Jabaran.id – Tim pengabdian kepada masyarakat (PKM) Departemen Ilmu Kesehatan Matra dan Manajemen Bencana Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta (UPNVJ) pelatihan khusus pertolongan pertama pada kecelakaan laut bagi puluhan siswa SMKN 61 Jakarta di Pulau Tidung, Kepulauan Seribu, pada 28–29 Juli 2026.
Kegiatan ini dipimpin dan diketuai Dr. dr. Sofia Wardhani, M.K.K., bersama tim yang terdiri dari
1. dr. Pritha Maya Savitri, Sp.KP., MMB
2. Dr. dr. Siti Nuriyatus Zahrah, M.K.M.,
3. dr Riri Oktavani Banjarnahor MKM ,
4. Dwi Arwandi Yogi Saputra, S.K.M., M.K.M.,
5. Nurul Mawaddah Syafitri, S.K.M., M.K.M.,
6. Anita Maria Magdalena Silaban, S.K.M., M.K.K.K ,
7. Della Dwi Ayu, S.K.M., M.K.M., dan
8. Jendrawan Pati Sujendra, S.K.M., M.P.H.

Seluruh tim merupakan akademisi yang memiliki kepakaran di bidang kesehatan masyarakat, Kesehatan matra, kegawatdaruratan, dan manajemen bencana, sehingga materi yang diberikan disusun berdasarkan pendekatan ilmiah dan kebutuhan masyarakat pesisir.
Ketua Tim Pelaksana UPNVJ, Dr. dr. Sofia Wardhani, M.K.K., Sebagai sekolah yang berada di kawasan Kepulauan Seribu, SMKN 61 Jakarta memiliki peserta didik yang berinteraksi langsung dengan lingkungan laut dalam berbagai aktivitas sehari-hari.
“Kondisi geografis tersebut menjadikan risiko kecelakaan laut, seperti tenggelam, cedera saat beraktivitas di perairan, hipotermia, maupun kejadian kegawatdaruratan lainnya, sebagai tantangan nyata yang memerlukan peningkatan kapasitas masyarakat, terutama generasi muda,” ungkap Sofia.
Berangkat dari kondisi tersebut, lanjut Sofia, Departemen Ilmu Kesehatan Matra dan Manajemen Bencana memandang bahwa edukasi pertolongan pertama merupakan bagian penting dari strategi pengurangan risiko bencana (Disaster Risk Reduction) dan kesiapsiagaan (preparedness).
“Melalui peningkatan literasi kesehatan dan keterampilan dasar pertolongan pertama, masyarakat diharapkan mampu melakukan respons awal yang cepat, tepat, dan aman sebelum korban memperoleh pertolongan medis lanjutan,” terang Sofia.
Pelatihan ini diikuti 35 siswa yang merupakan anggota Palang Merah Remaja (PMR) dan Pramuka. Kedua organisasi tersebut dipilih karena dinilai strategis dalam mencetak kader relawan muda yang dapat menjadi pelopor keselamatan di lingkungan sekolah maupun masyarakat.
Dalam kegiatan tersebut, para peserta dibekali berbagai materi mendasar, mulai dari pengenalan potensi bahaya perairan, prinsip keselamatan penolong, aktivasi bantuan darurat, hingga simulasi penanganan korban tenggelam, henti napas, cedera, dan hipotermia.
“Kami menekankan pentingnya menjaga keselamatan diri sebelum melakukan penyelamatan. Ini adalah prinsip utama dalam kesehatan matra dan manajemen bencana yang wajib dipahami oleh setiap penolong pertama,” ujar Sofia.

Tak sekadar teori, para pelajar diajak simulasi langsung melalui metode skill station. Mereka dilatih mengambil keputusan cepat dan melakukan tindakan pertolongan secara sistematis saat situasi darurat terjadi.
“Peningkatan kapasitas masyarakat tidak hanya berorientasi pada kemampuan individu, tetapi juga pada pembentukan budaya keselamatan dan kesiapsiagaan komunitas. Karena itu, kami turut menanamkan pentingnya komunikasi, koordinasi, serta kerja sama tim dalam respons kedaruratan,” tuturnya.
Para siswa menyambut pelatihan ini dengan antusias tinggi. Mereka aktif berdiskusi dan memperagakan teknik pertolongan pertama selama sesi praktik.
Sofia berharap program semacam ini dapat terus berlanjut agar semakin banyak masyarakat pesisir yang tanggap dan sigap dalam menghadapi bencana perairan.
“Melalui pengabdian masyarakat ini, kami berharap terbentuk sumber daya manusia muda yang memiliki pengetahuan, keterampilan, dan sikap tanggap terhadap kecelakaan laut. Ini adalah komitmen kami untuk mendukung pembangunan masyarakat kepulauan yang tangguh,” pungkas Sofia.
