Jabaran.id, Depok — Bukan cuma soal angka. Per Juni 2026, Bank BRI menyalurkan sekitar Rp85 triliun KUR ke sektor pedesaan. Angkanya setara 60% dari total KUR BRI dan menjadikannya porsi KUR terbesar di perbankan nasional. Di saat yang sama, BRI menegaskan mereka tetap mengejar profit, tapi tidak meninggalkan aspek kepedulian.
Kantor pusat BRI di Jakarta mungkin ramai transaksi dan promo cashback. Tapi jantung penyaluran KUR-nya ada di desa. Data terbaru menunjukkan porsi KUR Pedesaan BRI mencapai Rp85 triliun per Juni 2026.
“Ini bukti orientasi kami jelas. Kami profit oriented, tapi juga concern oriented,” kata Group Head Corporate Secretary BRI, Dhanny.
Menurut Dhanny, logika bisnis BRI tidak bisa dilepaskan dari misi pemberdayaan. Karena itu lahir program BRI Peduli yang menyasar 3 pilar: Sosial, Ekonomi, dan Lingkungan. Jangkauannya bahkan sampai ke daerah 3T, Tertinggal, Terdepan, dan Terluar.
BRI Peduli tidak berhenti di bantuan umum. Program beasiswa digulirkan, termasuk skema khusus untuk jurnalis. Tujuannya membuka akses pendidikan bagi kelompok yang sering berada di garis depan informasi publik.
Di sektor ekonomi, fokus BRI adalah membuat UMKM tidak nyaman di zona lokal saja. Pendampingan diberikan mulai dari pelatihan ekspor, sertifikasi produk, hingga kurasi bisnis.
“Tahun lalu kami mempertemukan langsung pelaku UMKM binaan dengan buyer. Tujuannya satu yaitu mereka harus siap ekspor,” ujar Dhanny.
Langkah ini membuat UMKM binaan BRI punya jalur untuk naik kelas dari warung desa ke pasar global.
Pilar ketiga menyentuh isu keberlanjutan. BRI aktif mengelola gas emisi dan menjalankan program controlling sampah. Bagi BRI, ini bagian dari tanggung jawab membangun Indonesia, bukan sekadar menghitung margin.
Kombinasi KUR Rp85 triliun yang 60%-nya mengalir ke pedesaan, ditambah program BRI Peduli 3 pilar, membuat narasi BRI tahun ini berbeda. Jakarta boleh jadi pusat transaksinya. Tapi arah kebijakan dan dampaknya, sengaja diarahkan ke desa, ke 3T, dan ke panggung ekspor.
Bagi BRI, memajukan Indonesia berarti memastikan pertumbuhan tidak hanya terasa di laporan keuangan, tapi juga di dapur UMKM dan ruang kelas di pelosok.

Untuk melihat dampaknya, Pemilik Usaha Alpukat di pinggiran Jakarta, Ricky Juliansyah merupakan salah satu nasabah BRI yang mengembangkan usahanya dari pinjaman KUR.
“Dulu saya pas baru mulai usaha alpukat kecil-kecilan, hanya puluhan kilogram, saya sudah siap hingga puluhan ton,” tutupnya.(*)
