Jabaran.id – Gagasan bahwa satu hari di Bumi mungkin tidak selamanya berlangsung selama 24 jam bukanlah sekadar fiksi ilmiah. Para ilmuwan mengonfirmasi bahwa fenomena ini memang sedang terjadi, dengan rotasi planet Bumi yang terus mengalami perlambatan dalam rentang waktu yang sangat panjang.
Proses perlambatan rotasi Bumi ini berarti bahwa hari-hari di planet kita akan menjadi lebih panjang, meskipun perubahan tersebut berlangsung sangat lambat sehingga tidak dapat dirasakan atau berdampak langsung pada kehidupan manusia sehari-hari dalam skala waktu manusia.
Perubahan signifikan ke arah hari yang lebih panjang akan memakan waktu ratusan juta tahun untuk terjadi, sehingga tidak akan memengaruhi sistem penanggalan, jam, atau kalender yang digunakan saat ini.
Secara ilmiah, perlambatan rotasi Bumi terutama disebabkan oleh gesekan pasang surut dari Bulan. Gaya gravitasi Bulan terhadap lautan Bumi menciptakan gesekan yang bertindak sebagai rem, yang secara bertahap memperlambat putaran planet sekaligus mendorong orbit Bulan semakin jauh. Efek kumulatif ini memperpanjang hari Bumi sekitar 1,7 milidetik per abad.
Berdasarkan tren ini, ilmuwan memproyeksikan bahwa satu hari di Bumi pada akhirnya akan berlangsung selama 25 jam, tetapi perubahan sebesar itu tidak diperkirakan akan terjadi setidaknya dalam waktu sekitar 200 juta tahun lagi.
Selain pengaruh Bulan, perlambatan rotasi Bumi juga dipengaruhi oleh kombinasi faktor geofisika dan atmosfer yang kompleks. Pergerakan besi cair di inti luar Bumi dan perubahan di lapisan mantel dapat mendistribusikan ulang massa planet, secara halus mengubah kecepatan rotasinya. Redistribusi massa akibat pencairan gletser atau penumpukan es, serta perubahan permukaan laut, juga memberikan dampak yang kecil namun terukur.
Di lapisan terluar, pola angin skala besar dan sistem iklim berinteraksi dengan permukaan planet, saling mempertukarkan momentum sudut yang dapat memengaruhi kecepatan putaran Bumi dalam fluktuasi jangka pendek.
Akumulasi dari gaya-gaya ini selama miliaran tahun telah secara bertahap mengubah panjang hari Bumi. Bukti ilmiah menunjukkan bahwa pada era dinosaurus, satu hari di Bumi hanya berlangsung sekitar 23 jam.
Perpanjangan hari yang terus berlanjut menimbulkan pertanyaan hipotetis mengenai dampaknya terhadap sistem biologis.
Hampir semua makhluk hidup di Bumi, termasuk manusia, beroperasi berdasarkan ritme sirkadian internal yang diselaraskan dengan siklus 24 jam. Ritme ini mengatur pola tidur, pelepasan hormon, suhu tubuh, dan berbagai fungsi biologis lainnya.
Penelitian dalam bidang kronobiologi telah menunjukkan bahwa gangguan terhadap jam internal ini, seperti yang dialami oleh pekerja shift malam, orang dengan jet lag berat, atau individu dengan pola tidur yang tidak konsisten, dapat dikaitkan dengan peningkatan risiko gangguan metabolisme, masalah suasana hati, dan kondisi terkait kesehatan kardiovaskular.
Secara hipotetis, jika satu hari tiba-tiba menjadi 25 jam, sistem penanggalan manusia dan jam biologis makhluk hidup akan menghadapi tantangan penyesuaian.
Namun, dalam skenario perubahan panjang hari yang sangat bertahap selama jutaan tahun, seperti yang sedang terjadi, ilmuwan memperkirakan bahwa organisme hidup kemungkinan besar akan beradaptasi melalui perubahan evolusioner yang bertahap, meskipun proses adaptasi tersebut akan berlangsung lambat dan menantang. (*)
