HomeTriviaSaatnya Sekolah Menjadikan PBHS sebagai Budaya, Bukan Sekedar Kewajiban Regulasi

Saatnya Sekolah Menjadikan PBHS sebagai Budaya, Bukan Sekedar Kewajiban Regulasi

Di tengah berbagai tantangan kesehatan anak di Indonesia mulai dari diare, stunting, hingga rendahnya konsumsi makanan bergizi, sekolah sebenarnya memiliki peran yang sangat besar untuk membentuk perilaku hidup sehat sejak dini.

Sayangnya, praktik Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PBHS) di sekolah belum banyak diterapkan secara konsisten, padahal telah menjadi regulasi resmi melalui Permenkes serta tercantum sebagai indikator dalam akreditasi PAUD.

Sebagai akademisi yang berfokus pada kesehatan masyarakat, saya melihat masalah PBHS bukan semata soal fasilitas, tetapi soal budaya. Banyak sekolah memiliki lingkungan fisik yang cukup memadai: ruang kelas bersih, tempat cuci tangan tersedia, bahkan kantin telah memenuhi standar sehat. Namun, fasilitas tersebut sering tidak diiringi dengan pembiasaan perilaku yang kuat baik oleh siswa, guru, maupun orang tua.

Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) di sekolah mencakup sembilan indikator penting, yakni mencuci tangan dengan sabun, mengonsumsi jajanan sehat, menggunakan jamban bersih, berolahraga teratur, memberantas jentik nyamuk, tidak merokok di area sekolah, menimbang dan mengukur tinggi badan, membuang sampah pada tempatnya, serta menjaga kebersihan lingkungan sekolah secara keseluruhan.

- Advertisement -

Sembilan indikator ini mungkin terlihat sederhana, tetapi dampaknya sangat besar bagi pencegahan penyakit dan pembentukan karakter anak karena mampu mencegah berbagai penyakit infeksi yang saat ini masih mendominasi angka kesakitan anak di Indonesia.

Data Kementerian Kesehatan menunjukkan bahwa diare masih menjadi salah satu penyakit yang paling banyak dialami anak, terutama pada usia balita. Minimnya kebiasaan mencuci tangan dan konsumsi jajanan sembarangan adalah dua faktor yang paling sering berkontribusi.

Yang menjadi persoalan adalah, pembiasaan perilaku sehat pada anak usia dini sangat dipengaruhi oleh figur orang dewasa di sekitarnya. Anak akan meniru apa yang mereka lihat.

Maka guru menjadi role model utama di sekolah, jika guru terbiasa mengajak anak mencuci tangan sebelum makan, memastikan jajanan yang dipilih sehat, atau memberikan contoh membuang sampah dengan benar, maka pola itu akan tertanam lebih kuat dibanding sekadar slogan di poster.

Di sisi lain, orang tua juga memegang peran yang tidak kalah penting. Banyak anak memulai hari dengan kebiasaan yang dibangun di rumah, sehingga sinergi antara sekolah dan keluarga sangat menentukan keberhasilan implementasi PBHS. Ketika perilaku sehat di sekolah tidak diperkuat di rumah, maka anak cenderung kembali kepada kebiasaan lamanya.

Ke depan, sekolah perlu memandang PBHS sebagai bagian dari kurikulum karakter, bukan aktivitas insidental. Pembiasaan harus dimasukkan dalam rutinitas harian, bukan hanya proyek menjelang akreditasi. Pengawasan kantin, edukasi berkala, lingkungan sekolah bebas rokok, hingga kegiatan olahraga yang terstruktur harus menjadi standar minimal.

Pemerintah telah menyediakan regulasi, dokumen panduan, serta indikator yang jelas. Namun implementasinya membutuhkan komitmen bersama dan perubahan pola pikir. Sekolah sehat bukan tentang gedung megah, tapi tentang perilaku sehari-hari yang konsisten.

Jika PBHS mampu diterapkan sebagai budaya, maka kita sedang melakukan investasi besar untuk masa depan. Generasi yang terbiasa hidup bersih dan sehat sejak kecil akan tumbuh menjadi masyarakat yang lebih produktif, lebih sadar kesehatan, dan lebih mampu menghadapi tantangan kesehatan global.

PBHS bukan sekadar kewajiban administratif. Ia adalah fondasi kesehatan bangsa.

 

Oleh: Della Dwi Ayu, S.K.M., M.K.M.

Penulis merupakan Dosen Fakultas Kedokteran, UPN Veteran Jakarta

TERBARU

spot_img

POPULER

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here