Jabaran.id — Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di SMPN 13 Depok tidak hanya menggelar ceramah dan lomba keagamaan, tetapi juga menyalurkan santunan kepada 126 siswa anak yatim dan dhuafa. Kegiatan yang melibatkan seluruh peserta didik tanpa terkecuali itu menjadi penanda bahwa momentum Maulid dijadikan ruang bersama untuk menumbuhkan karakter, kepedulian, dan kecintaan kepada Rasulullah SAW.
Kepala SMPN 13 Depok, Eva Juariah, menyampaikan bahwa peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW tahun ini dirancang sebagai agenda yang menyentuh dua sisi sekaligus, yakni sisi spiritual dan sisi sosial. Menurutnya, santunan kepada 126 siswa anak yatim dan dhuafa merupakan wujud nyata dari nilai-nilai yang diajarkan Rasulullah SAW, terutama dalam hal kepedulian terhadap sesama.
“Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW ini kami rangkaikan dengan santunan untuk 126 siswa anak yatim dan dhuafa. Ini adalah bentuk nyata dari meneladani Rasulullah SAW, karena beliau sangat menyayangi anak-anak yatim dan kaum dhuafa,” ujar Eva.
Ia menjelaskan bahwa penyelenggaraan kegiatan tersebut tidak lepas dari dukungan komite sekolah. Menurut Eva, kolaborasi antara sekolah dan komite menjadi kunci agar agenda keagamaan dapat berjalan dengan lancar, termasuk dalam hal penggalangan dana santunan dan penyediaan kebutuhan acara. Sekolah, katanya, dibantu komite dalam memastikan seluruh rangkaian kegiatan dapat terselenggara dengan baik.
“Kami sangat terbantu oleh komite sekolah. Dukungan mereka membuat kegiatan ini bisa berjalan sesuai rencana, terutama untuk santunan anak yatim dan dhuafa,” jelasnya.
Eva menegaskan bahwa peringatan Maulid di SMPN 13 Depok melibatkan seluruh peserta didik, baik yang beragama Islam maupun non-Muslim. Namun, ia menekankan bahwa pelaksanaannya dilakukan dengan konteks dan tempat yang berbeda, sesuai dengan kebutuhan dan keyakinan masing-masing siswa. Menurutnya, prinsip kebersamaan tetap dijunjung tinggi tanpa mengabaikan penghormatan terhadap perbedaan.

“Semua murid terlibat, baik yang Islam maupun non-Muslim. Untuk yang non-Muslim, kegiatan dilakukan dengan konteks dan tempat yang berbeda, seperti menonton film, kajian Firman Tuhan, dan bina iman. Jadi semua tetap terlibat, tetapi sesuai dengan jalur masing-masing,” tuturnya.
Eva menambahkan bahwa tema besar peringatan Maulid tahun ini adalah meneladani tauladan Nabi Muhammad SAW untuk membentuk generasi yang cerdas, berkarakter, dan berakhlak mulia. Menurutnya, tiga kata kunci tersebut menjadi arah pembinaan di sekolah, terutama dalam menghadapi tantangan zaman yang menuntut siswa tidak hanya pintar secara akademik, tetapi juga kuat secara moral.
“Meneladani tauladan Nabi Muhammad SAW adalah cara kami membentuk generasi yang cerdas, berkarakter, dan berakhlak mulia. Kecerdasan tanpa karakter akan rapuh, maka keduanya harus berjalan seiring,” paparnya.
Untuk mencapai tujuan tersebut, sekolah menggelar berbagai lomba yang melibatkan seluruh peserta didik. Eva menyebutkan bahwa lomba-lomba tersebut mencakup Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ), Musabaqah Hifzil Quran (MHQ), ceramah agama, nasyid, kaligrafi, poster, dan ceramah Islam. Menurutnya, ajang ini menjadi ruang ekspresi bagi siswa untuk menampilkan bakat sekaligus memperdalam pemahaman keagamaan.
“Lomba-lombanya melibatkan seluruh peserta didik, mulai dari MTQ, MHQ, ceramah agama, nasyid, kaligrafi, poster, sampai ceramah Islam. Untuk yang non-Muslim, ada kegiatan menonton film, kajian Firman Tuhan, dan bina iman. Semua difasilitasi,” ucapnya.
Eva memaparkan bahwa tujuan dari seluruh rangkaian kegiatan itu adalah agar peserta didik tumbuh menjadi pribadi yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, kreatif, komunikatif, bernalar kritis, kolaboratif, berkewargaan, dan sehat. Menurutnya, profil tersebut sejalan dengan dimensi pembinaan karakter yang ingin dicapai sekolah melalui pendekatan keagamaan yang kontekstual.
“Tujuannya agar peserta didik menjadi orang yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan YME, kreatif, komunikatif, bernalar kritis, kolaboratif, berkewargaan, dan sehat. Ini yang kami harapkan tumbuh dari kegiatan seperti ini,” kata Eva.
Lebih jauh, Eva menyampaikan harapan agar siswa terbiasa melakukan literasi sebagai wujud implementasi cinta kepada Nabi Muhammad SAW. Menurutnya, literasi tidak hanya membaca dan menulis, tetapi juga kemampuan memahami, merefleksikan, dan mengamalkan nilai-nilai kehidupan, termasuk nilai-nilai kenabian.
“Harapannya anak-anak terbiasa untuk literasi sebagai wujud implementasi cinta kepada Nabi Muhammad SAW. Literasi itu bukan sekadar membaca, tetapi juga bagaimana mereka memahami dan mengamalkan apa yang dibaca,” ungkapnya.
Dalam kegiatan tersebut, para siswa yang beragama Islam mengikuti rangkaian lomba dan ceramah keagamaan, sementara siswa non-Muslim mengikuti kegiatan pembinaan iman sesuai keyakinan mereka. Eva menekankan bahwa pendekatan ini merupakan bagian dari upaya sekolah membangun lingkungan yang inklusif, di mana setiap siswa merasa dihargai dan tetap terlibat dalam agenda bersama.
“Kami ingin semua anak merasa menjadi bagian dari kegiatan ini. Perbedaan keyakinan bukan penghalang untuk tetap bersama, selama pelaksanaannya dihormati dan disesuaikan dengan konteks masing-masing,” tambahnya.
Selain lomba dan santunan, peringatan Maulid di SMPN 13 Depok juga menjadi ajang bagi siswa untuk menampilkan karya, seperti kaligrafi dan poster. Menurut Eva, karya-karya tersebut menjadi cerminan pemahaman siswa terhadap nilai-nilai Maulid, sekaligus sarana untuk mengasah kreativitas dan kemampuan komunikasi.
“Kaligrafi dan poster itu bukan hanya lomba, tetapi juga cara anak-anak mengekspresikan pemahaman mereka tentang Maulid. Dari situ kita bisa melihat bagaimana mereka menyerap nilai-nilainya,” ujarnya.
Dengan rangkaian kegiatan yang menggabungkan lomba, santunan, dan pembinaan lintas keyakinan, peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di SMPN 13 Depok menjadi lebih dari sekadar agenda tahunan. Eva berharap semangat meneladani Rasulullah SAW dapat terus hidup dalam keseharian siswa, tidak hanya selama peringatan berlangsung, tetapi juga dalam perilaku mereka di sekolah maupun di rumah.
“Kami ingin nilai-nilai Maulid ini tidak berhenti di acara saja. Anak-anak harus membawanya dalam keseharian, dalam cara mereka bersikap, belajar, dan berinteraksi dengan orang lain,” pungkas Eva. (*)

