Jabaran.id – Sebanyak 360 siswa baru SMPN 26 Depok resmi mengikuti Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) Tahun Ajaran 2026/2027. Kegiatan yang berlangsung selama lima hari, mulai Senin hingga Jumat, 13–17 Juli 2026 ini mengusung tema “MPLS Ramah” sesuai arahan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah.
SMPN 26 Depok yang berlokasi di Jalan Mangga, Kelurahan/Kecamatan Beji, tahun ini menerima 360 siswa baru yang terbagi dalam sembilan rombongan belajar (rombel). Jumlah tersebut terdiri dari siswa-siswi yang telah lolos seleksi melalui Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) Kota Depok . Dengan kapasitas 40 siswa per kelas, sekolah ini menyiapkan sembilan ruang kelas untuk menampung seluruh siswa baru.

Kepala SMPN 26 Depok, Ahmad Sujai, menjelaskan bahwa MPLS Ramah merupakan implementasi dari Surat Edaran Menteri Dikdasmen yang menekankan kegiatan pengenalan lingkungan sekolah yang menggembirakan, bermakna, dan bebas dari perpeloncoan .
“MPLS Ramah ini bermakna bahwa kegiatan dirancang dan dilaksanakan dengan memuliakan, menghormati hak anak, dan menjunjung tinggi nilai karakter untuk mewujudkan lingkungan belajar aman. Ini berdasarkan Surat Edaran Menteri Dikdasmen, dengan membuat suasana MPLS yang menggembirakan melalui pemberian pengalaman belajar yang berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan,” ujar Ahmad Sujai.
Sekolah yang baru saja meraih predikat Sekolah Adiwiyata tingkat Kota Depok pada tahun 2025 ini menjadikan MPLS sebagai momentum untuk menanamkan nilai-nilai kepedulian lingkungan kepada siswa baru.
“Siswa kelas VII adalah warga baru di sini. Mereka harus paham bahwa kami tidak hanya mengajar, tetapi juga berkomitmen untuk menciptakan lingkungan yang hijau dan berkelanjutan,” tegasnya .
Selama lima hari pelaksanaan, siswa baru mengikuti beragam materi yang disesuaikan dengan ketentuan MPLS Ramah dari Kemendikdasmen. Hari pertama diawali dengan upacara pembukaan dan pengenalan visi, misi, serta budaya satuan pendidikan. Siswa juga diperkenalkan dengan fasilitas sekolah melalui kegiatan tur keliling dan pengenalan lingkungan sekitar satuan pendidikan.
Materi Wawasan Wiyata Mandala menjadi salah satu sesi penting di hari pertama. Siswa dan orang tua dikenalkan dengan visi, misi, program, dan budaya satuan pendidikan agar memahami fungsi sekolah sebagai tempat pembelajaran dan pengembangan diri. Selain itu, pengenalan tata tertib sekolah dan keadaban digital juga diberikan untuk membekali siswa dalam bersosialisasi di lingkungan baru, termasuk penggunaan internet dan media sosial yang sehat.

Hari kedua dan ketiga difokuskan pada pengenalan antar sesama murid dan guru melalui kegiatan Ruang Perjumpaan Murid Baru, di mana siswa diajak berbagi cerita tentang harapan dan kekhawatiran melalui media Pohon Harapan dan Pohon Solusi. Siswa juga dikenalkan dengan Profil Lulusan yang mencakup delapan dimensi, serta Gerakan Tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat (G7KAIH) melalui kegiatan bernyanyi dan simulasi catatan harian.
Ahmad Sujai menambahkan bahwa pihaknya tidak hanya fokus pada pengenalan lingkungan sekolah, tetapi juga membekali siswa dengan pengetahuan tentang bahaya kenakalan remaja dan keselamatan lingkungan.
“Kami ingin siswa tidak hanya mengenal lingkungan fisik sekolah, tetapi juga memahami nilai-nilai yang kami anut, termasuk komitmen kami sebagai Sekolah Adiwiyata tingkat Kota Depok. Selain itu, kami juga ingin mereka aware terhadap isu-isu sosial seperti kenakalan remaja dan bahaya narkoba,” ujarnya.
Pada hari keempat, siswa mendapatkan materi pencegahan kekerasan melalui diskusi tentang Lingkungan Belajar Aman, Nyaman, dan Menggembirakan (LBANM), serta edukasi bahaya NAPZA dengan pemutaran film dan pembuatan pohon komitmen bersama.
Mitigasi bencana juga menjadi perhatian khusus dalam MPLS tahun ini. Sekolah menghadirkan narasumber dari pihak eksternal, untuk memberikan materi manajemen bencana dan mitigasinya. Siswa diajak belajar mengenali ancaman bencana, jalur evakuasi, peralatan keselamatan, hingga mempraktikkan tindakan penyelamatan dan evakuasi dalam situasi darurat.
Kegiatan ini menurut Ahmad Sujai penting untuk membentuk siswa yang tangguh bencana, baik di lingkungan sekolah maupun di rumah.
“Edukasi tentang bahaya kebakaran sejak dini sangat penting, agar siswa tidak hanya tahu bagaimana menyelamatkan diri, tetapi juga bisa mencegah terjadinya musibah di lingkungan rumah,” jelasnya.
Hari kelima menjadi puncak kegiatan dengan penampilan demo ekstrakurikuler dan siswa berprestasi. Berbagai ekskul seperti OSIS, Pramuka, Paskibra, PMR, Pencak Silat, Taekwondo, Basket, Futsal, dan Story Telling ditampilkan untuk mengenalkan siswa pada kegiatan pengembangan minat dan bakat. Kegiatan ditutup dengan apel penutupan MPLS yang dipimpin Kepala SMPN 26 Depok. (*)
