Jabaran.id – SMPN 26 Depok yang menggelar kegiatan puncak Kokurikuler bertajuk Selebrasi dengan mengangkat tema utama “Berkarya dalam Bahasa, Bersatu dalam Keberagaman Budaya Jawa Barat”. Agenda tahunan ini dirancang sebagai wadah unjuk bakat, kreativitas, dan apresiasi budaya bagi seluruh siswa dari kelas VII hingga kelas IX.
Ketua Panitia Kokurikuler SMPN 26 Depok, Noimah, menjelaskan bahwa fokus utama pementasan pada puncak acara selebrasi tahun ini ditujukan bagi para siswa kelas IX. Penampilan seni pertunjukan, seni tari, musik, olah kuliner, hingga sajian media digital dibawakan secara langsung oleh seluruh rombongan belajar (rombel) di kelas IX.

“Kegiatan selebrasi disasarnya adalah kelas IX dengan ada penampilan seni tari, seni pertunjukan, kuliner, media digital, seni musik. Total ada 11 rombongan belajar untuk kelas IX,” ujar Noimah.
Noimah memaparkan bahwa siswa kelas VII dibebankan tugas pemuatan karya fisik berupa pembuatan miniatur rumah adat, maket makanan khas daerah yang dibentuk menggunakan bahan plastisin, serta perancangan poster edukatif. Sementara untuk siswa kelas VIII, proyek pembelajaran difokuskan pada pembuatan kerajinan batik dan produksi video podcast yang mengangkat topik pembahasan seputar kebudayaan Jawa Barat. Dalam proses persiapan pertunjukan bagi siswa kelas IX, pihak panitia dan guru menerapkan metode tutor sebaya, yakni siswa yang memiliki kemampuan atau wawasan lebih baik bertugas membagikan pengetahuan dan mendampingi teman-teman setingkatnya.
“Pendekatan tutor sebaya melatih siswa untuk mengasah keterampilan komunikasi, membangun empati, serta memperkuat solidaritas antarteman. Selain itu, pengerjaan proyek berbasis budaya lokal seperti pembuatan maket dan karya seni kriya membantu siswa memahami konsep keragaman arsitektur tradisional serta kekayaan kuliner khas Nusantara secara lebih konkret,” ucapnya.
Sementara itu, Kepala SMPN 26 Depok, Ahmad Sujai, menyampaikan bahwa kegiatan puncak Kokurikuler ini menjadi ajang penting untuk menunjukkan hasil belajar siswa yang telah berlangsung selama sepekan penuh.

“Berkarya dalam bahasa, tidak lupa dengan akar budaya khas Jawa Barat yang merupakan domisili Kota Depok. Kedepannya harus menjadi anak yang cerdas dalam akademik tapi tidak melupakan akar budaya kita bisa mengenal, begitu kaya khasanah budaya Jawa Barat mulai,” kata Ahmad Sujai.
Ahmad Sujai menambahkan bahwa pengenalan dan pemahaman budaya lokal sangat penting bagi tumbuh kembang generasi muda di era digital. Kota Depok yang secara administratif berada di wilayah Provinsi Jawa Barat memiliki keterkaitan erat dengan nilai-nilai sejarah dan kebudayaan Sunda. Melalui integrasi materi kebudayaan ke dalam kegiatan sekolah, siswa diharapkan tidak hanya meraih prestasi akademis yang tinggi, tetapi juga memiliki kesadaran sejarah serta kebanggaan terhadap warisan budaya daerahnya sendiri.
“Keberadaan ragam budaya Jawa Barat yang sangat kaya—mulai dari seni pertunjukan, bahasa daerah, hingga kuliner tradisional—menjadi sarana efektif untuk memperluas wawasan kebangsaan para siswa. Pembelajaran berbasis proyek budaya juga membantu siswa mengasah keterampilan, seperti berpikir kritis, kreativitas, dan literasi media, yang sangat dibutuhkan untuk menghadapi tantangan di masa depan,” jelasnya. (*)


