HomePendidikanGelar Karya Kokulikuler SDN Mekarjaya 21: Ada Tiga Fase, Kolaborasi dengan Mahasiswa...

Gelar Karya Kokulikuler SDN Mekarjaya 21: Ada Tiga Fase, Kolaborasi dengan Mahasiswa UI dan Hyundai Jump School

Jabaran.id – Sebanyak enam jenjang kelas di SDN Mekarjaya 21 secara serentak menggelar pameran hasil belajar dalam sebuah kegiatan bertajuk Gelar Karya Kokurikuler. Kegiatan yang merupakan puncak dari pembinaan selama tiga minggu ini, tidak hanya menampilkan karya siswa, tetapi juga dirancang dengan struktur bertahap yang disesuaikan dengan tingkat perkembangan kognitif anak, mulai dari kelas I hingga VI.

Kepala SDN Mekarjaya 21, Eko Agusnehing Purwaningsih menjelaskan, tema yang diusung dalam kegiatan ini adalah ‘jaga semangat belajar literasi dan numerasi untuk memulai masa depan yang cerah’. Gelar karya ini menjadi ajang unjuk kreativitas sekaligus bukti bahwa proses belajar berbasis proyek dapat dijalankan secara lintas disiplin ilmu.

Kokulikuler SDN Mekarjaya 21 c

Eko mengatakan, kegiatan ini sengaja dibagi menjadi tiga fase agar setiap kelompok usia mendapatkan pengalaman belajar yang tepat sasaran.

- Advertisement -

“Kegiatan ini dibagi menjadi tiga fase, yakni fase A untuk siswa kelas I dan II, fase B untuk siswa kelas III dan IV, lalu fase C untuk siswa kelas V dan VI. Siswa menampilkan karya karyanya, yang tentu saja tingkat kesulitan dan tujuan dari karya tersebut disesuaikan dengan tingkat kelasnya,” ujar Eko.

Lebih lanjut, Eko menjelaskan bahwa fase A dirancang khusus untuk pengenalan dasar angka dan huruf. Pada tahap ini, siswa kelas awal diajak untuk mengenali simbol-simbol numerasi dan literasi melalui media yang menarik dan menyenangkan, sehingga fondasi belajar mereka terbangun dengan kuat sejak dini.

“Fase A berkaitan dengan pengenalan angka dan huruf. Ini adalah fondasi yang tidak boleh terlewatkan,” tambah Eko.

Memasuki fase B yang mencakup kelas III dan IV, tingkat kesulitan karya mulai ditingkatkan. Para siswa di fase ini tidak hanya mengenali, tetapi sudah mulai menciptakan alat bantu belajar mereka sendiri. Dua karya unggulan dari fase B adalah roda literasi dan pohon numerasi.

Kokulikuler SDN Mekarjaya 21 a

Sementara itu, fase C untuk kelas V dan VI mendapatkan porsi istimewa. Pada fase ini, SDN Mekarjaya 21 menjalin kerja sama dengan Hyundai Jump School serta melibatkan mahasiswa Universitas Indonesia (UI) sebagai mentor pendamping. Kolaborasi ini difokuskan pada pendampingan literasi dan numerasi tingkat lanjut.

Fase C juga memproduksi majalah digital dan majalah secara fisik bernama Mekarita, singkatan dari ‘Mekarjaya bercerita’. Majalah ini berisikan berbagai karya orisinal siswa, mulai dari poster, puisi, cerpen, hingga pantun.

“Mekarita (Mekarjaya bercerita) yakni majalah digital, yang berisikan karya siswa, poster, puisi, cerpen, pantun. Lalu membuat tangga literasi dan numerasi,” tambah Eko.

Gelar karya ini tidak berlangsung instan. Eko menjelaskan bahwa seluruh rangkaian kegiatan dijalankan selama tiga minggu penuh dengan tahapan yang sistematis.

“Kegiatannya selama tiga minggu, yakni mulai diberikan materi-materi, produksi, dan akhirnya pameran,” ungkap Eko.

Proses panjang ini, menurut Eko, dirancang untuk mengakomodasi delapan dimensi kelulusan. Gelar karya kokurikuler menjadi sarana efektif untuk mengukur ketercapaian dimensi-dimensi tersebut, karena siswa tidak hanya diuji secara kognitif tetapi juga afektif dan psikomotorik.

“Ini berkaitan dengan delapan dimensi lulusan. Peran kokurikuler untuk mencapai delapan dimensi, bisa dengan lintas disiplin yakni kolaborasi mata pelajaran dan juga G7KI,” jelas Eko memberikan fakta bahwa pendekatan lintas disiplin dan kolaborasi antarmata pelajaran menjadi strategi utama dalam kegiatan ini.

Eko juga menambahkan bahwa keterlibatan Gerakan 7 Kebiasaan Indonesia (G7KI) dalam kegiatan ini menjadi nilai tambah. Sinergi antara kokurikuler, kolaborasi mata pelajaran, dan pembiasaan karakter melalui G7KI menciptakan ekosistem belajar yang holistik.

“Dengan lintas disiplin, anak-anak belajar bahwa literasi dan numerasi tidak hanya muncul di pelajaran Bahasa Indonesia dan Matematika, tetapi juga di Seni Budaya, di PKn, bahkan di Pendidikan Jasmani. Semua terintegrasi,” pungkas Eko. (*)

TERBARU

spot_img

POPULER

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here