Jabaran.id – Lahan kosong di lingkungan sekolah bukan lagi pemandangan biasa di SDN Mekarjaya 12. Area yang sebelumnya terbengkalai kini telah berubah menjadi kebun produktif yang tidak hanya menghijaukan lingkungan, tetapi juga menjadi laboratorium hidup bagi para siswa. Sekolah yang berlokasi di Jalan Danau Maninjau, Kelurahan Abadijaya, Kecamatan Sukmajaya, Kota Depok ini telah memanen hasil berkali-kali dari berbagai jenis tanaman, mulai dari sayuran hingga tanaman langka.
Kepala SDN Mekarjaya 12, Epon Sumiarsih, menjelaskan bahwa transformasi lahan ini merupakan bagian dari komitmen sekolah untuk pendidikan yang aplikatif dan berkelanjutan, dengan memanfaatkan lahan kosong di lingkungan sekolahnya untuk menjadi area perkebunan.

“Kegiatan ini memiliki dua manfaat utama, yaitu pemanfaatan lahan di sekolah menjadi hijau, serta bisa menjadi pembelajaran juga untuk siswa,” ujar Epon.
Sistem penanaman dilakukan secara bergantian setiap tiga atau empat bulan untuk menjaga kesuburan tanah dan memberikan variasi pengalaman belajar. Beberapa hasil panen yang telah dinikmati antara lain jagung hitam, kangkung, dan kacang tanah.
“Di kebun SDN Mekarjaya 12 tersebut, ditanam secara bergantian selama tiga atau empat bulan. Dimana sebelumnya pernah ditanam singkong, cabai, tomat, kemangi, terong, pare, dan berbagai jenis tanaman lainnya,” papar Epon.
Salah satu aspek unik dari kebun sekolah ini adalah keberadaan tanaman langka yang sengaja dilestarikan, yakni Hiris. Keberadaan Hiris, yang mungkin asing bagi generasi muda, menjadi sarana edukasi budaya dan biodiversity, mengajarkan siswa tentang kekayaan lokal yang perlu dijaga.

“Bahkan ada juga tanaman langka yang biasanya orang Sunda tahu, yakni Hiris,” jelas Epon Sumiarsih.
Proses pembelajaran di kebun dirancang agar siswa terlibat secara langsung dan menyeluruh. Melalui pendekatan ini, siswa tidak hanya memahami teori biologi atau pertanian, tetapi juga nilai-nilai kesabaran, tanggung jawab, dan kerja sama.
“Siswa jadi praktik secara langsung melihat kebun sekolah yang kaya akan manfaat. Siswa bisa melihat prosesnya, dari mulai awal tanam, sampai akhirnya panen,” jelas Epon.
Hasil dari jerih payah bersama ini pun dinikmati secara luas oleh komunitas sekolah dan sekitarnya, memperkuat hubungan sosial. Praktik ini mengajarkan kepada siswa tentang berbagi dan keberlanjutan, di mana hasil bumi tidak hanya untuk konsumsi sendiri tetapi juga untuk kebahagiaan bersama.
“Hasil panennya tentu bisa dirasakan semua warga sekolah, dengan makan Bersama atau dibagikan ke lingkungan sekitar,” tutur Kepala Sekolah.
Inisiatif SDN Mekarjaya 12 ini menunjukkan bagaimana sumber daya terbatas di lingkungan sekolah dapat dioptimalkan untuk menciptakan nilai edukatif, ekologis, dan sosial yang nyata.
“Program kebun sekolah menjadi bukti bahwa pembelajaran kontekstual yang menyentuh aspek lingkungan, budaya, dan kehidupan masyarakat dapat tumbuh subur di lahan Pendidikan,” katanya. (*)
