Jabaran.id — Kerap terendam banjir kiriman dari hulu Sungai Ciliwung hingga setinggi satu meter, kawasan Kelurahan Pondok Cina, Kota Depok, menjadi sasaran program mitigasi banjir terpadu oleh Tim Pengabdian kepada Masyarakat Departemen Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Indonesia (FTUI).
Inisiatif bertajuk program Jaga Air Warga untuk Resapan Aman (JAWARA) ini juga menggandeng Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) sebagai mitra riset.
Pemilihan Pondok Cina sebagai lokasi prioritas didasarkan pada data pemodelan hidrologi Balai Wilayah Sungai (BWS) yang menempatkan Segmen 4 Ciliwung sebagai salah satu titik dengan potensi luapan tertinggi di Depok.
Berdasarkan catatan warga, banjir kiriman rata-rata melanda permukiman dua kali dalam setahun pada periode 2024–2025, dengan durasi genangan berkisar antara empat hingga lima jam.
Untuk merumuskan penanganan berbasis kebutuhan lapangan, Tim FTUI menggelar Focus Group Discussion (FGD) bersama warga di musala lingkungan Pondok Cina (19/09).
Forum rembuk warga ini dihadiri oleh jajaran Pemerintah Kota Depok, pihak Kelurahan Pondok Cina, pengurus RW 01 dan RW 02, serta perwakilan warga bantaran sungai. Hadir pula Muhammad Rezza Ferdiansyah dari divisi Research & Development BMKG selaku mitra riset.
Sementara itu, tim pelaksana FTUI terdiri atas dua dosen, Ova dan Coriesta, serta didampingi oleh tiga mahasiswa, yakni Mutiara, Vidhia, Arni, dan Agung.
Ketua Tim Pengabdian Masyarakat FTUI, Dr.-Ing. Ova Candra Dewi, S.T., M.Sc., menegaskan bahwa dukungan pendanaan Hibah Pengabdian Masyarakat Skema Prestisius dari Direktorat Pengabdian Masyarakat dan Inovasi Sosial (DPIS) UI merupakan wujud nyata kontribusi kampus dalam menyelesaikan permasalahan riil di masyarakat.
“Melalui dukungan Hibah Pengabdian Masyarakat ini, kami berkomitmen agar Program JAWARA tidak berhenti pada kajian akademis semata. Kami ingin memastikan intervensi yang dilakukan berbasis ilmu pengetahuan dan tepat sasaran, sehingga dapat memberikan solusi jangka panjang yang aplikatif bagi warga,” ujar Ova.
Dalam forum tersebut, tim FTUI memperkenalkan konsep Water Sensitive Urban Design (WSUD), yakni pendekatan perancangan kawasan yang mengintegrasikan tata kelola air secara berkelanjutan.
Limpasan air hujan diarahkan agar dapat meresap maksimal ke dalam tanah sekaligus memulihkan cadangan air tanah. Rencana pengadaan lubang biopori, sumur resapan, hingga penampung air hujan disusun melalui metode perancangan bersama (co-design) dengan masyarakat, sebelum nantinya dievaluasi menggunakan simulasi komputasi untuk memastikan efektivitas kinerjanya.
“Kami tidak ingin solusi yang dirumuskan hanya bersifat top-down. Melalui FGD ini, kami memastikan bahwa setiap rencana intervensi benar-benar menjawab kebutuhan riil warga di lapangan,” jelas Coriesta.
Diskusi berlangsung interaktif saat warga memaparkan berbagai kendala fisik di lingkungan permukiman. Salah satu tantangan utama adalah masifnya penutupan permukaan tanah oleh semen dan aspal pada jalan lingkungan maupun pekarangan, sehingga ruang terbuka untuk resapan air semakin sempit.
Selain itu, fasilitas biopori yang telah terpasang sebelumnya kerap tidak berfungsi karena tertutup endapan lumpur dan sampah pascabanjir.
Di sisi lain, warga yang bermukim di sepanjang sempadan kali menyoroti tingginya risiko erosi tebing akibat derasnya arus luapan Sungai Ciliwung. Warga mendesak perlunya penguatan fisik di tepi sungai.
“Warga sangat membutuhkan pembangunan tanggul atau fondasi penahan longsor, serta penanaman vegetasi berakar kuat di pinggir sungai,” ungkap salah seorang perwakilan warga dalam forum tersebut.
Merespons masukan warga, perwakilan Pemerintah Kota Depok, Ronald, menekankan bahwa penanganan banjir di kawasan ini harus memperhitungkan karakteristik Daerah Aliran Sungai (DAS) Ciliwung secara menyeluruh.
Menanggapi usulan pembangunan tanggul untuk menahan limpasan hulu, ia menilai perlunya kajian struktur tebing dan daya dukung tanah. Demikian pula halnya dengan penetapan titik biopori dan sumur resapan baru, yang wajib mempertimbangkan daya serap tanah agar sarana yang dibangun dapat berfungsi optimal.
Sebagai tindak lanjut dari FGD ini, tim FTUI bersama warga dan pemerintah daerah akan memetakan sisa lahan kosong yang berpotensi dimanfaatkan sebagai fasilitas resapan terpadu.
Tim juga akan menyusun kajian teknis terkait penanganan erosi lereng sungai serta merumuskan pengadaan sarana pembersih lumpur pascabanjir yang disertai pendampingan berkala.
Melalui program JAWARA, FTUI mengupayakan mitigasi banjir dengan memadukan kajian hidrologi komputasional, partisipasi aktif warga, serta kebijakan lingkungan pemerintah setempat guna mewujudkan kawasan hunian yang tangguh terhadap bencana luapan air.


