Jabaran.id – Dalam sebuah gebrakan inovatif memperingati Bulan Bahasa dan Sastra, UPTD SMPN 16 Depok menggelar Projek Komik Trilingual yang melibatkan partisipasi aktif lebih dari 1.000 siswanya. Kegiatan kolaboratif ini berhasil memadukan kecintaan akan bahasa, seni, serta kesadaran akan isu kependudukan dalam sebuah karya visual yang menarik.
Menurut Ketua Panitia kegiatan, Aprelia Meganur Sanjaya Putri, proyek ini merupakan wujud nyata dari semangat Bulan Bahasa di UPTD SMPN 16 Depok, yang dikemas dalam bentuk Projek Komik Trilingual. Dalam proyek ini, para peserta didik dari kelas VII, VIII, dan IX berkolaborasi membuat komik menggunakan tiga bahasa, yaitu Bahasa Indonesia, Bahasa Sunda, dan Bahasa Inggris.

“Melalui karya komik ini, siswa diajak untuk berkreasi sekaligus menunjukkan kemampuan literasi dan komunikasi lintas bahasa,” jelas Aprelia.
Lebih dari sekadar perayaan bahasa, kegiatan ini diintegrasikan dengan visi pendidikan yang lebih luas. Dimana, kegiatan ini juga diintegrasikan dengan program Kokurikuler Lintas Mata Pelajaran dengan tema besar ‘Sekolah Siaga Kependudukan’, sebagai upaya menanamkan kesadaran kependudukan, tanggung jawab sosial, dan kepedulian lingkungan kepada siswa sejak dini.
Tujuan utama dari proyek ambisius ini adalah membentuk profil pelajar yang kompeten dan berkarakter. Jadi mengembangkan kemampuan berbahasa, kreativitas, dan kerja sama siswa. Selain itu, menekankan pentingnya menanamkan nilai-nilai kebahasaan nasional.
“Selain itu, kami ingin menumbuhkan rasa bangga terhadap bahasa Indonesia, mencintai bahasa daerah, dan menguasai bahasa asing sesuai slogan nasional ‘Utamakan Bahasa Indonesia, Lestarikan Bahasa Daerah, dan Kuasai Bahasa Asing’. Proses ini juga dirancang untuk mengasah kemampuan abad ke-21, di mana siswa juga dilatih berpikir kritis, berkolaborasi, dan menghasilkan karya yang bermakna sesuai dengan nilai-nilai dalam Delapan Profil Lulusan,” terangnya.

Rangkaian kegiatan yang berlangsung selama empat hari penuh dirancang sebagai sebuah proses pembelajaran kolaboratif yang komprehensif. Pada hari pertama, siswa mendapatkan pengarahan, pembentukan kelompok, dan perencanaan ide cerita. Di hari kedua, setiap kelompok mulai membuat naskah dan ilustrasi komik dengan bimbingan guru bahasa. Hari ketiga diisi dengan mempresentasikan hasil komik di depan kelas, yang kemudian memuncak pada hari keempat.
“Hari keempat, seluruh karya dipajang di masing-masing kelas diadakan pameran komik trilingual yang diapresiasi oleh seluruh murid secara bergantian, dan penilaian oleh dewan juri untuk menentukan juara tiap jenjang,” jelas Aprelia.
Dengan melibatkan seluruh siswa dan guru, kegiatan ini menjadi sebuah festival literasi sekolah. Seluruh guru bahasa sebagai pembimbing dan juri, serta wali kelas sebagai pengawas dan pendamping di lapangan.

“Seluruh peserta didik dari kelas VII, VIII, dan IX terlibat aktif dalam kegiatan ini. Totalnya sekitar lebih dari 1.000 siswa, yang terbagi ke dalam kelompok-kelompok kecil,” kata Aprelia
Sementara itu, Kepala SMPN 16 Depok, Agus Purwanto berharap, agar inisiatif ini tidak berhenti sebagai sebuah acara seremonial belaka atau rutinitas tahunan, tetapi berkembang menjadi budaya literasi dan kreativitas sekolah
“Kami ingin siswa memiliki rasa cinta terhadap bahasa dan budaya sendiri, terbuka terhadap bahasa asing, serta mampu mengekspresikan gagasan mereka secara positif dan kreatif,” tuturnya. (*)
