Jabaran.id – Purnomo Dono Ismawan resmi menyerahkan tongkat estafet Kepala SMPN 11 Depok kepada Agus Prasetyo, yang sebelumnya menjabat sebagai Kepala SMPN 30 Depok. Pergantian ini menandai babak baru bagi SMPN 11 Depok yang saat ini menaungi 1.581 siswa.
Acara lepas sambut tersebut bukan sekadar seremonial rutin, melainkan menjadi momentum refleksi bagi dunia pendidikan di Kota Depok. Purnomo Dono Ismawan memasuki masa purnabakti setelah menyelesaikan periodisasi jabatannya, dan kini akan mengabdi sebagai guru di sekolah yang sama.

Purnomo Dono Ismawan mengungkapkan bahwa dirinya hanya tinggal menghitung bulan menuju masa pensiun. Meski akan melepas kursi kepemimpinan, semangatnya untuk dunia pendidikan tidak pernah padam. Ia berharap kepemimpinan baru dapat membawa angin segar bagi kemajuan SMPN 11 Depok.
“Ini menjelang sembilan bulan Purnomo menuju pensiun, yakni di Bulan November 2026. Dengan jiwa muda Agus, diharapkan bisa membawa perubahan yang jauh lebih baik untuk SMPN 11 Depok yang memiliki 1.581 siswa. Selalu silaturahmi, bersinergi untuk bisa mencapai solusi. Siapkan juga untuk akreditasi,” ujar Purnomo.
Lebih lanjut, pria yang telah mengabdikan dirinya puluhan tahun di dunia pendidikan ini menceritakan beberapa capaian selama masa kepemimpinannya. Ia menyebutkan bahwa sekolah memiliki program unggulan yang telah berjalan sejak lama dan terintegrasi dengan jenjang pendidikan lainnya. Menurutnya, regenerasi kepemimpinan adalah hal yang pasti terjadi, namun nilai-nilai perjuangan pendidik harus tetap lestari.

“Kelas olahraga sejak 2009 lalu ada marching band yang terintegrasi prestasi dari SDN Sukatani 4 dan juga SMAN 4 Depok. Kepemimpinan di sekolah pasti berganti, namun semangat mendidik tidak akan pernah berhenti, karena guru sejati adalah pembelajaran sampai mati,” tambahnya penuh makna.
Sementara itu, Agus Prasetyo mengaku siap mengemban amanat baru sebagai nahkoda di kapal besar bernama SMPN 11 Depok. Dengan jumlah siswa yang mencapai ribuan, ia menyadari tantangan yang dihadapi tidaklah ringan. Ia pun langsung merencanakan langkah strategis dengan melibatkan seluruh elemen sekolah.
“Ini sebuah amanah yang cukup berat, yakni membina dan mengelola yang luar biasa, yakni SMPN 11 Depok. Ini menjadi tugas untuk meningkatkan menjadi lebih baik. Tentunya nanti akan berkoordinasi dengan seluruh keluarga besar SMPN 11 Depok. Dengan adanya dukungan, akan bisa mencapai masa depan yang lebih baik,” ungkap Agus Prasetyo.
Ketua Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) SMP Kota Depok, Sumarno, turut memberikan pandangannya mengenai esensi kepemimpinan di lembaga pendidikan. Ia menekankan bahwa seorang pemimpin sekolah tidak cukup hanya mengandalkan kecerdasan akademik semata, tetapi harus dilandasi nilai-nilai luhur.
“Kepemimpinan bukan hanya dari kecerdasan nilai. Seorang pemimpin itu dilandasi oleh keikhlasan, integritas, rendah hati, dan cinta. Pemimpin adalah seorang arsitek apa yang dipimpinnya. Selalu membuat perubahan yang lebih baik lagi, dari segi fasilitas dan sarana penunjang lainnya,” papar Sumarno.

Puncak acara lepas sambut dihadiri oleh Kepala Dinas Pendidikan Kota Depok, Wahid Suryono, yang memberikan arahan strategis bagi pejabat baru maupun lama. Ia mengingatkan bahwa setiap masa kepemimpinan memiliki tantangan tersendiri yang harus dihadapi dengan adaptasi dan kebijaksanaan.
“Sejarah adalah bagian yang sangat penting. Semua orang yang sampai pada titik ini tentunya dari apa yang sudah dijalani dengan berbagai orang di sekitarnya. Setiap masa ada jaman-nya, sebagai manusia tidak bisa menolak hal tersebut. Setiap karakter dari generasi berbeda-beda, tentu cara mendampinginya pun berbeda-beda untuk bisa mencapai tujuan yang sama,” jelas Wahid Suryono.
Kepala Dinas juga menyoroti tantangan ke depan yang dinilai akan semakin berat, terutama dalam sektor kependidikan. Ia menyebut bahwa guru menjadi faktor utama penentu keberhasilan siswa, sehingga pemenuhan jumlah dan kualitas guru harus menjadi prioritas. Selain itu, ia berpesan agar para pendidik dapat memahami karakter setiap pemimpin yang berbeda-beda demi terciptanya harmoni di lingkungan kerja.
“Tantangan ke depan akan lebih berat, salah satunya tantangan dari kependidikan, di mana guru-guru. Keberhasilan dan kesuksesan dalam belajar faktor utamanya adalah guru yang harus sesuai dengan jumlah kebutuhannya. Lalu setelah itu kualifikasi atau kompetensi gurunya. Setiap pemimpin memiliki karakter yang berbeda, jadi bisa dipahami oleh guru-gurunya,” pungkasnya. (*)
