Jabaran.id – Momen Idul Adha 1447 Hijriyah atau tahun 2026 Masehi di SMPN 2 Depok diadakan kegiatan pemotongan hewan kurban yang melibatkan seluruh warga sekolah, mulai dari guru, karyawan, hingga siswa.
Pantauan di lokasi menunjukkan, antusiasme peserta kurban tahun ini cukup tinggi. Total terdapat tiga ekor sapi dan tujuh ekor kambing yang disembelih dalam rangkaian ibadah kurban tersebut. Ketua panitia pemotongan hewan kurban di SMPN 2 Depok, Bambang, menjelaskan bahwa hewan-hewan tersebut merupakan titipan dari warga sekolah.

“Hewan kurban kali ini semuanya dari warga SMPN 2 Depok yang mempercayakan kepada panitia untuk disembelih. Total ada tiga sapi dan tujuh kambing,” ujar Bambang saat ditemui di lokasi penyembelihan.
Lebih lanjut, Bambang merinci bahwa dari total hewan kurban tersebut, terkumpul 350 bungkus daging yang siap dibagikan. Menurutnya, jumlah ini meningkat dibandingkan tahun sebelumnya meskipun tidak disebutkan secara rinci angka perbandingannya.
“Dari pemotongan ini, alhamdulillah kami mendapatkan 350 bungkus daging. Ini semua akan kami distribusikan kepada siswa dan masyarakat sekitar sekolah,” tambah Bambang.
Bambang juga menambahkan fakta penting bahwa proses pemotongan hewan kurban di sekolah ini selalu melibatkan siswa sebagai bentuk pendidikan karakter.
“Kami libatkan anak-anak untuk melihat langsung proses penyembelihan yang sesuai syariat. Ini pengalaman berharga bagi mereka, karena tidak semua anak mendapat kesempatan melihat langsung kurban dari awal hingga pembagian daging,” jelasnya.

Sementara itu, Kepala SMPN 2 Depok, Sumarno, menegaskan bahwa kegiatan ini bukanlah acara seremonial semata, melainkan program rutin tahunan yang sudah mengakar di sekolah.
“Ini adalah kegiatan rutin yang dilakukan warga SMPN 2 Depok di momen Idul Adha. Kami menjadikannya sebagai kegiatan keagamaan untuk saling peduli terhadap orang lain,” kata Sumarno dengan tegas.
Sumarno menjelaskan lebih komprehensif bahwa kurban di lingkungan sekolah memiliki nilai lebih dibandingkan pelaksanaan di luar. Menurutnya, selain menjalankan perintah agama, kegiatan ini menjadi media pembelajaran sosial bagi siswa.
“Anak-anak tidak hanya belajar teori tentang ibadah kurban di dalam kelas, tapi mereka melihat praktik nyata bagaimana berbagi dengan sesama. Daging kurban kami bagikan tidak hanya kepada siswa yang kurang mampu, tetapi juga kepada warga sekitar sekolah yang membutuhkan,” paparnya.
Ia berharap tradisi kurban di lingkungan sekolah dapat terus berlanjut dan bahkan menginspirasi sekolah-sekolah lain.
“Kami ingin menanamkan bahwa peduli terhadap sesama tidak harus menunggu kaya raya. Di sini, guru dan karyawan juga patungan membeli kambing. Itu bukti bahwa kebersamaan dalam kebaikan itu indah,” tutup Sumarno. (*)
