Jabaran.id – Di tengah hiruk-pikuk dunia pendidikan yang kerap disibukkan dengan urusan kurikulum dan nilai, sebuah sekolah di Pancoran Mas, Kota Depok, hadir dengan filosofi yang membumi namun progresif. “Kita tidak sama, kita kerja sama” – bukan sekadar slogan, melainkan fondasi kokoh yang membangun setiap aktivitas di KB-TK Nasional Plus (NP) Tunas Global. Lembaga pendidikan ini dengan berani mendeklarasikan diri sebagai Sekolah Keberagaman sekaligus Sekolah Inklusi, membuktikan bahwa perbedaan bukan tembok pemisah, melainkan panggung untuk saling menguatkan .
Jika masyarakat umum memandang inklusi sekadar sebagai penerimaan anak berkebutuhan khusus di sekolah reguler, KB-TK NP Tunas Global melangkah lebih jauh. Mereka menciptakan ekosistem di mana keberagaman agama, latar belakang seperti suku, budaya, dan kondisi anak dirayakan dalam bingkai kebersamaan. Kepala KB-TK NP Tunas Global, Saanih, menjelaskan bahwa visi besar sekolahnya adalah menciptakan generasi yang tidak hanya cerdas secara kognitif, tetapi juga memiliki kepekaan sosial tinggi.
“Kami ingin anak-anak sejak dini memahami bahwa perbedaan adalah sunnatullah. Di sini mereka belajar bukan untuk menjadi sama, tetapi untuk saling melengkapi. Motto ‘kita tidak sama, kita kerja sama’ sengaja kami tanamkan dalam setiap kegiatan, mulai dari bermain di sentra hingga ibadah bersama sesuai keyakinan masing-masing,” ujar Saanih.
KB-TK NP Tunas Global memiliki beberapa sentra untuk siswa belajar, yakni Sentra Rancang Bangun, Seni dan Budaya, Persiapan, dan Sains
Menurutnya, pendekatan ini menjadi penting karena tantangan masa depan menuntut kemampuan kolaborasi lintas budaya dan latar belakang. Tunas Global, lanjut dia, ingin menjadi rumah pertama yang aman bagi anak-anak untuk belajar tentang toleransi dalam praktik nyata, bukan sekadar teori di buku.
Sekolah yang berdiri di bawah naungan Yayasan Mandiri Tunas Global yang berlokasi di Jalan Nusa Indah, Kelurahan Depok, Kecamatan Pancoranmas ini telah lama dikenal sebagai pelopor pendidikan inklusi di Kota Depok.
Saanih menegaskan bahwa komitmen inklusi di sekolahnya tidak main-main. Pihak sekolah menerapkan kebijakan ketat dengan membatasi hanya satu anak berkebutuhan khusus per kelas yang didampingi guru pendamping khusus (GPK) dan satu ABK indikasi ringan tanpa GPK, dan itupun harus melalui observasi mendalam dari psikolog.

“Kami tidak asal menerima. Setiap calon siswa, termasuk anak berkebutuhan khusus, menjalani asesmen psikologi terlebih dahulu. Tujuannya agar kami bisa menyiapkan pendampingan yang tepat. Jika diperlukan, sekolah akan menyediakan shadow teacher atau guru pendamping yang membantu anak beradaptasi dan mengikuti pembelajaran di kelas reguler,” terang Saanih.
Fasilitas ibadah enam agama yang tersedia di lingkungan sekolah menjadi simbol nyata lainnya dari penghargaan terhadap perbedaan. Dalam satu kawasan, terdapat ruang-ruang ibadah yang memungkinkan siswa menjalankan keyakinan mereka masing-masing dengan nyaman. Saanih menjelaskan, ini adalah bagian dari pendidikan karakter yang tidak bisa ditawar.
“Setiap pagi, sebelum memulai pelajaran, ada waktu khusus untuk kegiatan keagamaan sesuai keyakinan masing-masing. Anak-anak muslim mengaji, yang Kristen berdoa, begitu pula yang lainnya. Mereka tidak hanya diajarkan tentang agama sendiri, tetapi juga belajar menghormati teman yang sedang beribadah. Ini pengalaman konkret yang membentuk mereka menjadi pribadi yang moderat dan toleran,” jelasnya.
Di ranah akademik, KB-TK NP Tunas Global mengimplementasikan Kurikulum Merdeka dengan pendekatan pembelajaran berbasis sentra dan media loose part, yakni kegiatan yang berpusat pada anak, guru sebagai fasilitator minat dan bakat anak dengan ragam kegiatan main disetiap kelas sentranya. Metode ini memberikan keleluasaan bagi anak untuk mengeksplorasi kreativitas dan memecahkan masalah secara mandiri. Media loose part – yang memanfaatkan benda-benda terbuka seperti tutup botol, ranting, atau kain perca – merangsang imajinasi dan kemampuan berpikir kritis anak sejak usia dini.
Saanih mengungkapkan, kurikulum ini dipilih karena sangat cocok dengan filosofi sekolah yang menghargai keberagaman cara belajar anak.
