HomePendidikan'Tinggal Landas' Setelah Dua Dekade: Memperkuat Akar untuk Mencapai Langit Sekolah Tunas...

‘Tinggal Landas’ Setelah Dua Dekade: Memperkuat Akar untuk Mencapai Langit Sekolah Tunas Global 2026

Jabaran.id – Di sebuah titik perjalanan yang penuh makna, tepat dua puluh tahun setelah benih pertama ditanam, komunitas Sekolah Tunas Global Depok, di bawah payung Yayasan Mandiri Tunas Global, melakukan sebuah momen hening sekaligus penuh tekad. Momen ini bukan sekadar perayaan, melainkan sebuah deklarasi untuk ‘tinggal landas’. Sebuah presentasi yang disusun bukan sebagai laporan, tetapi sebagai peta navigasi dan filosofi perjalanan, mengajak setiap insan di dalamnya untuk melihat lebih dalam, bukan hanya tentang ke mana akan melaju, tetapi lebih penting lagi, dengan fondasi apa dan prinsip apa langkah-langkah itu akan diayunkan.

Perjalanan dua dekade dari era perintisan telah mengantarkan pada sebuah ‘titik siap’. Untuk melangkah ke era baru, langkah pertama yang dianggap fundamental adalah mempertajam kembali kompas utama: visi dan misi. Visi Yayasan Mandiri Tunas Global dinyatakan dengan jelas: menjadi lembaga pendiri dan pembina pendidikan inklusi dan humanis yang memuliakan keberagaman, dengan pijakan nilai-nilai Pancasila dan kebhinekaan global. Misi yang menyertainya adalah membangun unit pendidikan berkualitas guna membentuk insan bertakwa, cerdas, mandiri, peduli, dan bermartabat.

Sekolah Tunas Global Depok siapkan pagelaran 2

Visi-misi ini ditegaskan bukan sebagai hiasan dinding, melainkan sebagai janji dan branding yang hidup. Visi dan misi Sekolah Tunas Global Depok adalah harapan. Jangan memberi harapan kalau kamu tidak mengharapkannya. Ini adalah panggilan untuk integritas dan konsistensi antara apa yang diucapkan dan apa yang diwujudkan dalam denyut nadi keseharian.

- Advertisement -

Sebagai bekal untuk ‘penerbangan’ menuju 2026, diperlukan tas kabin penyangga yang harus dipenuhi tiga kelengkapan penting untuk dibawa. Karena semua itu, untuk memastikan perjalanan bisa berjalan dengan lancar, nyaman dan selamat selama ‘penerbangan’.

Tas kabin pertama berisi bekal bernama Komunikasi. Di sini, komunikasi dipahami bukan sebagai sekadar pertukaran informasi, tetapi sebagai proses utama di mana individu mentransmisikan stimulus untuk mengubah perilaku individu atau kelompok yang lain.

Kemampuan ini disebut sebagai pengendali situasi dan pintu masuk penyelesaian setiap permasalahan. Komunikasi yang baik digambarkan bagaikan panca indra keenam, sebuah alat peraba dan perasa terhadap lingkungan yang kepekaannya harus terus diasah. Prinsipnya adalah transparan, akuntabel, dan diarahkan untuk mencapai tujuan yang dimaksud, dengan fondasi empati: “Pahami dulu, baru berharap dipahami.”

Tas kabin kedua diisi dengan Kebiasaan-Kebiasaan Kecil. Hal ini merujuk pada ilmu kontemporer dari buku-buku seperti “Atomic Habits” karya James Clear, menyimpulkan bahwa “Kemampuan otak berkembang karena tindakan kecil yang diulang, bukan selalu karena lompatan besar.” Tujuh kebiasaan kecil yang dijabarkan dirancang sebagai latihan otot mental sehari-hari. Mulai dari membaca sedikit setiap hari, membiasakan diri mengamati perilaku orang, berani mengajukan pertanyaan, mencatat ide, menantang diri keluar zona nyaman, mengonsumsi informasi secara selektif, hingga melatih diri menunda reaksi. Kebiasaan-kebiasaan ini, ditekankan, tidak memerlukan bakat khusus atau biaya besar. ‘Modalnya hanya disiplin’.

Jika dilakukan secara konsisten, rangkaian kebiasaan kecil ini diyakini akan membentuk cara berpikir yang lebih cepat, dalam, dan matang, serta melahirkan kreativitas. Inilah yang disebut sebagai kecerdasan atau pemikiran baru, modal penting untuk tinggal landas.

