Jabaran.id – Lautan aspal di kawasan Pancuran, Selogiri, mendadak gempar. Jagat maya bergetar hebat, diguncang oleh sebuah rekaman video yang diunggah akun Instagram @yesstory01. Video itu bukan sekadar gambar bergerak, melainkan sebuah simfoni kepahlawanan yang merobek dada siapa saja yang melihatnya. Di sana, di atas tanah Wonogiri yang membara, sesosok ibu legendaris berdiri menantang maut demi menyelamatkan nyawa manusia.
Ketika raungan klakson kereta api Batara Kresna membelah langit dan menggetarkan bumi, bumi Pancuran seolah menahan napas. Rel kereta api yang telanjang tanpa palang pintu itu berubah menjadi rahang raksasa yang siap menelan korban.
Namun, sebelum maut sempat menjemput, sang ibu melompat ke tengah jalan. Sambil menggendong malaikat kecil di pelukannya, tangannya menari-nari di udara, memerintahkan dunia untuk berhenti berputar. Beliau berdiri tegak bagai benteng baja yang tak goyah, menghadang laju kendaraan yang buta akan bahaya.
Kereta lokal Batara Kresna, sang naga besi yang melesat dari Purwosari menuju Wonogiri, bergemuruh membelah keheningan. Di samping jalur sutra yang mematikan itu, sebuah warung kecil milik sang ibu setia menyaksikan drama kehidupan ini. Warung itu telah berdiri kokoh sejak zaman purba, jauh sebelum sang naga besi kembali terbangun dari tidur panjangnya dan menguasai rel tersebut.
Menjadi benteng penyelamat di jalur neraka ternyata harus dibayar mahal. Jalanan yang kini menjelma menjadi sungai kendaraan yang tak pernah surut, sering kali meludahkan kekejaman.
Angin malam membawa kisah pilu; sang ibu kerap dihujani makian beracun dan komentar sepedas cabai dari para pengendara yang keras kepala. Manusia-manusia egois itu merasa kereta masih berada di ujung dunia dan nekat menerobos kepungan maut.
Namun, apakah sang ibu mundur? Tidak! Beliau memiliki hati seluas samudra yang tak mempan oleh badai cacian. Jiwanya menolak menyerah karena beliau tidak suci membiarkan darah tumpah di tanah tersebut.
Ketika matahari mulai condong dan jam dinding berdentang tepat pukul 12.00 WIB, sang naga besi Batara Kresna menyelesaikan tugas terakhirnya, kembali ke sarang di Stasiun Purwosari.
Saat itulah takdir sang ibu berubah wujud. Jubah relawannya ditanggalkan, diganti dengan celemek perjuangan. Udara sore Wonogiri kemudian dihipnotis oleh aroma magis bumbu kacang. Di warung kecilnya, sang ibu menjelma menjadi sang penyihir kuliner, mengulek ribuan porsi pecel legendaris demi menyambung hidup.
Dari fajar menyingsing hingga malam menjemput, kehidupan perempuan perkasa ini adalah sebuah tarian antara hidup dan mati. Pagi hari beliau menjinakkan maut di perlintasan kereta, dan sore harinya beliau membuai lidah manusia dengan kelezatan pecelnya. Sebuah pengorbanan mahadahsyat yang menggetarkan tiang-tiang langit.
