Jabaran.id – Sebanyak 657 siswa kelas X dari dua SMK negeri di Kota Depok mengikuti kegiatan Perkemahan Kamis Jumat (Perkajum) yang digelar di area lingkungan SMKN 2 Depok pada Kamis – Jumat, 30-31 Juli 2026. Kegiatan yang berlangsung selama dua hari ini merupakan kolaborasi antara SMKN 2 Depok dan SMKN 5 Depok dalam upaya penguatan pendidikan karakter bagi generasi muda.
Perkemahan tersebut diikuti oleh 552 siswa dari SMKN 2 Depok dan 105 siswa dari SMKN 5 Depok. Kegiatan ini dirancang sebagai wadah pembentukan kepribadian siswa melalui serangkaian aktivitas yang mengintegrasikan nilai-nilai keagamaan, kedisiplinan, dan kreativitas.

Wakil Kesiswaan SMKN 2 Depok, Dian Kurnia Utami, menjelaskan bahwa Perkajum menjadi ajang strategis bagi siswa untuk mengembangkan potensi diri di luar jam pembelajaran formal.
“Kegiatan Perkajum ini kami desain sebagai sarana pembentukan karakter siswa secara menyeluruh. Kami ingin siswa tidak hanya unggul dalam kompetensi kejuruan, tetapi juga memiliki kepribadian yang tangguh, religius, dan berjiwa sosial,” ujar Dian Kurnia Utami saat ditemui di lokasi perkemahan.
Dian Kurnia Utami menambahkan bahwa rangkaian kegiatan dalam Perkajum mencakup berbagai aspek pengembangan diri, mulai dari kegiatan keagamaan yang bertujuan memperkuat iman dan takwa, pembentukan karakter melalui latihan kedisiplinan dan kemandirian, hingga api unggun dan pentas seni yang menjadi wadah ekspresi kreativitas siswa.
“Kami melihat bahwa pembentukan karakter tidak bisa dilakukan secara instan. Butuh proses dan metode yang tepat. Melalui perkemahan ini, siswa belajar tentang tanggung jawab, kerja sama tim, dan kepemimpinan dalam suasana yang berbeda dari kegiatan belajar mengajar di kelas,” jelas Dian Kurnia Utami.
Lebih lanjut, Dian Kurnia Utami mengungkapkan bahwa SMKN 2 Depok saat ini memiliki enam konsentrasi keahlian yang menjadi unggulan sekolah, yakni Kuliner, Desain Produksi Busana, Teknik Audio Video, Teknik Instalasi Tenaga Listrik, Teknik Jaringan Komputer dan Telekomunikasi, serta Teknik Pendinginan Tata Udara. Keberagaman kompetensi kejuruan ini, kata Dian Kurnia Utami, menjadi modal penting bagi siswa untuk bersaing di dunia kerja, namun tetap memerlukan penguatan karakter sebagai fondasi utama.

“Meskipun siswa kami dibekali dengan keterampilan teknis yang mumpuni di masing-masing konsentrasi keahlian, kami menyadari bahwa karakter yang kuat adalah kunci kesuksesan mereka di masa depan. Perkajum adalah salah satu upaya kami untuk memastikan bahwa siswa tumbuh menjadi pribadi yang tidak hanya cakap secara teknis, tetapi juga unggul secara moral dan etika,” tambah Dian Kurnia Utami.
Sementara itu, Wakil Hubinmas SMKN 5 Depok, Helvarosa, mengungkapkan bahwa kegiatan ini merupakan pramuka perdana bagi sekolahnya dan menjadi momentum penting dalam perjalanan pendidikan karakter siswa-siswi SMKN 5 Depok. Helvarosa menegaskan bahwa keikutsertaan SMKN 5 Depok dalam Perkajum ini adalah langkah awal yang sangat berarti.
“Ini adalah kegiatan pramuka perdana dari SMKN 5 Depok. Tentu ini menjadi sebuah permulaan yang baik, di mana siswa ditempatkan dalam hal pendidikan karakternya,” ujar Helvarosa dengan antusias.
Helvarosa menjelaskan bahwa SMKN 5 Depok saat ini memiliki tiga konsentrasi keahlian yang dikembangkan, yaitu Kuliner, Manajemen Logistik, dan Bisnis Retail. Menurut Helvarosa, keterlibatan siswa dari ketiga kompetensi keahlian tersebut dalam perkemahan ini menunjukkan komitmen sekolah untuk menghasilkan lulusan yang tidak hanya kompeten di bidangnya, tetapi juga memiliki karakter kepramukaan yang kuat.