Namun, bekal teknis saja dianggap tidak cukup. Tas kabin ketiga dan mungkin yang paling substantif, membawa Falsafah Kecil yang menjadi landasan berpikir. Falsafah ini diilustrasikan melalui sebuah analogi yang powerful seperti Buah yang beasal dari akar yang sehat. Analogi ini menegaskan adanya dua dimensi kesuksesan di Sekolah Tunas Global. ‘Buah’ mewakili apa yang disebut Sukses Sekunder. Ia adalah wujud nyata yang seringkali menjadi ukuran umum: nilai rapor, ranking, kekayaan, jabatan, gedung megah, jumlah siswa, atau penghargaan.

Kesuksesan jenis ini bersifat eksternal, kompetitif, dan seringkali fluktuatif. Kebahagiaan yang dibawanya cenderung sesaat, bergantung pada validasi dari luar dan rentan terhadap perubahan.

Sebaliknya, ‘Akar’ melambangkan Sukses Primer. Ini adalah kesuksesan yang bersifat inside-out, sebuah konsep yang disarikan dari pemikiran Steven R. Covey dan bahkan Aristoteles. Sukses primer berbentuk pada hal-hal yang tidak selalu terlihat tetapi mendasar: tata nilai luhur, kejujuran, integritas, karakter stabil, growth mindset, dan kemampuan untuk terus tumbuh dan beradaptasi. Ciri-cirinya adalah independen, stabil, menjadi fondasi jangka panjang, dan selalu menghasilkan dampak yang lebih luas. Psikologinya terhubung dengan ‘meaning’ atau makna, otonomi, kompetensi, nilai moral, dan rasa keberhargaan diri. Pesan kuncinya tegas: ‘Sukses pada akar hampir selalu memunculkan sukses pada buah’.

Dengan kata lain, fokus pada penguatan akar—karakter, integritas, pola pikir—akan secara alami menghasilkan buah-buah prestasi yang sejati dan berkelanjutan. Seseorang atau lembaga yang hanya mengejar buah tanpa merawat akar, diibaratkan seperti pohon yang naik cepat tetapi juga berisiko rubuh dengan cepat.

Untuk memperkuat argumen tentang betapa pentingnya lingkungan dan proses dalam membentuk kapasitas, juga menyentuh sebuah narasi populer yang seringkali menyesatkan: klaim bahwa bangsa Indonesia memiliki ‘IQ Gorila’ berdasarkan penelitian Richard Lynn. Dengan kritis, paparan tersebut mengungkap kelemahan metodologis, bias budaya, dan rasial, serta kesimpulan berlebihan dari klaim tersebut. Poin penting yang ingin ditekankan adalah bahwa dalam psikologi modern, konsep ‘IQ bangsa’ tidak lagi relevan. Fokus telah bergeser pada kemampuan fungsional yang dapat dikembangkan. IQ bukan segalanya, cara berpikir jauh lebih menentukan. Seruan etis pun dilontarkan: ‘Jangan cepat menilai atau menyalahkan anak, perbaiki dulu ekosistem belajarnya. Pendidikan bukan menggenjot mesin, tapi menumbuhkan manusia’.

Arah filosofis ini kemudian dikaitkan dengan teori psikologi yang mendasar, yaitu teori ‘Locus of Control’ atau Titik Kendali dari Julian B. Rotter, seorang perintis Social Learning Theory. Teori ini menyatakan bahwa perilaku manusia dipengaruhi oleh harapan dan nilai hasil yang diantisipasi. Bagi sebuah institusi pendidikan, implikasinya mendalam. Sekolah yang ingin membangun manusia merdeka berpikir harus sengaja ‘menempatkan’ lokus kendali ke dalam diri siswa. Ini adalah tentang membangun fondasi sikap tanggung jawab, kemandirian, dan keberanian bertindak dari dalam diri siswa, alih-alih membuat mereka terus bergantung pada kendali dan validasi eksternal.

Ini adalah sebuah manifesto pendidikan. Perjalanan institusi yang, di usia dua puluh tahun, memilih untuk tidak terjebak dalam euforia pencapaian ‘buah’ semata. Sebaliknya, ia melakukan introspeksi mendalam, kembali ke ‘akar’, memperkuat fondasi nilai dan pola pikir, serta menyiapkan ‘kabin’ berisi alat-alat kebiasaan dan komunikasi yang efektif. Semua itu dirancang untuk satu misi: tinggal landas dengan kekuatan yang berasal dari dalam, siap menghadapi ufuk baru dengan karakter yang kokoh, dan keyakinan bahwa dengan akar yang sehat, buah yang manis dan melimpah akan datang sebagai konsekuensi alamiah, bukan sebagai tujuan tunggal yang dikejar dengan menghalalkan segala cara.

Ini adalah kisah tentang sebuah sekolah yang tidak hanya ingin pintar, tetapi juga bijak; tidak hanya ingin besar, tetapi juga berarti. (*)

 

Oleh : Eppy S. Rahman

Pembina Yayasan Mandiri Tunas Global

(KB, TK, SD, SMP Nasional Plus Tunas Global Depok)

 

TERBARU

spot_img

POPULER

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here