Jabaran.id – SMPN 16 Depok memperkuat kolaborasinya dengan orang tua melalui kegiatan parenting bertajuk “Sinergi Orang Tua dan Sekolah dalam Mendampingi Perkembangan Remaja”. Kegiatan yang digelar oleh Bidang Humas sekolah tersebut menggandeng Rangkul Jawa Barat sebagai mitra pemateri, dan dihadiri oleh orang tua atau wali siswa dari kelas VII, VIII, IX, perwakilan komite, serta para guru.
Humas SMPN 16 Depok, Rusti Winahyu menjelaskan tujuan kegiatan parenting ini adalah untuk meningkatkan pemahaman orang tua mengenai pola asuh yang efektif, memperkuat komunikasi antara sekolah dan orang tua, serta mendukung perkembangan karakter dan prestasi peserta didik.

“Pendidikan yang optimal memerlukan keselarasan antara lingkungan rumah dan sekolah,” ujarnya.
Dengan diadakannya kegiatan ini, SMPN 16 Depok ingin berkomitmen untuk tidak hanya berfokus pada pencapaian akademik, tetapi juga pada pembentukan karakter dan kesehatan mental peserta didik.
“Upaya sinergi yang sistematis antara pihak sekolah dan keluarga diharapkan dapat menciptakan ekosistem pendukung yang kuat bagi remaja untuk tumbuh dan berkembang secara optimal,” katanya.
Materi inti kegiatan dibawakan secara interaktif oleh dua praktisi dari Rangkul Jawa Barat, Indria Khresna dan Rina Imaniar. Mereka memperkenalkan sebuah pendekatan pengasuhan berbasis prinsip yang diberi nama “Prinsip CINTA”. Akronim ini dirancang sebagai panduan praktis bagi orang tua dalam menjalani dinamika pengasuhan remaja.
“Prinsip Cinta ini artinya adalah keluarga kita mencintai dengan Cari cara sepanjang masa, Ingat impian tertinggi, Nerima tanpa drama, Tidak takut salah, Asik main bersama,” papar Indria Khresna.
Ia menambahkan bahwa konsep ‘mencari cara sepanjang masa’ menekankan adaptasi dan pembelajaran terus-menerus orang tua, sementara ‘ingat impian tertinggi’ mengajak keluarga untuk fokus pada tujuan jangka panjang pengasuhan, bukan sekadar masalah harian.
Rina Imaniar, sebagai pemateri pendamping, memberikan penjelasan lebih dalam mengenai penerapan prinsip tersebut. Poin ‘nerima tanpa drama’ dan ‘tidak takut salah’ sangat relevan dengan fase remaja yang penuh eksplorasi identitas. Orang tua diajak untuk menjadi tempat yang aman bagi anak untuk berproses, tanpa penghakiman berlebihan yang justru menutup komunikasi.
“Elemen ‘asik main bersama’ menekankan pentingnya membangun kedekatan melalui aktivitas yang menyenangkan, sebagai fondasi dari hubungan yang positif,” jelasnya. (*)
