Jabaran.id – Menyambut datangnya bulan suci Ramadan 1447 Hijriah yang pada Rabu, 18 Februari 2026, Perguruan Muhammadiyah Sawangan menggelar agenda pembinaan rohani bagi para pendidik. Kegiatan yang diberi tajuk Qobla Ramadan ini diinisiasi oleh Majelis Pendidikan Dasar dan Menengah (Dikdasmen) Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) dan Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Sawangan, dengan melibatkan tiga unit pendidikan di bawah naungannya.
Guru dan karyawan dari SD, SMP, dan SMA Muhammadiyah Sawangan Depok berkumpul dalam forum ilmiah keagamaan tersebut. Mereka hadir untuk mendalami materi seputar persiapan menyambut bulan puasa.

Ketua Pengurus Cabang (PC) Muhammadiyah Sawangan, Khaerudin, menegaskan bahwa kegiatan ini dirancang untuk memastikan para tenaga pendidik memiliki bekal yang matang dalam memasuki bulan Ramadan. Menurutnya, guru tidak hanya berperan sebagai pendidik di sekolah, tetapi juga sebagai teladan bagi siswa, terutama dalam menjalankan ibadah di bulan suci.
“Ini adalah kegiatan menjelang bulan Ramadan. Kami fokus pada bagaimana para guru dan karyawan mempersiapkan diri untuk menjalani ibadah di bulan Ramadan yang akan dimulai pada Rabu, 18 Februari 2026 nanti. Mulai dari kesiapan mental dan juga fisik, semuanya kami bahas tuntas dalam forum ini,” ujar Khaerudin, Senin (16/2/2026).
Khaerudin menjelaskan bahwa persiapan mental dan fisik merupakan dua aspek fundamental yang sering kali luput dari perhatian umat Islam ketika hendak memasuki bulan puasa. Padahal, kesiapan yang matang akan sangat memengaruhi kualitas ibadah yang dijalankan selama sebulan penuh. Ia berharap melalui kegiatan ini, para guru dapat menjalankan seluruh aktivitas ibadah di Bulan Ramadan dengan lebih khusyuk dan sesuai dengan tuntunan syariat.
“Dengan persiapan yang baik, kami ingin seluruh guru dan karyawan bisa menjalankan semua aktivitas ibadah di Bulan Ramadan lebih khusyuk dan sesuai dengan ketetapan yang ada. Mereka adalah garda terdepan dalam mendidik generasi penerus, sehingga kesiapan mereka menjadi prioritas utama,” tambahnya.

Kegiatan Qobla Ramadan di Perguruan Muhammadiyah Sawangan menghadirkan perspektif mendalam mengenai hakikat keberkahan di bulan suci. Penceramah Ustad Tazmal El Dad dari Pondok Pesantren Bening Hati dalam tausiyahnya mengupas makna berkah yang sering disalahartikan oleh sebagian orang.
Penceramah Ustad Tazmal El Dad menyampaikan bahwa berkah sering dipahami secara sempit sebagai sesuatu yang berlimpah secara materi atau kuantitas. Namun, dalam pandangannya, hakikat berkah justru lebih dekat dengan makna kecukupan yang diberikan Allah SWT kepada hamba-Nya.
“Berkah adalah sesuatu yang dicukupkan untuk umat manusia, bukan sesuatu yang berlebihan. Ini adalah pemahaman penting yang harus kita tanamkan. Kadang manusia mengejar keberlimpahan, padahal yang ia butuhkan adalah kecukupan yang membawa kebaikan,” jelas KH. Tajmaludin di hadapan para guru.
Lebih lanjut, penceramah yang akrab disapa Ustad Tazmal El Dad itu mengajak para pendidik untuk merefleksikan makna berkah dalam kehidupan sehari-hari, khususnya saat memasuki Ramadan. Menurutnya, ketika seseorang merasa cukup atas apa yang dimiliki dan mampu memanfaatkannya untuk kebaikan, di situlah keberkahan hakiki hadir. Ia menekankan bahwa bulan Ramadan adalah momen tepat untuk melatih rasa syukur dan qanaah, yaitu merasa cukup dengan pemberian Allah.
“Allah mencukupkan umat manusia untuk segala hal yang penuh kebaikan. Ramadan adalah bulan di mana kita diajarkan untuk merasa cukup, untuk berbagi, dan untuk tidak terobsesi pada hal-hal yang bersifat duniawi semata. Inilah yang akan membawa kita pada kekhusyukan ibadah,” pesan Ustad Tazmal El Dad.
Kegiatan pembinaan menjelang Ramadan seperti yang digelar PCM Sawangan ini memiliki urgensi tersendiri di kalangan pendidik. Sebagai profesi yang bertanggung jawab membentuk karakter generasi muda, guru dituntut untuk memiliki ketahanan spiritual yang kuat. Dengan bekal pemahaman yang komprehensif tentang makna ibadah puasa, para guru diharapkan mampu mentransfer nilai-nilai Ramadan tidak hanya melalui materi pelajaran, tetapi juga melalui keteladanan sikap.
Para peserta tampak antusias mengikuti rangkaian acara yang berlangsung dari pagi hingga siang hari. Mereka tidak hanya mendengarkan ceramah, tetapi juga berdiskusi aktif mengenai tantangan mengajar selama bulan puasa serta strategi menjaga stamina dan semangat ibadah. Hal ini sejalan dengan tujuan utama kegiatan, yaitu memastikan bahwa para pendidik memasuki bulan suci dalam kondisi prima, baik secara lahir maupun batin. (*)
