Jabaran.id – Sebuah pelatihan untuk guru di TK Nasional Plus (NP) Tunas Global Depok mendalami prinsip-prinsip mendasar di balik kinerja individu manusia, dengan mengeksplorasi konsep-konsep seperti bakat, minat, passion, dan peran kecerdasan. Pelatihan tersebut secara khusus membedah hubungan antara potensi bawaan dan upaya pengembangan diri, merujuk pada penelitian para ahli ternama.
Pembina Yayasan Mandiri Tunas Global, Eppi S. Rahman menjelaskan bahwa minat merujuk pada ketertarikan atau perhatian seseorang terhadap suatu hal atau aktivitas, yang sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor seperti lingkungan, pengalaman, dan pengetahuan.
“Artinya, minat dapat ‘diarahkan/dikonstruksi’, karenanya sifatnya yang bisa berubah-ubah,” jelasnya.
Sementara itu, passion dijelaskan sebagai ketertarikan yang sangat kuat dan mendalam, yang seringkali disertai dengan perasaan antusiasme, kegembiraan, dan motivasi yang tinggi, serta biasanya lebih stabil dan lebih sulit diubah dibandingkan dengan minat.
Lebih lanjut, narasumber memberikan ilustrasi konkret untuk memperjelas perbedaan tersebut. Dalam konteks ini, minat dapat diartikan sebagai ‘ketertarikan’ atau ‘perhatian’, sedangkan passion dapat dikenali sebagai ‘gairah yang mengikat’ atau ‘semangat yang menggebu-gebu’. Sebagai contoh, seseorang yang memiliki minat pada fotografi akan mencoba, tetapi mungkin tidak secara intensif dulu. Sedangkan orang yang memiliki passion pada fotografi akan sangat antusias dan ingin menghabiskan waktu serta energi untuk mengembangkannya.
“Jadi, tidak semua minat dapat diartikan sebagai passion, tetapi passion biasanya melibatkan minat yang kuat dan mendalam,” tambahnya.
Pelatihan ini juga meluruskan pemahaman umum tentang kecerdasan atau IQ yang sering dianggap melemah. Narasumber memberikan klarifikasi bahwa IQ murni merupakan potensi dasar yang relatif stabil, dipengaruhi oleh genetika dan gizi awal. “Yang sering kita lihat melemah adalah kemampuan menggunakan kecerdasan itu, yaitu: berpikir runtut, membaca mendalam, bertanya, dan bertahan belajar,” paparnya. Kalimat kunci yang ditekankan adalah bahwa lebih sering menurunnya kemampuan kognitif bukan karena kemampuan otaknya yang turun, tetapi cara kita memakai otak yang melemah.
Fenomena yang kerap dikeluhkan guru, seperti anak yang cepat bosan, pelupa, sulit fokus, dan memberikan jawaban pendek-pendek, bukanlah tanda kecerdasan yang melemah. Narasumber menjelaskan bahwa yang sering disebut “IQ menurun” sebenarnya adalah menurunnya kemampuan berpikir tingkat tinggi serta melemahnya daya baca, nalar, fokus, dan ketekunan belajar. “Ini bukan penurunan otak, tapi penurunan ekosistem berpikir,” tegasnya. Dalam psikologi modern, konsep “IQ Bangsa” tidak digunakan, dan fokus pengembangannya ada pada kemampuan fungsional yang bisa dikembangkan melalui lingkungan dan pendidikan.
Untuk memperkuat argumentasinya, Eppi memaparkan beberapa faktor penyebab utama pelemahan kognitif fungsional tersebut. Faktor pertama adalah gizi awal kehidupan, seperti stunting, anemia, dan kekurangan mikronutrien, yang berdampak pada struktur dan koneksi otak yang tidak optimal, terutama pada usia 1000 hari pertama dan usia 2-6 tahun.
“Otak yang kurang gizi → bukan bodoh, tapi kurang maksimal berkembang,” jelasnya.
Faktor kedua adalah budaya belajar yang menekankan hafalan, fokus pada nilai, ranking, ujian, dan gelar, serta minim dalam kegiatan bertanya, berdiskusi, bernalar, dan menyusun argumen.
“Anak tahu banyak, tapi tidak dilengkapi alat dan cara membangun ekosistem berpikir,” ujar Eppi.
Faktor ketiga adalah paparan digital tanpa literasi kognitif, yang ditandai dengan konsumsi konten cepat, dangkal, dan algoritmik, serta kebiasaan multitasking kronis yang menyebabkan atensi menjadi pendek.
“Otak tidak rusak, tapi kinerjanya dangkal,” tutur narasumber.
Faktor keempat adalah lingkungan yang mematikan rasa ingin tahu, seperti ketika anak yang banyak bertanya dianggap cerewet, berbeda pendapat dianggap melawan, dan salah dianggap gagal.
“Ini menggerus kecerdasan fungsional, bukan IQ index,” imbuhnya.
Faktor kelima adalah bahasa yang tidak diposisikan sebagai alat berpikir, menyebabkan kelemahan dalam menyusun kalimat kompleks, menjelaskan sebab-akibat, menarasikan gagasan, dan memahami makna.
“Padahal, berpikir jernih = bahasa yang jernih. Tanpa bahasa yang kuat, ‘IQ’/kecerdasan tidak pernah ‘keluar’,” pungkasnya. (*)
