untuk membudayakan cinta lingkungan dalam kehidupan sehari-hari siswa dan guru dimulai dari lingkungan sekolah. Setiap kelas diberikan area taman untuk dijaga atau dirawat kondisi tanamannya, lalu mereka membuat jadwal sendiri tentang teknis merawat area taman yang menjadi tanggung jawabnya,” ujar Rodiah Ambarsari.
Ia juga menekankan pentingnya internalisasi rasa kepemilikan dan nilai tanggung jawab pada diri setiap peserta didik terhadap kelestarian alam sekitar.
“Ini mengajarkan kepada siswa tentang tanggung jawab terhadap lingkungan. Meskipun areanya kecil, tetapi setidaknya mereka memiliki tanggung jawab. Itu menjadi nilai pembelajaran utama yang ingin kami tanamkan secara kuat dalam diri seluruh siswa,” tambah Rodiah.
Skala penerapan program ini mencakup seluruh potensi sumber daya manusia yang ada di lingkungan sekolah. Dengan ditopang sebanyak 30 rombongan belajar (rombel) dan total populasi siswa mencapai 1.306 anak, SMPN 7 Depok berhasil memetakan 30 titik area hijau aktif yang dikelola secara independen oleh para siswa.
“Pengelolaan puluhan titik taman ini secara simultan terbukti mampu menciptakan sekolah yang lebih sejuk dan nyaman,” ucapnya.
Selain penataan vegetasi, kepedulian ekologis di SMPN 7 Depok diarahkan pada penanganan masalah limbah melalui kebijakan reduksi sampah dari sumbernya. Sekolah mewajibkan seluruh siswa membawa wadah minuman (tumbler) dan makanan dari rumah guna memangkas volume sampah plastik sekali pakai secara drastis. Kebijakan pembatasan plastik ini didukung oleh integrasi tata kelola kantin sekolah, di mana para pedagang diimbau untuk mengurangi penggunaan kemasan plastik dalam menyajikan makanan dan minuman.
Rodiah Ambarsari memaparkan keberhasilan tata kelola pengurangan limbah plastik yang terintegrasi antara kebijakan sekolah, kebiasaan siswa, dan operasional para pedagang kantin.
“Siswa diwajibkan membawa tempat minum sendiri untuk mengurangi pemakaian sampah plastik sekali pakai di area sekolah. Kebijakan ini juga kami koordinasikan secara intensif dengan para pedagang di kantin, sehingga produksi sampah plastik di lingkungan sekolah dapat berkurang secara signifikan,” pungkas Rodiah Ambarsari. (*)