“Setiap anak cerdas dengan caranya sendiri. Ada yang unggul di bahasa, ada yang kuat di logika matematika, ada pula yang ekspresif melalui seni. Pembelajaran berbasis sentra memungkinkan kami mengakomodasi kecerdasan majemuk (multiple intelligence) itu. Anak-anak belajar sambil bermain, dan guru bertugas memfasilitasi serta memandu sesuai minat dan tahap perkembangan mereka,” paparnya.
Selain pengembangan kognitif, KB-TK NP Tunas Global juga menaruh perhatian besar pada deteksi dini tumbuh kembang anak. Layanan psikolog sekolah berperan aktif memantau perkembangan siswa, memastikan tidak ada hambatan belajar yang terlewatkan. Program ini, menurut Saanih, adalah bentuk tanggung jawab sekolah untuk hadir sebagai mitra orang tua dalam mengasuh generasi penerus bangsa.
“Kami tidak ingin menunggu masalah membesar. Dengan deteksi dini, kami bisa segera memberikan intervensi yang diperlukan, baik itu melalui pendekatan pembelajaran khusus maupun konsultasi dengan orang tua. Kolaborasi dengan orang tua adalah kunci keberhasilan pendidikan inklusi dan holistik,” tegasnya.
Untuk mendukung keseimbangan antara akademik dan pengembangan bakat, sekolah ini juga menawarkan beragam kegiatan ekstrakurikuler dan program unggulan. Kelas seni, kelas renang, dan English class menjadi menu rutin yang dinikmati siswa. Sementara itu, program Monthly Student Performance memberikan panggung bagi setiap anak untuk menampilkan bakat mereka di depan teman dan guru, melatih keberanian dan rasa percaya diri sejak dini.
Tidak hanya siswa, orang tua pun dilibatkan dalam berbagai kegiatan. KB-TK NP Tunas Global secara rutin mengadakan General Parenting, Parenting for Father, hingga Nanny Workshop. Saanih menjelaskan bahwa program ini lahir dari kesadaran bahwa pendidikan anak adalah tanggung jawab bersama antara sekolah dan rumah.
“Kami ingin memastikan bahwa pola asuh di rumah selaras dengan pendekatan yang kami gunakan di sekolah. Kadang orang tua dan pengasuh perlu dibekali wawasan baru tentang tumbuh kembang anak atau cara menghadapi tantangan tertentu. Dengan adanya workshop ini, kami berharap sinergi antara sekolah dan keluarga semakin kuat,” tuturnya.
Menariknya, semangat inklusi di KB-TK NP Tunas Global tidak hanya menyasar anak berkebutuhan khusus, tetapi juga merangkul keberagaman sosial ekonomi. Meski berstatus sekolah swasta dengan biaya pendidikan yang terukur, sekolah ini membuka peluang beasiswa bagi siswa berprestasi dari keluarga kurang mampu.
“Calon siswa yang menunjukkan dokumen prestasi dapat memperoleh potongan biaya pendaftaran, sebuah upaya nyata untuk menjembatani kesenjangan akses pendidikan berkualitas,” jelasnya.
Di tengah gencarnya pemerintah mematangkan konsep Sekolah Terintegrasi yang bertujuan pemerataan mutu pendidikan, inisiatif yang dilakukan KB-TK NP Tunas Global bisa dibilang selangkah lebih maju. Konsep yang digodok Kementerian Koordinator PMK itu menargetkan pembangunan sekolah inklusif di setiap kecamatan yang menggabungkan jenjang PAUD hingga SMA dalam satu sistem tata kelola.
Sekolah NP Tunas Global, dengan jenjang KB-TK hingga SMP yang terintegrasi dan berpengalaman mengelola keberagaman, menjadi contoh bagaimana idealita kebijakan dapat diwujudkan dalam praktik sehari-hari.
Saanih mengakui bahwa menjalankan sekolah inklusi dan keberagama bukanlah perkara mudah. Dibutuhkan komitmen kuat dari seluruh guru dan tenaga kependidikan untuk terus belajar dan beradaptasi. Namun baginya, tantangan itu sepadan dengan hasil yang dilihatnya setiap hari.
“Ketika kami melihat anak-anak bermain bersama tanpa memandang perbedaan, ketika siswa muslim membantu temannya yang kristen menyiapkan perlengkapan ibadah, atau ketika orang tua saling mendukung dalam forum parenting – di situlah kami merasa sedang memanen hasil dari kerja keras ini. Inklusi bukan beban, justru anugerah yang membuat sekolah kami semakin kaya,” ungkap Saanih dengan mata berbinar.
Di tengah hiruk-pikuk persaingan akademik yang kerap melupakan aspek kemanusiaan, KB-TK NP Tunas Global hadir sebagai pengingat bahwa esensi pendidikan sejatinya adalah memanusiakan manusia. Bahwa sekolah bukan sekadar tempat mengejar nilai, tetapi ruang aman bagi setiap anak untuk tumbuh sesuai kodratnya, dengan segala keunikan dan perbedaan yang mereka bawa.
“Sebab pada akhirnya, kita tidak perlu sama untuk bisa saling bekerja sama,” ucap Saanih. (*)
