HomePendidikanKetrampilan Hidup hingga Sambal Kekinian: SMP Tunas Global Rayakan Kartini Suasana di...

Ketrampilan Hidup hingga Sambal Kekinian: SMP Tunas Global Rayakan Kartini Suasana di Dapur

Jabaran.id – SMP Nasional Plus (NP) Tunas Global dalam perayaan Hari Kartini dengan menggelar serangkaian lomba estafet keterampilan hidup sehari-hari yang dikemas secara dinamis, ditutup dengan talkshow inspiratif bersama wartawan senior Kompas. Kegiatan ini dirancang tidak hanya untuk memperingati jasa pahlawan emansipasi, tetapi juga membangun kesadaran akan kesetaraan peran antara laki-laki dan perempuan sejak usia remaja.

Ketua Panitia Perayaan Hari Kartini SMP NP Tunas Global, Diah R., menjelaskan bahwa pihak sekolah sengaja memilih konsep lomba estafet keterampilan sebagai bentuk persiapan kehidupan nyata bagi para siswa.

Perayaan hari Kartini di SMP NP Tunas Global Depok 4

“Kegiatan perayaan Hari Kartini oleh SMP Nasional Plus Tunas Global diisi dengan lomba estafet keterampilan dalam kehidupan sehari-hari sebagai bekal anak di masa mendatang, seperti memasukkan jarum, melipat baju, memasukkan tali sepatu, mengupas bawang,” ujar Diah.

- Advertisement -

Diah menambahkan bahwa lomba estafet tersebut sekaligus berfungsi sebagai latihan psikomotorik halus yang jarang mendapat porsi cukup dalam pembelajaran konvensional di dalam kelas. Menurutnya, keterampilan sederhana seperti memasukkan benang ke lubang jarum atau mengupas bawang memiliki nilai besar dalam membangun kemandirian anak.

“Lomba ini sekaligus menjadi latihan psikomotorik halus. Banyak anak yang cerdas secara akademik tetapi belum terbiasa melakukan pekerjaan rumah tangga dasar. Melalui estafet ini, mereka belajar bahwa keterampilan hidup itu penting dan tidak mengenal gender,” jelas Diah lebih lanjut.

Perayaan hari Kartini di SMP NP Tunas Global Depok 1

Salah satu sesi yang paling menyita perhatian siswa adalah lomba membuat sambal kekinian. Dalam sesi ini, panitia membentuk kelompok-kelompok di masing-masing kelas dengan pembagian peran yang unik: bagian memasak dilakukan oleh siswa laki-laki, sementara penataan atau *plating* dilakukan oleh siswa perempuan, dan presentasi hasil dilakukan bersama.

“Yang memasak adalah laki-laki dan plating adalah perempuan, lalu presentasi. Tujuannya laki-laki dan perempuan mempunyai hak yang sama, termasuk di area dapur,” tegas Diah.

Diah juga mengungkapkan fakta menarik bahwa dalam lomba membuat sambal kekinian tersebut, panitia memberikan bahan rahasia yang harus diolah oleh setiap kelompok. Hal ini dimaksudkan untuk mengasah kreativitas dan inovasi para siswa dalam mengolah bahan pangan, sekaligus mematahkan stereotip bahwa dapur adalah wilayah eksklusif perempuan.

“Kami memberikan bahan rahasia yang harus mereka gunakan dalam sambal. Selain itu, aspek plating juga dinilai. Jadi, anak laki-laki belajar memasak, anak perempuan belajar menata hidangan, lalu keduanya belajar mempresentasikan hasil karyanya bersama. Ini adalah bentuk nyata dari kesetaraan,” tambah Diah.

Perayaan hari Kartini di SMP NP Tunas Global Depok 3

Di luar aspek lomba, rangkaian perayaan Hari Kartini di SMP NP Tunas Global juga menghadirkan sesi talkshow yang menghadirkan narasumber seorang wartawan senior Kompas, Arbain Rambey. Pria yang merupakan lulusan Sarjana Teknik Sipil Institut Teknologi Bandung (ITB) ini berbagi pengalaman tentang perjalanan kariernya yang berliku dari dunia teknik hingga menjadi jurnalis yang diperhitungkan di Indonesia.

Dalam pemaparannya, Arbain Rambey menekankan tema tentang ketekunan yang berbuah kesuksesan. Ia menjelaskan bahwa latar belakang pendidikan formal tidak pernah menjadi penghalang baginya untuk menekuni profesi jurnalis. Yang terpenting adalah kemauan untuk terus belajar, bekerja keras, dan tidak mudah menyerah. Ia juga menyampaikan fakta bahwa banyak jurnalis ternama di Indonesia justru berasal dari latar belakang pendidikan non-jurnalistik, yang membuktikan bahwa keberhasilan lebih ditentukan oleh dedikasi dan ketekunan dibandingkan gelar semata.

“Semoga melalui perayaan Hari Kartini yang interaktif ini, siswa tidak hanya mengingat sosok Raden Ajeng Kartini sebagai pahlawan emansipasi, tetapi juga meneladani semangatnya untuk memecahkan batasan-batasan sosial, termasuk di ruang-ruang terkecil seperti dapur dan aktivitas rumah tangga sehari-hari,” pungkas Diah. (*)

TERBARU

spot_img

POPULER

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here