HomePendidikanEdukasi Kesehatan Reproduksi di SMP YAPKUM Depok, Tim FK UPNVJ Bentuk Kader...

Edukasi Kesehatan Reproduksi di SMP YAPKUM Depok, Tim FK UPNVJ Bentuk Kader REPRO-HERO

Jabaran.id — Tim Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Fakultas Kedokteran Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta (FK UPNVJ) menggelar program edukasi kesehatan reproduksi di SMP Islam YAPKUM, Limo, Kota Depok, Rabu, 22 Juli 2026.

Kegiatan ini menyasar para siswa yang berada pada masa transisi pubertas untuk meningkatkan literasi kesehatan organ reproduksi sekaligus mematahkan stigma tabu yang selama ini menyelimuti isu tersebut.

Adapun PKM ini diketuai oleh Yosha Putri Wahyuni, M.Biomed., dengan anggota dr. Isniani Ramdhani, M.H., Nasihin Saud Irsyad, S.Si, M.Biomed., Dara Juliana, M.Si., dr. Dian Ekayanti A., M.Biomed., dan Titik Yudiyanti, S.T.

- Advertisement -

Selain itu, PKM ini juga melibatkan. Mahasiswa fakultas kedokteran, yakni Dimas Alif Hartono, Muhammad Aghna Nabil, Cakra Widya Amarta dan Ibtisam Khansa Abida Handoyodisumo.

Ketua Tim PKM FK UPNVJ, Yosha Putri Wahyuni, M. Biomed, menjelaskan bahwa pembekalan ini sangat krusial mengingat masa remaja pada rentang usia 10–19 tahun merupakan fase perubahan fisik, hormonal, dan psikologis yang signifikan. Langkah edukatif ini juga menjadi bagian dari investasi kesehatan jangka panjang untuk mencetak generasi penerus yang unggul menuju Visi Indonesia Emas 2045.

“Topik kesehatan reproduksi di Indonesia masih sering dianggap tabu dan sensitif untuk dibicarakan, baik di lingkungan keluarga maupun institusi pendidikan formal. Kesenjangan informasi ini memaksa remaja mencari jawaban secara mandiri melalui internet dan media sosial tanpa filter medis yang benar, sehingga rentan terpapar misinformasi,” ujar Yosha.

Berdasarkan hasil observasi dan wawancara awal di lapangan, lanjut Yosha, para siswa di SMP Islam YAPKUM belum pernah menerima penyuluhan kesehatan reproduksi terstruktur, baik dari pihak internal sekolah maupun Puskesmas setempat. Pembahasan mengenai anatomi tubuh, menstruasi, hingga keputihan masih dibayangi rasa malu. Selain itu, pemahaman mengenai manajemen kebersihan serta tindakan pencegahan penyakit melalui metode Periksa Payudara Sendiri (SADARI) tergolong amat minim.

“Minimnya pengetahuan tentang manajemen kebersihan menstruasi dan ketidakmampuan membedakan keputihan fisiologis dengan patologis dapat meningkatkan risiko infeksi saluran reproduksi pada remaja putri. Selain itu, anggapan keliru bahwa kanker payudara hanya menyerang usia dewasa harus diluruskan. Pembiasaan SADARI sejak usia SMP merupakan langkah preventif yang tidak boleh ditunda, mengingat tren temuan tumor payudara kini mulai mengintai usia yang semakin muda,” tegasnya.

Melihat kondisi demografis Kota Depok sebagai salah satu wilayah dengan populasi remaja yang cukup tinggi di Jawa Barat, tim FK UPNVJ mengintervensi persoalan ini melalui program inovatif bertajuk REPRO-HERO. Ia menjelaskan, filosofi REPRO-HERO mencakup empat pilar utama, yakni Healthy (sehat dan bebas infeksi), Educated (teredukasi secara ilmiah), Responsive (tanggap melakukan deteksi dini SADARI), dan Organized (terorganisir dalam wadah kelompok sebaya).

“Program ini tidak hanya berfokus pada penyampaian materi satu arah, tetapi juga membentuk Kelompok Teman Sebaya (Peer Group) yang terlatih di dalam lingkungan sekolah,” jelas Yosha.

Menurut Yosha, secara psikologis, anak usia remaja jauh lebih nyaman dan terbuka untuk saling berdiskusi dengan rekan sebayanya ketimbang kepada guru atau orang tua. Namun, tanpa pembekalan ilmu yang tepat, kelompok pertemanan justru berisiko menjadi sumber penyebaran mitos.

“Oleh karena itu, melalui seleksi kepemimpinan dan pelatihan intensif Training of Trainers, kami mencetak kader siswa sebagai ‘Pahlawan Reproduksi’ atau HERO yang dibekali modul panduan khusus bernama HERO-Book,” terang Yosha.

Yosha menguraikan, rangkaian program pengabdian ini dilaksanakan secara komprehensif melalui tiga tahapan utama, yakni tahap pertama dimulai dengan perencanaan, koordinasi, serta penyusunan media edukasi dan alat peraga manekin anatomi, kemudian tahap kedua mencakup pelaksanaan edukasi interaktif, pengisian pre-test, praktik langsung kebersihan organ intim, simulasi SADARI, hingga rekrutmen dan pelatihan kader HERO.

Sedangkan, tahap ketiga diakhiri dengan pendampingan berkelanjutan, monitoring, serta evaluasi melalui post-test untuk mengukur sejauh mana peningkatan pemahaman siswa.

“Melalui skema ini, kader REPRO-HERO di SMP Islam YAPKUM diharapkan dapat terus menjalankan perannya secara mandiri sebagai pahlawan literasi kesehatan reproduksi yang akurat dan suportif bagi teman-teman sebayanya,” ucap Yosha.

TERBARU

spot_img
spot_img

POPULER

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here