Jabaran.id – SMPN 20 Depok menyelenggarakan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) 2025 dengan tidak hanya melibatkan guru, kegiatan ini juga menghadirkan narasumber dari lembaga psikologi Impresia dan Polres Depok untuk memberikan pembekalan mendalam kepada 216 siswa kelas VII untuk tahun pelajaran 2025/2026.
Kepala SMPN 20 Depok, Tuti Alawiyah, menjelaskan bahwa MPLS tahun ini dirancang tidak sekadar pengenalan lingkungan sekolah, tetapi juga sebagai fondasi pembentukan karakter siswa.

“Kami ingin siswa tidak hanya menghafal aturan, tetapi benar-benar memahami esensi nilai-nilai kehidupan sebagai pelajar dan bagian dari masyarakat. Dengan melibatkan psikolog dan aparat hukum, kami harap mereka bisa merefleksikan diri dan membangun komitmen positif sejak dini,” ujarnya.
Kegiatan yang berlangsung selama lima hari (14-18 Juli 2025) ini diikuti oleh 113 siswa putra dan 103 siswa putri yang terbagi dalam enam rombongan belajar. Materi yang diberikan tidak terbatas pada tata tertib sekolah, tetapi juga mencakup pembahasan mendalam tentang ibadah, toleransi, gotong royong, dan kehidupan bermasyarakat.
Impresia, lembaga psikologi yang turut terlibat, memberikan pendekatan psikologis untuk membantu siswa melakukan refleksi diri. Sementara itu, kehadiran Polres Depok memberikan perspektif tentang pentingnya kedisiplinan dan kesadaran hukum sejak remaja. Materi ini dinilai krusial mengingat masa SMP adalah fase pencarian jati diri yang rentan terhadap pengaruh negatif.
Salah satu poin unik dalam MPLS SMPN 20 Depok adalah pendekatan partisipatif, di mana siswa tidak hanya mendengarkan ceramah, tetapi juga diajak berdiskusi aktif. Mereka diberi ruang untuk menganalisis kebiasaan sehari-hari, seperti manajemen waktu, sikap terhadap teman, serta kontribusi dalam lingkungan sosial.
“Tujuannya adalah menciptakan lingkungan belajar yang inklusif dan saling mendukung. Ketika siswa paham mengapa mereka harus toleran atau gotong royong, penerapannya akan lebih alami, bukan sekadar paksaan aturan,” tambah Tuti Alawiyah.
MPLS 2025 di SMPN 20 Depok bukan sekadar ritual tahunan, melainkan investasi pembentukan kultur sekolah. Dengan menanamkan pemahaman mendalam tentang nilai-nilai kehidupan, sekolah berharap dapat mengurangi potensi konflik dan meningkatkan iklim belajar yang kolaboratif.
“Jika sejak awal siswa sudah punya kesadaran penuh tentang tanggung jawab mereka, baik sebagai individu maupun bagian dari komunitas, kami yakin ini akan mempermudah proses belajar-mengajar ke depan,” pungkas Tuti Alawiyah. (*)
