Jabaran.id – Sebanyak 381 murid dari 53 SMP di Kota Depok memadati gelaran Festival Tunas Bahasa Ibu (FTBI) tingkat Kota Depok yang digelar di SMPN 3 Depok. Mengusung tema ‘Ngamumule Basa Sunda Micinta Lemah Cai’, festival ini menjadi ajang pembuktian bahwa pelestarian bahasa dan budaya daerah masih relevan di tengah gempuran budaya modern, sekaligus menjadi perwujudan rasa cinta tanah air yang diajarkan sejak dini.
Festival yang digagas oleh Dinas Pendidikan Kota Depok ini berlangsung meriah dengan mengangkat tujuh cabang perlombaan. Ratusan murid dari berbagai kecamatan di Kota Depok tampak antusias mengikuti setiap sesi lomba, mulai dari dongeng, pupuh, hingga aksara Sunda. Antusiasme ini bahkan mencatatkan peningkatan signifikan pada salah satu kategori lomba yang selama ini jarang diminati.

Ketua Festival Tunas Bahasa Ibu (FTBI) Kota Depok, Dikdik Cuandi, mengungkapkan bahwa kegiatan ini tidak sekadar ajang kompetisi, melainkan gerakan kolektif untuk merawat bahasa dan budaya Sunda yang menjadi bagian dari identitas masyarakat di wilayah Depok. Menurutnya, pelestarian bahasa daerah melalui festival ini merupakan bentuk nyata kecintaan terhadap budaya lokal yang pada gilirannya memperkuat rasa kebangsaan.
“Tema dari kegiatan ini adalah ‘Ngamumule Basa Sunda Micinta Lemah Cai’ yang artinya melestarikan seni dan budaya. Ini menjadi bukti kecintaan kita kepada tanah air. Cinta tanah air adalah bagian dari iman,” ujar Dikdik Cuandi.
Dikdik Cuandi menjelaskan lebih lanjut bahwa tema yang diusung memiliki makna mendalam. ‘Ngamumule’ berarti merawat atau memelihara, sementara ‘Basa Sunda’ merujuk pada bahasa Sunda, dan ‘Micinta Lemah Cai’ berarti mencintai tanah air. Ia menekankan bahwa pelestarian bahasa daerah sama pentingnya dengan menjaga keutuhan bangsa, karena bahasa adalah salah satu pilar identitas suatu masyarakat.
“Kami ingin menanamkan kepada generasi muda bahwa melestarikan bahasa dan budaya Sunda adalah bagian dari upaya menjaga keutuhan NKRI. Ketika mereka mencintai budayanya sendiri, secara otomatis mereka akan mencintai tanah airnya,” tambah Dikdik Cuandi.
Salah satu catatan penting dari festival tahun ini adalah peningkatan jumlah peserta pada kategori lomba borangan. Dikdik Cuandi mengungkapkan bahwa biasanya kategori ini jarang diminati oleh para pelajar, namun tahun ini mencatatkan partisipasi yang menggembirakan. Ia memaparkan rincian peserta berdasarkan mata lomba secara lengkap.
“Untuk mata lomba dongeng diikuti oleh 56 murid, pupuh 46 murid, carpon 37 murid, sajak 84 murid, borangan 35 murid, biantara 61 murid, dan aksara 63 murid. Total keseluruhan peserta mencapai 381 murid yang mewakili 53 SMP di Kota Depok. Semua mata lomba dibagi dua kategori, yakni murid putra dan putri. Jadi, total akan ada 42 murid yang menjadi juara,” papar Dikdik Cuandi.
Dikdik Cuandi menambahkan bahwa peningkatan peserta borangan ini menjadi indikator positif bahwa minat pelajar terhadap jenis kesenian Sunda tertentu mulai tumbuh. Ia berharap tren ini terus berlanjut dan bahkan semakin meluas ke kategori-kategori lomba lainnya di masa mendatang. Menurutnya, keberagaman minat ini penting untuk memastikan seluruh aspek kebudayaan Sunda tetap terjaga.
Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan Kota Depok, Wahid Suryono, turut mengapresiasi gelaran festival ini. Ia menilai peningkatan jumlah peserta dan sekolah yang terlibat merupakan perkembangan yang sangat baik dan patut diapresiasi. Menurutnya, ini menandakan bahwa kesadaran akan pentingnya melestarikan bahasa daerah mulai tumbuh di kalangan pelajar dan institusi pendidikan.
Wahid Suryono menyoroti tantangan besar dalam melestarikan bahasa Sunda di Kota Depok. Ia mengakui bahwa Kota Depok memiliki karakteristik khusus karena berada di wilayah yang berbatasan langsung dengan DKI Jakarta, sehingga pengaruh budaya dan bahasa dari luar sangat kuat. Minimnya penutur asli bahasa Sunda di lingkungan sehari-hari menjadi kendala utama dalam upaya pelestarian.

“Bahasa Sunda di Depok itu tantangannya luar biasa, karena penutur aslinya sangat jarang. Tantangannya bagaimana membuat bahasa Sunda ini relate dalam kehidupan sehari-hari,” ungkap Wahid Suryono.
Lebih lanjut, Wahid Suryono menjelaskan bahwa bahasa adalah identitas suatu bangsa. Ia menegaskan bahwa bahasa Sunda merupakan identitas dari wilayah Kota Depok yang secara historis dan geografis berada di kawasan budaya Sunda. Oleh karena itu, pelestarian bahasa Sunda menjadi tanggung jawab bersama, tidak hanya bagi pemerintah, tetapi juga seluruh elemen masyarakat.
“Bahasa adalah identitas. Bahasa Sunda adalah identitas dari lokasi Kota Depok. Kami berharap dari acara ini bisa menemukan talenta-talenta untuk prestasi dan perkembangan di Kota Depok,” tegas Wahid Suryono.
Wahid Suryono juga memaparkan bahwa Dinas Pendidikan Kota Depok telah menyusun sejumlah program untuk mendukung pelestarian bahasa Sunda di sekolah-sekolah. Salah satunya adalah dengan memasukkan muatan lokal bahasa Sunda dalam kurikulum pembelajaran. Selain itu, pihaknya juga mendorong para guru untuk lebih kreatif dalam mengajarkan bahasa Sunda agar siswa merasa tertarik dan tidak menganggapnya sebagai pelajaran yang membosankan.
“Kami tidak ingin bahasa Sunda hanya menjadi mata pelajaran formal yang dihafalkan. Kami ingin anak-anak merasakan keindahan dan nilai-nilai luhur yang terkandung di dalamnya. Makanya kegiatan seperti FTBI ini sangat kami dukung,” imbuh Wahid Suryono.
Festival Tunas Bahasa Ibu ini diharapkan menjadi wadah bagi para pelajar untuk mengekspresikan kreativitas mereka melalui bahasa dan budaya Sunda. Dengan adanya kompetisi di berbagai kategori, para siswa tidak hanya dituntut untuk menguasai bahasa secara teoritis, tetapi juga mampu mengaplikasikannya dalam bentuk karya seni yang menarik, seperti dongeng, puisi (sajak), hingga pidato (biantara) yang mengandung nilai-nilai pendidikan karakter.
Dari sisi pendidikan karakter, Wahid Suryono menjelaskan bahwa melalui kegiatan ini, siswa diajarkan untuk menghargai keberagaman dan melestarikan warisan budaya leluhur. Nilai-nilai seperti gotong royong, kesantunan, dan kebijaksanaan yang terkandung dalam budaya Sunda diharapkan dapat tertanam dalam diri generasi muda.
“Kami berharap kegiatan ini bisa terus berlanjut dan menjadi agenda tahunan yang dinanti-nanti. Dengan demikian, semangat melestarikan bahasa dan budaya Sunda tidak pernah padam dan terus diwariskan dari generasi ke generasi,” tutup Wahid Suryono. (*)
