Jabaran.id – SMPN 34 Depok menggelar perayaan Hari Kartini pada Selasa, 21 April 2026, dengan rangkaian kegiatan yang sarat akan nilai budaya dan penguatan karakter bagi siswa. Acara yang dimulai sejak pukul 06.30 hingga 11.30 WIB ini melibatkan partisipasi aktif siswa dari jenjang kelas VII, VIII, hingga IX.
Kepala SMPN 34 Depok, Siti Rohaya, menjelaskan bahwa sekolah telah menyiapkan berbagai mata lomba yang variatif untuk mengakomodasi minat dan bakat siswa yang beragam. Dalam agenda kali ini, terdapat lima kompetisi utama yang diselenggarakan, yakni lomba baca puisi, peragaan busana atau fashion show, drama musikal, lomba menyanyi, serta penganugerahan khusus bertajuk ‘Kartini Awards’.

Penyelenggaraan berbagai lomba ini bertujuan untuk melatih keberanian siswa tampil di depan publik sekaligus mengasah kemampuan literasi dan seni mereka melalui interpretasi nilai-nilai perjuangan Kartini dalam karya-karya kreatif.
“Dalam rangka memperingati Hari Kartini, SMPN 34 Depok mengadakan lomba puisi, fashion show, drama musikal, menyanyi, dan Kartini Awards,” ujar Siti Rohaya.
Siti Rohaya menambahkan bahwa kategori Kartini Awards menjadi salah satu sorotan utama, karena penghargaan ini diberikan kepada siswa yang mampu merepresentasikan keteladanan, dedikasi, dan prestasi yang terinspirasi dari sosok Raden Ajeng Kartini. Fakta empiris dalam dunia pendidikan menunjukkan bahwa kompetisi berbasis bakat seperti drama musikal dan menyanyi sangat efektif dalam membangun kecerdasan interpersonal serta kemampuan kerja sama tim pada remaja.
“Atmosfer budaya sangat kental terasa di lingkungan sekolah karena adanya kebijakan penggunaan pakaian tradisional bagi seluruh warga sekolah,” jelas Siti Rohaya.
Siti Rohaya menegaskan bahwa bagi para siswa yang tidak terdaftar sebagai peserta lomba, mereka diwajibkan mengenakan pakaian adat sebagai bentuk penghormatan dan pelestarian budaya. Siswa perempuan mengenakan kebaya yang melambangkan keanggunan serta ketangguhan, sementara siswa laki-laki mengenakan pangsi sebagai simbol kekuatan dan kearifan lokal. Bagi para peserta lomba, busana yang dikenakan menyesuaikan dengan ketentuan teknis masing-masing kategori guna mendukung performa maksimal di atas panggung.

“Seluruh siswa yang tidak mengikuti lomba juga mengenakan pakaian adat atau kebaya untuk siswa perempuan dan pangsi untuk siswa laki-laki. Bagi peserta lomba, pakaian menyesuaikan dengan ketentuan lomba masing-masing,” lanjut Siti Rohaya.
Siti Rohaya juga memaparkan fakta penting mengenai penggunaan pakaian adat di lingkungan sekolah, di mana aktivitas ini secara tidak langsung mengenalkan keragaman etnis di Indonesia kepada siswa. Penggunaan kebaya dan pangsi bukan sekadar tren tahunan, melainkan upaya konkret dalam menjaga keberlangsungan warisan budaya tak benda yang telah diakui secara nasional maupun internasional.
Seluruh rangkaian perayaan Hari Kartini di SMPN 34 Depok ini diharapkan mampu memberikan dampak jangka panjang bagi perkembangan psikologis siswa. Melalui kompetisi puisi dan drama musikal, siswa diajak untuk menyelami pemikiran Kartini tentang pendidikan dan kesetaraan hak, yang kemudian diaktualisasikan dalam bentuk karya seni.
“Sekolah berkomitmen untuk terus konsisten menjadikan momen bersejarah ini sebagai tonggak penguatan literasi budaya, sehingga para siswa tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki akar budaya yang kuat dan mentalitas yang tangguh dalam menghadapi tantangan zaman,” pungkas Siti Rohaya. (*)
