Jabaran.id – Persekutuan Doa Oikumene Tunas Global menggelar Ibadah Tutup Tahun 2025, sebuah agenda rutin akhir tahun yang menguatkan silaturahmi dan spiritualitas para pendidik dan tenaga kependidikan. Kegiatan yang diikuti 30 guru dan karyawan beragama Kristen dan Katolik ini berlangsung dengan khidmat dan penuh sukacita.
Ketua Persekutuan Doa Oikumene Tunas Global, Hanna Evinda Jonathans, menjelaskan bahwa acara ini adalahkegiatan Ibadah Tutup Tahun 2025 yang memang selalu jadi agenda di akhir tahun. Ia memaparkan rangkaian acara yang dilakukan, yakni ada ibadah, permainan jawab judul lagu, dan tuker kado. Yang khotbah adalah Fransiska Damanik, dan yang menjadi Liturgos adalah Yunita Matia Siwi.

“Lebih dari sekadar acara keagamaan, ini adalah kegiatan selain untuk doa dan ibadah Bersama juga untuk menjalin silaturahmi antar guru Kristen dan Katolik di Sekolah Tunas Global Depok,” ujarnya.
Semangat untuk merawat kerukunan dalam perbedaan ini selaras sepenuhnya dengan nilai-nilai yang dibangun oleh Sekolah Tunas Global Depok. Penasihat Persekutuan Doa Oikumene Tunas Global, Nurmainim, menegaskan komitmen sekolah terhadap penghargaan atas keberagaman.
“Sekolah Tunas Global Depok adalah sekolah keberagaman, saling menghargai segala hal yang berbeda dengan latar belakang apapun,” tegasnya.
Nurmainim kemudian memberikan contoh nyata bagaimana nilai tersebut diwujudkan dalam perayaan hari besar keagamaan di sekolah.

“Seperti perayaan Hari Natal pun harus saling menghargai dalam perayaannya,” katanya.
Ia pun mengumumkan jadwal terpisah untuk perayaan tersebut sebagai bentuk perhatian terhadap keragaman tradisi liturgi. Nantinya akan ada ibadah dan perayaan Natal di Sekolah Tunas Global pada 16 Desember 2025 untuk Kristen dan 17 Desember 2025 untuk Katolik.
Penjelasan ini menggarisbawahi pendekatan yang diambil sekolah, di mana penghormatan pada perbedaan keyakinan dan praktik beribadah diutamakan, tanpa mengurangi makna sukacita dari perayaan itu sendiri.
“Ibadah Tutup Tahun yang baru saja dilaksanakan berfungsi sebagai fondasi dan pengingat akan pentingnya kebersamaan,” terangnya.
Kegiatan ini menunjukkan bahwa kehidupan beragama yang harmonis dapat tercipta melalui dialog, pemahaman, dan penyelenggaraan acara yang inklusif serta saling menghormati. Para guru dan karyawan yang terlibat diharapkan dapat meneruskan nilai-nilai kerukunan ini kepada seluruh warga sekolah, menciptakan lingkungan belajar yang tidak hanya cerdas secara akademik tetapi juga kaya secara spiritual dan sosial. (*)
