Jabaran.id – Pemerintah Kota Depok bekerjasama dengan Ikatan Budaya Sunda (IBS) dan Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Bahasa Sunda tingkat SMP Kota Depok menggelar Malam Parahyangan (Mapay) Depok yang berlangsung meriah di Depok Open Space (DOS). Acara yang dibuka secara resmi oleh Wali Kota Depok, Supian Suri, ini menampilkan pagelaran wayang golek dan pemberian apresiasi kepada siswa yang menjadi juara Festival Tunas Bahasa Ibu (FTBI) 2025, sekaligus menjadi panggung bagi generasi muda untuk unjuk kebolehan.
Kepala Dinas Pendidikan Kota Depok, Siti Chaerijah, dalam kesempatan tersebut menegaskan bahwa FTBI bukanlah tujuan akhir, melainkan sebuah sarana strategis.

“FTBI bukan tujuan utama atau akhir, tetapi lebih kepada menumbuhkan rasa kecintaan terhadap bahasa Sunda,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa kegiatan ini merupakan bentuk perhatian nyata pemerintah. Oleh karena itu revitalisasi ini ada koordinasi antar pemerintah daerah. Harus terus memperkenalkan kepada anak anak.
“Pentingnya pendekatan berkelanjutan dan terintegrasi untuk memastikan bahasa ibu tidak tergerus zaman,” jelas Siti.

Gelaran Mapay Depok kali ini menjadi istimewa dengan kehadiran Dalang ternama, Deden Komara Hudaya, yang memukau penonton dengan pagelaran wayang golek. Namun, yang tak kalah menarik adalah penampilan teatrikal yang dibawakan oleh para siswa berprestasi.
Koordinator Kesenian Panca Waluya Longser Sunda, Anita Rohani memaparkan sebuah pertunjukan unik yang lahir dari kreasi siswa.
“Dalam kegiatan tersebut ada penampilan Kesenian Panca Waluya Longser Sunda yang dibawakan oleh siswa-siswa SMP yang menjadi juara di Festival Tunas Bahasa Ibu (FTBI) tahun 2025,” kata Anita.

Lebih lanjut, Anita menjelaskan penampilan tersebut menceritakan ada sebuah sekolah yang bernama SMP Welas Asih yang sedang sibuk mempersiapkan peresmian Gerakan Toilet Layak (Getol). Semua siswa dan guru dituntut untuk penjelasan-penjelasan terbaik. Konflik pun muncul ketika persiapan telah maksimal.
“Namun, ketika persiapan udah maksimal, tiba-tiba malam hari ada sosok Sandekala yang mengacak-acak sekolah dan menampakan wujudkan yang misterius,” terangnya.

Figur mistis Sandekala dalam cerita itu justru menjadi perantara pesan kebijaksanaan. Pertunjukan ini merupakan bukti nyata bagaimana bahasa Sunda tidak hanya diajarkan, tetapi juga dihidupkan dalam narasi kontemporer yang relevan dengan kehidupan siswa, menyelipkan edukasi tentang kebersihan dan tanggung jawab melalui medium budaya.
“Dia menyampaikan pesan dalam aksara Sunda tentang persyaratan yang harus dilaksankaan oleh seluruh siswa agar Sandekala tidak mengganggu lagi,” tambah Anita. (*)

