Jabaran.id – SMPN 34 Depok melalui program Kokurikuler Tema 2 akan menggelar rangkaian kegiatan bertajuk ‘Napak Tilas Sejarah Kota Depok‘ atau ‘Lebaran Depok’. Kegiatan ini dijadwalkan berlangsung selama dua belas hari, mulai 2 hingga 13 November 2026, dan menyasar murid kelas VII, VIII, serta IX sebagai pesertanya.
Ketua Pelaksana Kegiatan, Popy Zulhana Batubara, menjelaskan bahwa program ini dirancang sebagai perjalanan belajar yang komprehensif bagi para murid. Menurutnya, ‘Lebaran Depok’ bukan sekadar kegiatan seremonial, melainkan upaya sistematis untuk menghadirkan pembelajaran kontekstual yang menyentuh berbagai aspek kehidupan masyarakat Depok, mulai dari sejarah, bahasa, kesenian, permainan tradisional, hingga pangan lokal.

“Kegiatan ini mengangkat kekayaan pangan khas Kota Depok melalui kegiatan ‘Festival Lebaran Depok’ yang mencakup sejarah, pangan, dan kebudayaan Depok. Kami merancang kegiatan ini agar murid tidak hanya mengenal pangan lokal, tetapi juga menelusuri informasi, melakukan observasi dan wawancara, mempraktikkan pengolahan pangan secara aman, memahami nilai budaya dan ekonomi, mengembangkan kreativitas, serta mengkomunikasikan hasil belajar kepada warga sekolah dan masyarakat,” ujar Popy Zulhana Batubara.
Rangkaian Kokurikuler Tema 2 di SMPN 34 Depok ini mencakup lima fokus utama yang dikemas secara menarik dan aplikatif. Pertama, para peserta akan diajak menelusuri Sejarah Kota Depok, menggali peristiwa dan tokoh penting yang membentuk identitas kota. Kedua, mereka akan mempelajari Bahasa Kota Depok, termasuk dialek dan kosakata khas yang menjadi ciri komunikasi masyarakat setempat. Ketiga, kesenian khas Depok akan menjadi bagian penting, di mana murid dikenalkan pada lagu-lagu daerah seperti Kicir-kicir, Ondel-ondel, dan Jali-jali yang sarat akan nilai budaya dan pesan moral.
“Kami ingin murid-murid tidak hanya mendengar, tetapi juga merasakan dan mempraktikkan langsung. Untuk kesenian, mereka akan belajar lagu daerah seperti Kicir-kicir, Ondel-ondel, dan Jali-jali. Ini adalah warisan budaya yang harus terus dijaga,” tambah Popy.

Selain seni suara, kegiatan ini juga menghidupkan kembali permainan tradisional khas Depok yang mulai tergerus zaman. Murid akan diajak bermain Egrang Batok, Lompat Tali, dan Galasin. Menurut Popy, permainan ini bukan hanya soal keseruan, tetapi juga melatih keseimbangan, kerja sama, dan ketangkasan.
“Permainan khas Depok seperti Egrang Batok, Lompat Tali, dan Galasin ini kami hadirkan kembali agar anak-anak bisa merasakan keseruan bermain di luar ruangan sekaligus melestarikan tradisi,” jelasnya.
Puncak dari rangkaian kegiatan ini adalah pembuatan Jus Belimbing, salah satu komoditas unggulan Kota Depok. Para murid tidak hanya akan belajar mengolah buah belimbing menjadi minuman segar, tetapi juga memahami nilai ekonomi dan gizi dari pangan lokal tersebut. Popy menegaskan bahwa praktik pengolahan pangan ini dilakukan dengan memperhatikan aspek keamanan dan kebersihan.
“Pembuatan Jus Belimbing ini menjadi simbol bagaimana kekayaan pangan lokal bisa diolah dan memiliki nilai tambah. Kami pastikan prosesnya aman dan higienis, sehingga murid mendapat pengalaman praktik yang bermanfaat,” ungkapnya.

Seluruh rangkaian kegiatan akan memuncak pada 12 November 2026. Pada hari tersebut, para guru dan murid akan mengenakan pakaian daerah, menampilkan gelar karya, bazaar, pameran, serta refleksi. Popy berharap perpaduan kegiatan ini dapat menumbuhkan rasa cinta dan bangga terhadap budaya lokal.
“Pada puncak kegiatan, PTK dan murid akan berpakaian daerah. Ada gelar karya, bazaar, pameran, dan refleksi. Perpaduan ini diharapkan menumbuhkan rasa bangga terhadap budaya lokal serta semangat untuk meneruskan nilai budaya dan kearifan lokal melalui tindakan nyata dalam melestarikan warisan daerah,” tutup Popy Zulhana Batubara. (*)


