Jabaran.id – Langkah inspiratif dibuktikan oleh SMPN 34 Depok melalui optimalisasi fasilitas green house. Berada di tengah dinamika Kota Depok yang kian padat, sekolah ini berhasil menyulap sudut lahan yang minimalis menjadi pusat edukasi pertanian modern yang bernilai ekonomis tinggi sekaligus ramah lingkungan.
Kepala SMPN 34 Depok, Siti Rohaya menjelaskan, program pemanfaatan green house ini digerakkan secara aktif oleh para kader Adiwiyata sekolah dengan bimbingan intensif dari jajaran guru serta tenaga kependidikan.

“Kelompok kerja ini mengemban tanggung jawab penuh dalam memastikan keberlanjutan siklus tanam, mulai dari tahap awal berupa penyemaian benih, perawatan harian yang presisi, kontrol nutrisi air, hingga masa krusial yaitu proses pemanenan sayuran,” ucapnya.
Siti Rohaya menjelaskan bahwa divisi khusus yang didedikasikan untuk mengelola fasilitas pertanian modern ini beranggotakan sekitar 30 siswa yang tergabung sebagai kader Adiwiyata. Dalam operasionalnya, para siswa mengelola berbagai jenis komoditas sayuran hijau yang memiliki masa tanam relatif singkat namun memiliki permintaan pasar yang tinggi, seperti kangkung, bayam, sawi, dan pokcoy.
“Sekolah tidak sekadar mengajarkan teori biologi di dalam kelas, melainkan langsung menerjunkan siswa ke lapangan untuk memahami bagaimana sebuah ekosistem pangan skala kecil dapat bertumbuh secara mandiri dan higienis tanpa mengandalkan pestisida kimia,” tuturnya.
Siti Rohaya memaparkan bahwa melalui kegiatan ini pihak sekolah mengedukasi kepada peserta didik mengenai cara memanfaatkan lahan yang sempit untuk pertanian yang mendukung ketahanan pangan. Metode hidropnik dipilih karena efisien dalam penggunaan air hingga 90 persen dibandingkan pertanian konvensional, serta mampu menghasilkan panen yang lebih cepat dengan kualitas daun yang lebih bersih dan renyah.

“Hasil panen tidak dibuang percuma, melainkan langsung dipasarkan dan dijual kepada orang tua siswa serta warga di sekitar lingkungan sekolah. Seluruh keuntungan bersih yang didapatkan dari hasil penjualan tersebut kemudian diputar kembali untuk menjadi modal operasional pada proses penyemaian dan penanaman di siklus selanjutnya,” jelasnya.
Siti Rohaya berharap program ini dapat menjadi bekal keterampilan atau soft skill yang berharga serta memberikan manfaat yang nyata untuk masa depan siswa kelak. Keterampilan bertani modern di era digital ini dinilai sangat potensial, mengingat tren urban farming atau pertanian perkotaan kini terus berkembang pesat sebagai solusi pemenuhan gizi keluarga di wilayah urban. Selain itu, keterlibatan langsung dalam siklus bisnis mini ini secara otomatis mengasah jiwa kewirausahaan dan rasa tanggung jawab sosial para siswa sejak dini.
“Dampak positif dari program hidroponik di lingkungan sekolah ini juga meluas pada aspek kesehatan dan ekologi mikro di area belajar. Tanaman hidroponik yang dirawat dengan baik di dalam green house terbukti mampu mereduksi suhu udara di sekitar area sekolah, sehingga menciptakan mikroklimat yang lebih sejuk dan nyaman untuk mendukung konsentrasi belajar siswa,” pungkasnya. (*)
