Jabaran.id – Memasuki hari pertama sekolah di semester kedua, Madrasah Ibtidaiyah (MI) Terpadu Raudlatul Ulum yang berlokasi di Jalan H. Saenan, Kelurahan Bedahan, Kecamatan Sawangan, Kota Depok, mengambil langkah inspiratif dalam menyambut kehadiran para peserta didiknya. Alih-alih langsung menerapkan kegiatan belajar mengajar (KBM) formal di dalam kelas, pihak sekolah justru menciptakan atmosfer yang meriah dengan menghadirkan pendongeng profesional, Ka Eman dan Acun.
Strategi ini diambil sebagai bentuk pendekatan psikologis agar siswa dapat beradaptasi kembali dengan lingkungan sekolah secara menyenangkan setelah menikmati masa libur panjang selama beberapa pekan.

Kepala MI Terpadu Raudlatul Ulum, Ida Maulida, menjelaskan bahwa pemilihan kegiatan mendongeng ini bertujuan untuk memberikan masa transisi yang nyaman bagi para siswa.
“Perubahan rutinitas dari masa liburan ke jadwal sekolah yang ketat sering kali menimbulkan hambatan emosional pada anak jika tidak dikelola dengan baik,” ucap Ida.
Ida Maulida menegaskan bahwa kegiatan hiburan ini menjadi wadah penyesuaian agar siswa merasa nyaman untuk kembali ke sekolah tanpa merasa terbebani secara instan oleh materi pelajaran yang berat. Hal ini sejalan dengan upaya sekolah dalam membangun kesehatan mental siswa, di mana kenyamanan psikologis dianggap sebagai fondasi utama sebelum memulai proses transfer ilmu pengetahuan di ruang kelas.
Dalam penjelasannya yang lebih mendalam, Ida Maulida mengungkapkan bahwa dongeng bukan sekadar hiburan visual maupun audio semata, melainkan instrumen pedagogis yang efektif untuk menanamkan karakter dan nilai-nilai moral. Melalui narasi yang dibawakan oleh Ka Eman dan Acun, siswa diajak untuk mengasah kemampuan literasi, imajinasi, dan daya kritis mereka sejak dini.
Ida menambahkan fakta bahwa secara ilmiah, mendengarkan dongeng mampu menstimulasi perkembangan otak anak, khususnya dalam memperkaya kosakata dan melatih fokus secara natural. Dengan menghadirkan tokoh-tokoh inspiratif dalam cerita, sekolah berharap siswa dapat menyerap pesan-pesan kebaikan yang nantinya akan mendukung praktik pembiasaan karakter positif di sekolah maupun di lingkungan rumah.
Lebih lanjut, keberadaan Ka Eman dan Acun di tengah lapangan sekolah menciptakan interaksi dua arah yang dinamis, yang secara tidak langsung melatih keterampilan sosial siswa setelah sekian lama tidak bertemu dengan teman sejawat.
“Ketika anak-anak merasa bahagia di hari pertama mereka, maka motivasi belajar mereka pada hari-hari berikutnya akan meningkat secara signifikan. Fenomena ini dikenal dalam dunia pendidikan sebagai upaya meminimalisir school refusal atau keengganan bersekolah pascalibur,” terangnya.
Melalui pendekatan yang humanis ini, MI Terpadu Raudlatul Ulum berupaya memastikan bahwa sekolah tetap menjadi tempat yang dirindukan oleh anak-anak, sebuah taman belajar yang tidak hanya menuntut prestasi akademik tetapi juga merayakan kegembiraan masa kecil.
“Kegiatan yang berlangsung secara kolaboratif ini juga menjadi momentum bagi para guru untuk melakukan observasi awal terhadap kesiapan mental siswa sebelum memulai pembelajaran di semester baru,” terangnya.
Ida Maulida menyampaikan fakta bahwa lingkungan belajar yang diawali dengan keceriaan mampu menurunkan kadar hormon stres pada anak, sehingga mereka menjadi lebih terbuka terhadap informasi baru.
“Kami berkomitmen dalam menerapkan pendidikan yang berpusat pada anak, di mana aspek kenyamanan dan kebahagiaan siswa diposisikan sebagai prioritas utama dalam memulai kalender akademik di awal tahun ini,” tuturnya. (*)
