Jabaran.id – Peringatan Hari Kartini di SMPN 29 Depok tahun ini berlangsung dengan semarak melalui serangkaian kegiatan edukatif dan kreatif yang melibatkan seluruh elemen sekolah. Perayaan ini tidak hanya menjadi ajang seremonial tahunan, namun juga menjadi momentum penting bagi para siswa dan tenaga pendidik untuk merefleksikan kembali nilai-nilai perjuangan Raden Ajeng Kartini dalam konteks pendidikan modern.
Kegiatan yang mencakup peragaan busana, perlombaan literasi, hingga keterampilan praktis ini dirancang untuk menggali bakat terpendam serta menanamkan rasa percaya diri kepada seluruh peserta didik.

Wakil Kesiswaan SMPN 29 Depok, Eka Mewarisi Hutapea, menjelaskan bahwa agenda hari ini dipadati dengan berbagai mata lomba yang kompetitif. Salah satu daya tarik utama adalah peragaan busana atau fashion show yang diikuti oleh perwakilan guru dan siswa. Untuk kategori siswa, terdapat 25 peserta yang tampil di atas panggung dengan mengenakan pakaian adat dari berbagai daerah di Indonesia. Pemilihan baju daerah ini dilakukan melalui sistem undian guna memastikan keragaman budaya Nusantara terepresentasi dengan baik.
“Selain itu, seluruh siswa yang tidak mengikuti lomba fashion show juga tetap disarankan mengenakan baju adat sebagai bentuk apresiasi terhadap kekayaan budaya bangsa,” jelasnya.
Eka Mewarisi Hutapea menambahkan bahwa kemeriahan tidak berhenti pada panggung busana semata. Sekolah juga menyelenggarakan lomba memasak nasi goreng antar kelas yang menuntut kerja sama tim dan kreativitas dalam penyajian kuliner. Dalam bidang literasi dan seni, para siswa berkompetisi melalui lomba menulis esai, pembuatan poster, serta lomba membaca puisi yang diwakili oleh masing-masing kelas.
“Setiap mata lomba akan memperebutkan gelar juara satu hingga tiga sebagai bentuk apresiasi atas dedikasi dan karya terbaik yang telah ditampilkan oleh para siswa selama kegiatan berlangsung,” ucap Eka.
Kepala SMPN 29 Depok, Eriyasti, memberikan penekanan mendalam mengenai esensi dari seluruh rangkaian kegiatan ini. Menurutnya, peringatan Hari Kartini harus dimaknai lebih jauh dari sekadar penggunaan pakaian tradisional. Hal yang paling fundamental adalah bagaimana nilai-nilai Kartini bertransformasi menjadi tindakan nyata dalam kehidupan sehari-hari, terutama dalam hal pengembangan kualitas diri tanpa memandang gender. Pendidikan menjadi fondasi utama bagi perempuan untuk berdiri tegak dan berkontribusi secara signifikan di berbagai sektor kehidupan.

“Bukan hanya tentang pakaiannya saja, tetapi lebih kepada tentang jadi perempuan yang bisa berbuat baik dan bisa memanfaatkan potensi di dalam dirinya. Karena semua manusia adalah sama. Jadi perempuan bisa menjadi apa saja,” ujar Eriyasti.
Ia juga menambahkan bahwa kesetaraan akses terhadap pendidikan dan peluang karier merupakan fakta sejarah yang diperjuangkan Kartini agar setiap individu memiliki hak yang sama untuk berkembang. Fenomena saat ini menunjukkan bahwa perempuan telah banyak mengisi posisi strategis di berbagai bidang, mulai dari sains, teknologi, hingga kepemimpinan publik, yang membuktikan bahwa batasan-batasan gender semakin terkikis oleh kompetensi.
Lebih lanjut, Eriyasti berpesan agar seluruh siswa, khususnya siswa laki-laki, dapat membangun ekosistem sosial yang inklusif dan saling menghargai. Kesadaran akan pentingnya menghormati hak-hak perempuan dan mengakui prestasi mereka adalah bagian dari karakter siswa hebat yang ingin dicetak oleh SMPN 29 Depok. Dengan menghargai keberagaman bakat, maka potensi besar yang dimiliki oleh setiap siswa perempuan dapat tersalurkan dengan optimal demi kemajuan bangsa di masa depan.
“Lalu untuk siswa yang perempuan harus bisa menghargai perempuan dengan segala potensi dan bakat yang dimilikinya,” pungkas Eriyasti. (*)
