Oleh: Eppy S. Rahman
Dewan Pembina Yayasan Mandiri Tunas Global
Jabaran.id – Dalam kehidupan yang semakin dinamis, kedamaian seringkali dipandang sebagai konsep abstrak yang jauh dari realitas sehari-hari. Padahal, kedamaian adalah fondasi utama yang memungkinkan manusia untuk menjadi produktif, mencapai kesejahteraan, dan pada akhirnya meraih kebahagiaan. Tanpa kedamaian, energi kita terkuras oleh konflik yang tidak perlu, baik konflik internal maupun eksternal. Oleh karena itu, menghindari konflik bukan sekadar pilihan, melainkan keharusan jika kita ingin menciptakan kehidupan yang bermakna dan berkelanjutan.
Untuk mencapai kedamaian ini, kita harus kembali kepada esensi kemanusiaan itu sendiri: memanusiakan manusia. Ini adalah prinsip dasar yang menuntut kita untuk mengenal dan memahami manusia secara utuh, bukan sebagai angka dalam statistik atau roda dalam mesin produksi. Pemahaman ini hanya mungkin dicapai melalui pengetahuan yang mendalam, yang tidak datang secara instan melainkan melalui proses belajar yang berkelanjutan.
Belajar, dalam konteks ini, bukan sekadar aktivitas mengumpulkan informasi. Belajar yang sesungguhnya adalah proses memahami dan mengelaborasi pengetahuan. Elaborasi bisa dilakukan secara mandiri dengan membaca ulang dan merenung, tetapi akan lebih efektif ketika dilakukan melalui diskusi dengan narasumber yang kompeten. Proses inilah yang melatih kita untuk berpikir kritis, analitis, dan kreatif. Kreativitas sendiri bukanlah produk akhir, melainkan buah dari pertanyaan-pertanyaan mendalam yang kita ajukan. Pertanyaan yang baik akan membimbing kita pada jawaban yang bermakna.
Pendidikan, dengan demikian, bukan sekadar transfer ilmu pengetahuan. Pendidikan adalah upaya untuk mengembangkan potensi diri agar manusia mampu beradaptasi dengan perubahan zaman, hidup harmonis dalam masyarakat, dan menemukan makna dalam setiap fase kehidupan. Pendidikan yang holistik dimulai dari pengenalan diri sendiri—sebagai individu yang unik, bagian dari keluarga, anggota masyarakat, makhluk yang hidup berdampingan dengan alam semesta, dan hamba Tuhan Yang Maha Esa.

Setiap manusia memiliki hak dasar yang melekat pada kemanusiaannya: hak untuk hidup sejahtera dan hak untuk tumbuh sesuai dengan fitrahnya. Fitrah manusia mencakup kapasitas, kebebasan berkehendak, siklus hidup, tabiat bawaan, dan kelemahan. Semua ini adalah bagian tak terpisahkan dari diri kita, dan mengenalinya adalah langkah pertama untuk memahami orang lain.
Manusia juga memiliki tiga potensi dasar yang saling terkait: potensi biologis (akal, tubuh, dan emosi), potensi sosiologis (naluri bersosialisasi dan empati), dan potensi spiritual (keyakinan dan keimanan). Ketiga potensi ini membentuk tanggung jawab kita dalam berpikir, berbicara, dan bertindak. Ketika ketiganya berkembang seimbang, kita akan menjadi pribadi yang utuh, mampu menghadapi berbagai peristiwa hidup dengan bijaksana.
Pemberdayaan diri adalah gabungan antara daya kerja dan daya juang. Daya kerja lahir dari kerja keras yang didukung oleh kesehatan fisik dan mental, konsentrasi, manajemen waktu yang baik, dan kesiapan menghadapi tantangan. Namun, kerja keras saja tidak cukup. Kita juga perlu kerja cerdas—memahami sinergi antarproses, memanfaatkan teknologi, dan mengoptimalkan ilmu pengetahuan untuk melipatgandakan hasil.
Lebih dari itu, daya kerja juga mencakup sikap ikhlas—kejernihan pikiran, kestabilan emosi, integritas, dan keadilan. Ikhlas dalam konteks ini bukan berarti pasrah, melainkan fokus pada proses tanpa terbelenggu oleh keinginan akan hasil instan.
Sementara itu, daya juang adalah kemampuan untuk bertahan dan bangkit dari tantangan. Daya juang dibangun dari kesabaran, kemampuan belajar dari kegagalan, dan tekad yang kuat untuk terus maju. Dalam perspektif spiritual, daya juang juga mencerminkan semangat untuk mendekatkan diri kepada Tuhan, mencari hikmah di balik setiap ujian.
Pada akhirnya, kedamaian bukanlah tujuan akhir, melainkan jalan menuju kehidupan yang lebih produktif, sejahtera, dan bahagia. Dengan memanusiakan manusia—melalui pendidikan yang inklusif, pemahaman akan fitrah diri, dan pemberdayaan potensi—kita bisa menciptakan masyarakat yang harmonis dan tangguh.
Semua bermula dari kesadaran diri. Ketika kita mengenal siapa diri kita, memahami kelebihan dan kekurangan, serta berkomitmen untuk terus belajar, konflik dapat diminimalisir. Kedamaian adalah buah dari upaya kolektif untuk saling menghargai, mengembangkan potensi, dan berjuang bersama menuju kehidupan yang lebih baik. Inilah esensi dari memanusiakan manusia. (*)

Bagaimana sekolah dapat mengintegrasikan pendidikan kedamaian secara praktis ke dalam kurikulum harian tanpa menjadikannya sekadar mata pelajaran tambahan?