Jabaran.id —Buku karya Didin Ra Dien yang bertajuk Perjuangan Rakyat Jasinga resmi mengantongi ISBN dan terdaftar di Dinas Arsip dan Perpustakaan Kabupaten Bogor, membawa angin segar bagi penelusuran sejarah lokal yang bersumber dari catatan sederhana dan ingatan para sesepuh.
Bedah Buku karya Didin Ra Dien berlangsung di SMK Anak Bangsa, Desa Rengasjajar, Kecamatan Cigudeg, Kabupaten Bogor.
Buku tersebut tidak sekadar dipandang sebagai sebuah karya tulis, tetapi juga menjadi bagian dari upaya menghadirkan kembali jejak sejarah lokal kepada generasi hari ini.
Di tengah derasnya informasi dan perubahan zaman, cerita tentang perjuangan masyarakat di masa lalu menjadi penting untuk terus dirawat melalui literasi.
Sejumlah tokoh hadir dalam kegiatan tersebut. Di antaranya Anggota DPRD Kabupaten Bogor Dr. Usep Nukliri, Kepala Dinas Arsip dan Perpustakaan Kabupaten Bogor Iwan Irawan, S.E., M.Si., perwakilan Dinas Kebudayaan Kabupaten Bogor Kang Oman Sanjaya, serta Pengawas Wilayah Dinas Pendidikan Kabupaten Bogor, Ade Priatna.
Kepala Dinas Arsip dan Perpustakaan Kabupaten Bogor, Iwan Irawan, memberikan apresiasi terhadap lahirnya buku tersebut.
“Karya seperti Perjuangan Rakyat Jasinga dapat menjadi pemantik agar semakin banyak karya sejarah yang lahir dari para sejarawan maupun pegiat literasi lokal,” jelasnya.
Apresiasi serupa disampaikan Dr. Usep Nukliri. Ia menilai lahirnya sebuah buku sejarah lokal merupakan langkah penting dalam memperluas pengetahuan masyarakat mengenai perjalanan daerah dan masyarakatnya.
“Karya-karya sejarah serupa terus dikembangkan, sehingga dokumentasi mengenai perjalanan masyarakat Bogor tidak berhenti pada satu karya saja,” tuturnya.
Sementara itu, mewakili Plt. Kepala Dinas Kebudayaan Kabupaten Bogor Titi Sugiarti, S.T., M.M., Kang Oman Sanjaya turut menyampaikan apresiasi.
“Lahirnya buku tersebut menjadi kebanggaan tersendiri karena menunjukkan bahwa gagasan dan kecintaan terhadap sejarah dapat dituangkan menjadi sebuah karya yang bisa dibaca dan diwariskan kepada generasi berikutnya,” terangnya.
Pada akhirnya, bedah buku Perjuangan Rakyat Jasinga bukan hanya tentang membicarakan sebuah buku.
Lebih jauh, kegiatan itu menjadi ruang untuk mempertemukan ingatan masa lalu dengan generasi hari ini—agar sejarah tidak hanya menjadi cerita yang pernah ada, tetapi tetap hidup melalui tulisan, pembacaan, dan kesadaran untuk merawatnya.
Sebab, sebuah daerah tidak hanya dibangun oleh jalan, gedung, dan pembangunan fisik. Ia juga dibentuk oleh ingatan, perjuangan, dan kisah orang-orang yang pernah meletakkan dasar bagi kehidupan generasi setelahnya.


