Jabaran.id – Sebuah program intervensi sosial bernama Family United telah sukses dilaksanakan di SMPN 23 Depok sebagai upaya komprehensif mencegah berbagai permasalahan remaja, mulai dari bullying, alkohol, tawuran, hingga percobaan bunuh diri. Program ini merupakan hasil kolaborasi antara Fakultas Psikologi Universitas Indonesia (UI) dengan pihak sekolah yang dimulai pada pertengahan tahun ajaran 2021/2022.
Awal mula program ini berawal dari kedatangan tim Fakultas Psikologi UI ke SMPN 23 Depok untuk melaksanakan proyek penelitian dengan model Safe Community Safe School.

Wakil Bidang Kesiswaan SMPN 23 Depok, Atiek Indriani, menjelaskan bahwa tim UI terlebih dahulu melakukan asesmen awal untuk memetakan permasalahan yang ada di lingkungan sekolah.
“Awal datang mereka melaksanakan asesmen awal untuk mengetahui permasalahan apa yang ada di sekolah. Lalu dikumpulkan sekitar 300 orang tua dan siswa dengan total peserta ada 600 orang untuk mengisi kuesioner, selain orang tua dan siswa juga semua staf diminta mengisi dari guru, staf, caraka, security sampai penjaga kantin sekolah,” ujar Atiek Indriani.
Lebih lanjut, Atiek menjelaskan bahwa data dari kuesioner tersebut kemudian diolah oleh tim UI. Hasil pengolahan data dikomunikasikan kepada pihak SMPN 23 Depok dan ditemukan sejumlah permasalahan yang memprihatinkan.
“Dari hasil tersebut, datanya diolah oleh tim dari UI, dan dikomunikasikan atas hasil tersebut ke pihak SMPN 23 Depok, dan ditemukan beberapa permasalahan yang muncul seperti bully, alkohol, tawuran, bahkan sampai percobaan bunuh diri. Meskipun itu tidak terjadi di sekolah, tapi jadi sesuatu hal yang harus diwaspadai dan dicegah sedari dini,” ungkapnya.
Atiek Indriani menambahkan bahwa temuan-temuan tersebut menjadi pijakan bagi tim UI dan pihak sekolah untuk merancang program intervensi yang tepat. Setelah melalui serangkaian diskusi, akhirnya muncul kesepakatan untuk mengadopsi program Family United.
“Setelah itu pihak UI dan SMPN 23 Depok membuat program yang cocok untuk menangani permasalahan sebagai tahap intervensi mereka ke sekolah, setelah berbagai diskusi akhirnya muncul Program Family United, yang asalnya dari PBB UNODC (United Nations Office on Drugs and Crime) tentang obat-obatan terlarang dan ketahanan keluarga dan sudah teruji di beberapa negara dengan kondisi keluarga menengah ke bawah di Asia,” paparnya.
Sebelum program Family United dilaksanakan, dilakukan tahap persiapan penting berupa pelatihan bagi para tenaga pendidik. Atiek menyampaikan bahwa sebanyak 12 guru di SMPN 23 Depok mendapatkan pelatihan khusus untuk menjadi fasilitator dalam program tersebut.
“Sebelum Family United dilaksanakan, sebanyak 12 guru di-training untuk menjadi fasilitator dalam program tersebut,” jelasnya.
Program Family United sendiri dilaksanakan dengan melibatkan partisipasi aktif orang tua dan siswa. Kegiatan berlangsung setiap hari Sabtu dengan durasi dua jam per pertemuan, dan dilaksanakan sebanyak empat kali pertemuan. Atiek mengungkapkan bahwa program ini telah berlangsung dalam tiga gelombang atau batch.
“Setelah itu dilaksanakan Family United dengan partisipasinya adalah orangtua dan siswa, dilakukan setiap hari Sabtu selama dua jam, dan berlangsung sebanyak 4 pertemuan. Dan Family United ini sudah berlangsung sebanyak 3 batch,” terangnya.
Menariknya, penerapan program ini tidak seragam di semua daerah. Atiek menjelaskan bahwa Family United hanya khusus dilaksanakan di Kota Depok, sementara di daerah lain memiliki penamaan dan fokus yang berbeda sesuai dengan karakteristik permasalahan masing-masing.
“Program Family United hanya khusus dilaksanakan di Kota Depok, sedangkan di Aceh nama program tersebut adalah Seulanga, yakni tentang self emotion. Karena setiap sekolah berbeda permasalahan,” ujar Wakil Bidang Kesiswaan SMPN 23 Depok tersebut.
Setelah seluruh rangkaian program intervensi selesai, tim kembali melakukan asesmen akhir untuk mengukur efektivitas program. Atiek menyampaikan bahwa pihaknya kembali melakukan survei dengan jumlah responden yang sama, yakni 600 orang, dan hasilnya menunjukkan perubahan yang signifikan.
“Dan setelah rangkaian proses program selesai, diadakan asesmen akhir, isi survei lagi sebanyak 600 orang. Hasilnya lumayan signifikan, permasalahan yang ada berkurang jauh,” jelas Atiek dengan nada optimistis.
Puncak dari program ini ditandai dengan pelaksanaan konferensi diseminasi hasil akhir yang berlangsung pada tanggal 30 hingga 31. Acara tersebut menjadi momen penting karena dihadiri oleh sejumlah pejabat tinggi.

“Dan pada tanggal 30-31 adalah conference-nya, beberapa siswa dan orang tua turut hadir, dan acara tersebut turut dihadiri Menteri Pendidikan, Abdul Muti, Walikota Aceh Illiza Sa’aduddin Djamal, Kabid Pendidikan SMP di Dinas Pendidikan Kota Depok, Muhammad Yusuf, dan beberapa undangan untuk mendengarkan diseminasi hasil akhir program Family United,” papar Atiek.
Selain konferensi, kegiatan juga dilanjutkan dengan kunjungan lapangan ke sejumlah sekolah. “Terakhir diadakan visit ke SMPN 21 dan 23 Depok,” tambahnya.
Atiek Indriani berharap agar program yang telah terbukti efektif ini dapat terus berlanjut dan menjadi inspirasi bagi sekolah-sekolah lain. Ia menekankan pentingnya keberlanjutan program sebagai alternatif dalam menciptakan lingkungan sekolah yang aman bagi seluruh warga sekolah.
“Dan diharapkan program ini bisa diadaptasi oleh sekolah untuk selalu menjadi alternatif menciptakan sekolah yang aman,” pungkas Atiek. (*)