“Kami di SMKN 5 Depok percaya bahwa pendidikan karakter harus menjadi prioritas utama. Dengan adanya tiga konsentrasi keahlian yang kami miliki, kami ingin siswa memahami bahwa kemampuan teknis saja tidak cukup. Mereka perlu memiliki integritas, kedisiplinan, dan jiwa kepemimpinan yang akan menjadi bekal berharga ketika mereka terjun ke masyarakat dan dunia kerja,” jelas Helvarosa.
Helvarosa juga menambahkan bahwa kolaborasi dengan SMKN 2 Depok dalam kegiatan ini menjadi pengalaman berharga bagi siswa-siswi SMKN 5 Depok. Menurutnya, interaksi antarsiswa dari dua sekolah yang berbeda dapat memperluas wawasan dan memperkaya pengalaman sosial mereka.
“Kami sangat mengapresiasi kesempatan berkolaborasi dengan SMKN 2 Depok. Ini menjadi pengalaman pertama bagi siswa kami untuk berinteraksi dan bekerja sama dengan siswa dari sekolah lain dalam suasana perkemahan. Hal ini tentu akan memperkaya pengalaman mereka dalam membangun jaringan pertemanan dan kerja sama lintas sekolah,” tambah Helvarosa.
Kepala SMKN 2 Depok, Yudhiansyah, menegaskan bahwa Perkajum merupakan bagian integral dari proses pembentukan karakter siswa yang berkelanjutan. Yudhiansyah menjelaskan bahwa kegiatan ini bukan sekadar acara seremonial, melainkan bagian dari perjalanan panjang siswa untuk menjadi pribadi yang lebih baik.
“Ini adalah bagian dari pembentukan karakter. Di mana, untuk pembentukan karakter siswa menjadi lebih baik, tentunya butuh proses. Oleh karena itu, dalam kegiatan kepramukaan ini adalah bagian dari prosesnya,” tegas Yudhiansyah.
Yudhiansyah berpesan kepada seluruh peserta agar menjadikan Perkajum sebagai bagian dari proses perjalanan siswa untuk menjadi lebih baik lagi. Ia mengingatkan bahwa pendidikan karakter yang diinternalisasi melalui kegiatan kepramukaan akan membentuk pribadi yang sesuai dengan nilai-nilai luhur yang diharapkan.
“Jadikan Perkajum ini sebuah bagian dari proses perjalanan siswa untuk menjadi lebih baik lagi. Menjadi pribadi yang cageur, bageur, bener, pintar, dan singer,” pesan Yudhiansyah dengan penuh harap.
Yudhiansyah menjelaskan bahwa filosofi “cageur, bageur, bener, pintar, dan singer” yang ia sampaikan merupakan cerminan dari profil siswa yang diharapkan dapat terlahir dari proses pendidikan di SMKN 2 Depok. Menurut Yudhiansyah, kelima nilai tersebut menjadi tolok ukur keberhasilan pembentukan karakter siswa secara holistik.
“Cageur berarti sehat jasmani dan rohani, bageur berarti baik budi pekerti dan perilaku, bener berarti benar dalam bertindak dan berkata, pintar berarti cerdas dalam berpikir dan berkarya, serta singer yang berarti memiliki kepekaan sosial dan kepedulian terhadap lingkungan. Kelima nilai ini kami tanamkan secara berkesinambungan melalui berbagai kegiatan, termasuk Perkajum ini,” jelas Yudhiansyah.
Yudhiansyah juga menyoroti pentingnya kegiatan kepramukaan sebagai wahana pembelajaran di luar kelas yang efektif. Ia menambahkan bahwa melalui kegiatan seperti api unggun, siswa belajar tentang kebersamaan dan komunikasi; melalui pentas seni, siswa mengekspresikan kreativitas dan kepercayaan diri; sementara melalui kegiatan keagamaan, siswa memperdalam nilai-nilai spiritual yang menjadi landasan perilaku sehari-hari.
“Proses pembentukan karakter tidak bisa instan. Butuh waktu, kesabaran, dan metode yang tepat. Perkemahan seperti ini adalah salah satu metode yang kami yakini efektif. Kegiatan di alam terbuka, interaksi antarsiswa, dan pengalaman langsung dalam memecahkan masalah bersama-sama, semua itu adalah bagian dari proses pembelajaran yang tidak bisa didapatkan di dalam kelas,” tambah Yudhiansyah. (*)
