Jabaran.id – Pernahkah kamu berpikir bahwa keputusan yang kamu ambil hari ini bisa memengaruhi kemampuanmu memiliki anak di masa depan? Bagi banyak remaja, kesuburan mungkin terasa seperti hal yang sangat jauh. Padahal, justru masa remaja adalah periode paling penting untuk menjaga kesehatan reproduksi.
Tubuhmu sedang berkembang, termasuk organ reproduksi. Apa yang kamu lakukan sekarang— cara kamu menjaga diri, memilih pergaulan, dan bersikap terhadap seksualitas—akan meninggalkan dampak jangka panjang. Tidak sedikit orang dewasa yang baru menyadari pentingnya kesehatan reproduksi ketika mereka kesulitan memiliki anak. Sayangnya, pada saat itu, kerusakan sering kali sudah terjadi.
Seks Bukan Sekadar Soal “Berani atau Tidak”
Di era media sosial dan internet, informasi tentang seks sangat mudah diakses. Namun, tidak semua informasi itu benar. Banyak remaja mengira perilaku seksual berisiko hanya soal moral atau aturan orang tua. Padahal, dari sudut pandang medis, perilaku seksual berisiko adalah ancaman nyata bagi kesehatan tubuhmu sendiri.
Perilaku seksual berisiko mencakup hubungan seksual tanpa pengaman, berganti-ganti pasangan, memulai aktivitas seksual terlalu dini, serta tidak memahami risiko penyakit menular seksual. Semua ini bukan hanya berisiko hari ini, tetapi juga bisa merusak masa depanmu secara permanen.
Tubuh Remaja Masih “Dalam Proses Jadi”
Secara biologis, organ reproduksi remaja belum sepenuhnya matang. Pada perempuan, leher rahim dan saluran reproduksi masih sangat rentan terhadap infeksi. Pada laki-laki, sistem produksi sperma dan keseimbangan hormon masih berkembang.
Ketika infeksi menular seksual masuk pada fase ini, dampaknya bisa lebih berat dibandingkan pada orang dewasa. Banyak penyakit menular seksual tidak menimbulkan gejala. Kamu bisa terlihat sehat, tetapi sebenarnya kerusakan sedang terjadi di dalam tubuhmu tanpa kamu sadari.
Dampaknya bagi Remaja Perempuan
Pada remaja perempuan, infeksi seperti klamidia dan gonore bisa menyebabkan peradangan pada saluran reproduksi. Jika tidak diobati, infeksi ini dapat menyebar ke rahim dan tuba falopi. Akibatnya, saluran tempat sel telur bertemu sperma bisa rusak atau tersumbat.
Kerusakan ini sering kali baru diketahui bertahun-tahun kemudian, saat seorang perempuan ingin hamil tetapi tidak berhasil. Banyak kasus infertilitas pada perempuan dewasa ternyata berakar dari infeksi yang didapat sejak remaja.
Kehamilan di usia remaja juga bukan solusi. Justru kehamilan saat tubuh belum siap bisa meningkatkan risiko gangguan hormonal, komplikasi kehamilan, dan masalah reproduksi jangka panjang. Belum lagi masalah psikologis dan social yang tidak mudah untuk diatasi
Dampaknya bagi Remaja Laki-Laki
Remaja laki-laki sering merasa tubuhnya lebih “kuat” dan aman dari risiko. Faktanya, infeksi menular seksual juga bisa merusak sistem reproduksi pria. Peradangan pada saluran sperma dan testis dapat menurunkan kualitas sperma secara permanen.
Selain itu, perilaku seksual berisiko sering berkaitan dengan kebiasaan lain seperti merokok, konsumsi alkohol, dan penggunaan zat adiktif. Semua ini terbukti secara ilmiah menurunkan jumlah, bentuk, dan pergerakan sperma. Artinya, pilihan gaya hidup remaja laki-laki sangat menentukan kesuburannya kelak.
Otak Remaja dan Keputusan Impulsif
Ilmu kedokteran modern menjelaskan bahwa otak remaja—terutama bagian yang mengatur pengambilan keputusan—belum berkembang sempurna. Inilah sebabnya remaja cenderung bertindak impulsif dan kurang memikirkan konsekuensi jangka panjang.
Ini bukan kelemahan, tetapi fakta biologis. Justru karena itu, remaja membutuhkan informasi yang benar dan jujur, bukan sekadar larangan. Memahami risiko secara ilmiah membantu kamu membuat keputusan yang lebih cerdas untuk dirimu sendiri.
Kesuburan Bukan Masalah “Nanti Saja”
Saat ini, semakin banyak pasangan dewasa yang mengalami kesulitan memiliki anak. Infertilitas bukan lagi masalah langka. Banyak penelitian menunjukkan bahwa gaya hidup dan kesehatan reproduksi sejak remaja berperan besar dalam kondisi ini.
Artinya, menjaga diri sekarang bukan berarti kamu “ketinggalan zaman” atau “tidak gaul”. Justru sebaliknya, itu adalah tanda bahwa kamu peduli pada masa depanmu dan berani bertanggung jawab atas tubuhmu sendiri.
Menjaga Diri Adalah Bentuk Menghargai Diri
Menghindari perilaku seksual berisiko bukan berarti anti terhadap seksualitas. Ini berarti kamu memahami bahwa tubuhmu berharga. Kamu berhak atas masa depan yang sehat, termasuk kesempatan untuk memiliki keluarga jika kelak kamu menginginkannya.
Bersikap bertanggung jawab terhadap seksualitas adalah tanda kedewasaan sejati. Remaja yang cerdas bukan yang mencoba segalanya, tetapi yang tahu kapan harus berkata “tidak” demi kebaikan dirinya sendiri.
Kesimpulan: Kamu Sedang Menentukan Masa Depanmu
Setiap pilihan yang kamu buat hari ini akan membentuk dirimu di masa depan. Kesuburan bukan hadiah yang otomatis ada, tetapi hasil dari bagaimana kamu menjaga tubuhmu sejak dini.
Menghindari perilaku seksual berisiko sejak remaja adalah keputusan berani, cerdas, dan penuh tanggung jawab. Itu bukan tentang menuruti aturan orang lain, tetapi tentang melindungi masa depanmu sendiri.
Ingat, tubuhmu adalah satu-satunya yang kamu miliki seumur hidup. Rawatlah sejak sekarang. (*)
Oleh : Adi Sukrisno. Fachri Razi
Departemen Obstetri dan Ginekologi
Fakultas Kedokteran UPN Veteran Jakarta
