HomeNewsSatu Semester 6 Dokter Gugur, Novi Anggriani Desak Evaluasi Total Program Internsip

Satu Semester 6 Dokter Gugur, Novi Anggriani Desak Evaluasi Total Program Internsip

Jabaran.id – Dunia kedokteran Indonesia kembali diselimuti awan hitam. Hanya dalam waktu kurang dari enam bulan, enam dokter muda yang menjalani Program Internsip Dokter Indonesia (PIDI) dilaporkan meninggal dunia saat bertugas di berbagai daerah.

Teranyar menimpa dr. Siti Zahra Maghfira di Jakarta Selatan yang hingga kini masih dalam penyelidikan pihak kepolisian kian memperpanjang daftar duka dan memicu gelombang keprihatinan publik.

Tragedi beruntun ini memantik kritik dari politikus perempuan asal Depok, Novi Anggriani. Ia menilai, tingginya angka kematian peserta internsip dalam kurun waktu singkat menjadi sinyal bahaya yang menandakan adanya masalah mendasar dalam sistem tata kelola, beban kerja, hingga jaminan keselamatan para dokter muda.

“Baru seminggu kemarin kita mendapat kabar duka, sudah ada lagi dokter internship yang meninggal,” ujar Novi Anggriani dengan nada prihatin, Selasa, 28 Juli 2026.

- Advertisement -

Novi menegaskan, deretan kasus fatal ini tidak boleh dianggap sebagai kebetulan belaka. Menurutnya, berulangnya peristiwa serupa menunjukkan lemahnya respons dan langkah antisipasi dari pihak-pihak yang bertanggung jawab atas pelaksanaan program pelatihan profesi tersebut.

“Seharusnya peristiwa sebelum-sebelumnya menjadi bahan evaluasi mendasar,” tegas Novi.

Lebih lanjut, ia meminta pemerintah melalui Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendikti-Saintek) bersama Kementerian Kesehatan (Kemenkes) untuk tidak tinggal diam dan segera turun tangan secara konkret.

“Evaluasi menyeluruh mulai dari jam kerja, fasilitas pendukung, kesehatan fisik dan mental, hingga pengawasan di lapangan harus menjadi prioritas utama agar tidak ada lagi nyawa yang melayang,” papar Novi.

Novi juga menyoroti tentang pernyataan Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin meminta seluruh peserta PIDI dan Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) kembali menjalani skrining kesehatan jiwa menyusul dugaan dokter peserta internship yang meninggal di Kalibata, Jakarta Selatan.

“Awal masuk di Fakultas Kedokteran aja mereka (Mahasiswa kedokteran) sudah dites kesehatan loh. Oke boleh saja skrinning peserta internship, tapi ya sistemnya harus dirombak,” tegas Novi.

Novi juga menyoroti pentingnya the right man on the right place atau penempatan posisi dan jabatan yang sesuai dengan disiplin ilmu serta keahlian masing-masing.

“Jadi sistemnya harus dibedah dulu, dicari akar permasalahannya, tidak hanya dokter Internship ya, tapi nakes-nakes lainnya, mereka over work, kerjanya berlebihan, kemudian tidak dilindungi dan honornya juga disesuaikan, bagaimana agar tidak terjadi lagi dokter Internship yang meninggal saat bertugas,” katanya.

Bagi Novi yang juga aktivis perempuan dan anak ini, perlindungan terhadap para tenaga medis muda adalah investasi langsung bagi masa depan pelayanan kesehatan nasional. Menjaga keselamatan mereka yang berada di garis depan bukan lagi sekadar urusan regulasi, melainkan panggilan kemanusiaan.

“Ini bicara soal nyawa manusia, bukan sebatas profesi,” pungkas Novi Anggriani yang kini berkarir di Boston, Amerika Serikat.

TERBARU

spot_img

POPULER

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here