Jabaran.id – SMPN 22 Depok menggelar workshop penguatan implementasi pembelajaran mendalam atau deep learning dengan memanfaatkan teknologi interaktif dan platform digital. Kegiatan yang berlangsung selama empat hari, terhitung sejak 22 hingga 25 Juli 2026, ini diikuti oleh seluruh tenaga pendidik dan kependidikan di sekolah tersebut.
Kepala SMPN 22 Depok, Titik Sunarsih, menyampaikan bahwa kegiatan ini dirancang untuk membekali para guru dengan strategi pemanfaatan Interactive Flat Panel (IFP) dan platform Rumah Pendidikan.

Menurutnya, kehadiran teknologi dalam kelas bukan sekadar alat, melainkan jembatan untuk menciptakan pengalaman belajar yang lebih mendalam dan bermakna bagi siswa. Ia menegaskan bahwa harapan besar dari workshop ini adalah lahirnya inovasi-inovasi pembelajaran yang mampu mendorong guru untuk terus berkembang dan tampil lebih profesional.
“Ketika mendapatkan sertifikasi sebagai tenaga pendidik, tentu administrasi juga harus lengkap dan itu bagian dari profesional,” ujar Titik Sunarsih.
Ia juga menambahkan bahwa total keseluruhan guru dan karyawan yang bertugas di SMPN 22 Depok saat ini berjumlah 60 orang, yang semuanya terlibat aktif dalam rangkaian pelatihan tersebut.
Turut hadir dalam workshop tersebut perwakilan dari Dinas Pendidikan Kota Depok, yaitu Pengembang Teknologi Pembelajaran Ahli Muda, Syafrudin, serta Pengawas Pembina SMP, Euis Teti Herawati. Kehadiran mereka memberikan perspektif kebijakan sekaligus pendampingan teknis bagi para guru agar mampu mengintegrasikan pendekatan deep learning secara efektif di dalam kelas.
Dalam pemaparannya, Syafrudin menguraikan bahwa guru ideal tidak hanya berperan sebagai penyampai materi, tetapi juga menjalankan tujuh fungsi utama yang melekat dalam profesinya. Ia menjelaskan bahwa guru harus mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan menginspirasi.
“Kondisi pendidikan di masyarakat ini, guru adalah orang yang pertama kali melihat masa depan Indonesia. Karakter, literasi, dan numerasi menjadi tujuan pendidikan,” tegas Syafrudin.
Lebih lanjut, Syafrudin memaparkan bahwa keberhasilan proses belajar mengajar di dalam kelas sangat ditentukan oleh tahapan-tahapan sistematis yang dirancang oleh guru.
Ia menjelaskan bahwa ada tiga tahapan penting yang sebaiknya dilakukan oleh setiap pendidik untuk melancarkan pemberian materi kepada siswa.
Pertama, tahapan pembukaan, di mana guru berupaya memfokuskan perhatian siswa yang baru saja memasuki ruang kelas. Kemudian, tahapan inti yang berisi penyampaian materi pembelajaran secara mendalam. Terakhir, tahapan penutup yang menjadi momen refleksi dan evaluasi untuk memastikan seluruh materi telah dipahami oleh siswa.
“Kalau penutup adalah intinya merefleksikan apakah pembelajaran itu menyenangkan, dan evaluasi, memastikan materi dipahami murid,” jelas Syafrudin.
Ia juga menambahkan bahwa seluruh rangkaian tahapan tersebut telah terangkum dalam Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang disusun secara profesional oleh setiap guru.
Pada hari terakhir workshop, tepatnya 25 Juli 2026, para peserta diberikan tugas mandiri yang harus dikumpulkan sebagai bentuk implementasi langsung dari materi yang telah diperoleh selama pelatihan. Tugas tersebut dirancang untuk mengukur sejauh mana pemahaman guru terhadap pemanfaatan IFP dan platform Rumah Pendidikan dalam menyusun skenario pembelajaran mendalam.
Kegiatan ini menjadi langkah konkret SMPN 22 Depok dalam menyelaraskan kompetensi tenaga pendidiknya dengan tuntutan kurikulum berbasis teknologi, sekaligus mempersiapkan mereka menghadapi tantangan pendidikan yang semakin dinamis. (*)
