Jabaran.id – Dalam dunia pendidikan yang semakin kompleks, pertanyaan mendasar tentang esensi dan tujuan sekolah kembali mencuat. Neil Postman, dalam bukunya The End of Education: Redefining the Value of School (1995), menyatakan bahwa pendidikan bukan sekadar “mengajarkan apa yang ada”, tetapi juga harus mempertanyakan “kenapa semua itu ada atau terjadi?”. Menurutnya, pengetahuan selalu berada dalam tiga dimensi waktu: alasan di masa lalu, peristiwa di masa kini, dan dampak di masa depan.
Manusia sejatinya adalah penjelajah makna. Mereka bertahan hidup karena dibekali kemampuan memaknai dunia dan lalu beradaptasi. Proses belajar, lanjutnya, bukan soal mengisi jawaban, tetapi membuka ruang agar kita bisa membangun pemahamannya sendiri, menjawab misteri dan keingintahuan secara perlahan, dalam, dan penuh rasa.
Pendekatan ini menekankan peran sentuh narasi dalam menciptakan makna. Makna tercipta melalui Narasi, di mana ukuran kebenaran atau kesalahannya terletak pada akibat-akibat yang ditimbulkannya. Narasi digambarkannya sebagai kinerja bahasa dan pikiran tentang sebuah penilaian—tentang benar atau salah, baik atau buruknya perasaan, tentang penting atau tidaknya sesuatu. Narasi, seperti api, bisa menerangi dan menghangatkan, tetapi juga bisa membakar dan merusak.
Ahli mitos Joseph Campbell dan psikolog Rollo May menyebut narasi yang diulang-ulang sebagai mitos atau fiksi, sementara Sigmund Freud menyebutnya sebagai ilusi. Ketika narasi itu dipegang teguh dan mempengaruhi jalan hidup seseorang, Karl Marx menyebutnya sebagai ideologi atau keyakinan yang menjadi tuntunan. “Semua nilai moral dan kebaikan adalah cerita atau mitos pada awalnya, perlu didorong dengan pembiasaan hingga mencapai tingkat kepercayaan yang menjadi ideologi yang dipegang teguh,” demikian kesimpulannya.
Dalam konteks komunikasi, narasi juga berperan penting. Komunikasi asertif—yang menghormati, efektif, objektif, dan terbuka—disebutkan dapat meningkatkan kepercayaan diri, membangun hubungan sehat, mengurangi konflik, dan meningkatkan efektivitas pencapaian tujuan. “Komunikasi = Narasi,” tegas bagian materi yang disampaikan.
Aspek afeksi atau rasa tidak kalah pentingnya. Antonio Damasio, melalui Teori Somatic Marker Hypothesis, menjelaskan bahwa emosi—yang diwujudkan dalam reaksi tubuh—membantu otak mengambil keputusan, terutama dalam situasi kompleks atau penuh ketidakpastian. Sinyal tubuh seperti detak jantung yang meningkat atau rasa tidak nyaman di perut menjadi penanda emosional yang mempengaruhi proses berpikir.
Daniel Kahneman, psikolog kognitif peraih Nobel, memperkenalkan konsep dua sistem berpikir: Sistem 1 (cepat, intuitif, afektif) dan Sistem 2 (lambat, logis, reflektif). Afeksi adalah titik awal alami manusia dalam berpikir, meski kemudian logika hadir sebagai koreksi. Namun, karena kinerjanya yang lebih lambat, logika sering kalah pengaruh oleh emosi. Oleh karena itu, regulasi emosi menjadi solusi agar pikiran dan tindakan tidak bias, sehingga dapat beradaptasi dan produktif bagi diri sendiri dan ekosistem.
Di ranah watak dan karakter, berbagai teori dikemukakan. Teori klasik Empat Temperamen (Sanguinis, Koleris, Melankolis, Plegmatis) dan model modern seperti Big Five Personality (OCEAN) serta MBTI digunakan untuk memahami kepribadian. Namun, ditekankan bahwa watak adalah sifat dasar yang relatif stabil, sementara karakter adalah hasil pendidikan yang dapat dibentuk, diarahkan, atau ditumbuhkan melalui pembiasaan nilai-nilai.
Standar karakter global yang dirumuskan lembaga seperti OECD dan UNESCO mencakup tiga ranah: diri pribadi (integritas, disiplin), relasi sosial (harmoni, empati, toleransi), serta kognitif dan adaptif (berpikir kritis, kreatif, resilien). Di Indonesia, standar ini sejalan dengan Profil Pelajar Pancasila.
Martabat manusia juga menjadi fondasi penting. Immanuel Kant menegaskan bahwa martabat berasal dari rasionalitas dan kebebasan moral, dengan prinsip bahwa manusia tidak boleh diperlakukan hanya sebagai alat, tetapi selalu juga sebagai tujuan. Thomas Aquinas melihat martabat berasal dari citra ilahi, sementara Martha Nussbaum menekankan pentingnya kemampuan dasar manusia untuk hidup sehat, berpikir, dan berpartisipasi sosial.
Hans Küng menambahkan bahwa martabat adalah fondasi etika global, yang melahirkan gerakan seperti Global Dignity Day Movement yang diprakarsai sejak 2006. Dalam ajaran Islam, Surah Al-Isra’:70 menegaskan, “Sungguh Kami telah memuliakan anak cucu Adam…”, menekankan kemuliaan yang melekat pada setiap manusia.
Martabat dibedakan menjadi martabat dasar (fitrah yang universal dan tidak bisa hilang) dan martabat sosial (yang bisa naik-turun berdasarkan perilaku). Di sekolah, prinsip penghargaan martabat dapat diterapkan melalui bahasa yang menghargai, umpan balik positif, penilaian yang adil, metode partisipatif, serta budaya inklusif dan bebas perundungan.
Moralitas, sebagai seperangkat prinsip yang membedakan baik dan buruk, berperan penting dalam membentuk hubungan antarmanusia dan mempromosikan keadilan. Nilai-nilai moral universal seperti menghormati kehidupan, keadilan, kejujuran, empati, dan tanggung jawab menjadi panduan dalam pengambilan keputusan.
Melalui integrasi ranah kognitif, psikomotorik, dan afektif, pendidikan diharapkan dapat membentuk ekologi perilaku yang reflektif, kontemplatif, dan konstruktif, sehingga melahirkan kompetensi prima serta inovasi yang efektif. Sekolah, seperti Sekolah Tunas Global yang disebutkan, diharapkan menjadi rumah singgah bagi para penjelajah kehidupan, yang pendidikannya tidak sekadar materialistis, tetapi tentang narasi kebenaran dan tanggung jawab. (*)
Oleh : Eppy S. Rahman
Pembina Yayasan Mandiri Tunas Global
(KB, TK, SD, SMP Nasional Plus Tunas Global Depok)
