Jabaran.id – Di tengah gempuran budaya populer dan derasnya arus informasi global, SMPN 13 Depok justru mengambil langkah berani dengan menghidupkan kembali kearifan lokal melalui program literasi berbasis Bahasa Sunda. Program yang digelar secara rutin ini membuktikan bahwa literasi memiliki makna yang jauh lebih luas dari sekadar kemampuan membaca dan menulis.
Setiap pekan ketiga pada hari Jumat, suasana di SMPN 13 Depok berubah menjadi panggung budaya. Program Literasi yang merupakan agenda rutin sekolah tersebut pada bulan ini mengangkat tema khusus, yakni Bahasa Sunda.

Kepala SMPN 13 Depok, Eva Juariah, menjelaskan bahwa pemilihan bahasa daerah sebagai tema bukan tanpa alasan, melainkan sebagai upaya melestarikan budaya sekaligus memperluas wawasan siswa.
“Ini merupakan program rutin sekolah. Di bulan ini, program Literasi tersebut adalah Bahasa Sunda. Karena sejatinya arti dari literasi itu sangat luas, tidak hanya tentang Bahasa Indonesia saja, seluruh mata pelajaran termasuk dalam literasi,” ujar Eva Juariah, Jumat (21/8/2026).
Ia menegaskan bahwa pemahaman literasi di lingkungan pendidikannya tidak terpaku pada teks tertulis semata. Literasi diartikan sebagai kemampuan seseorang untuk mengakses, memahami, dan menggunakan informasi secara kritis, yang bisa bersumber dari berbagai disiplin ilmu, termasuk seni dan budaya.
Berbeda dengan metode pembelajaran konvensional yang berfokus pada teori dan hafalan, SMPN 13 Depok mengemas literasi Bahasa Sunda dalam bentuk pertunjukan. Kegiatan ini dirancang untuk mengasah kemampuan siswa dalam berbahasa Sunda secara aktif dan kreatif melalui berbagai cabang seni.
“Karena Bahasa Sunda bukanlah Bahasa sehari-hari, maka kegiatannya diisi dengan penampilan saja, seperti biantara, borangan, pupuh, kawih, seperti halnya yang ada di mata lomba Festival Tunas Bahasa Ibu (FTBI),” jelas Eva.

Dalam praktiknya, para siswa diberikan kesempatan untuk tampil di depan teman-temannya dengan membawakan pidato (biantara), mendongeng, atau menyanyikan tembang Sunda (pupuh dan kawih). Sementara itu, siswa lainnya bertugas untuk menyimak dengan seksama dan berusaha mengartikan penampilan tersebut ke dalam Bahasa Indonesia.
Menurut Eva, metode ini tidak hanya melatih kemampuan berbicara siswa yang tampil, tetapi juga melatih daya simak dan pemahaman siswa yang menjadi penonton. Hal ini sejalan dengan upaya sekolah untuk menciptakan lingkungan belajar yang interaktif dan menyenangkan, sekaligus membangun karakter siswa agar lebih percaya diri.
“Jadi, siswa diberikan kesempatan untuk tampil dengan Bahasa Sunda, siswa yang lainnya menyimak dan mengartikannya dalam Bahasa Indonesia,” tambahnya.
Program literasi ini didasari oleh visi dan misi sekolah yang selaras dengan arahan Dinas Pendidikan Kota Depok. Tujuan utamanya adalah meningkatkan kompetensi dasar siswa, terutama dalam hal literasi dan numerasi, namun dengan pendekatan yang kontekstual dan berbasis budaya lokal.
“Tujuan dari kegiatan literasi ini sesuai dengan visi dan misi SMPN 13 Depok dan Dinas Pendidikan Kota Depok, yakni meningkatkan kemampuan literasi dan numerasi,” pungkas Eva. (*)
