HomePendidikanPendampingan Anti Perundungan di SMPN 30 Depok: Guru Dibenahi, Siswa Diharap Nyaman

Pendampingan Anti Perundungan di SMPN 30 Depok: Guru Dibenahi, Siswa Diharap Nyaman

Jabaran.id – Bertempat di SMPN 30 Depok, Dinas Pendidikan Kota Depok melalui Bidang SMP menggelar kegiatan Pendampingan Anti Perundungan, Kekerasan, dan Intoleransi di lingkungan sekolah. Kegiatan ini menyasar enam SMPN yang tersebar di Kota Depok, yakni SMPN 30, SMPN 20, SMPN 15, SMPN 34, SMPN 3, dan SMPN 2.

Kepala Seksi Kurikulum Bidang SMP Dinas Pendidikan Kota Depok, Fitra Sukandar, menyatakan bahwa pendekatan yang dilakukan dalam pendampingan ini sengaja difokuskan pada aspek praktik. Menurutnya, pemahaman teoritis saja tidak cukup untuk membekali guru dalam menangani kasus kekerasan dan intoleransi yang semakin kompleks.

anti bullying di SMPN 30 Depok 2

“Sebagai guru, harus menguatkan diri dahulu sebelum ke siswa. Oleh karena itu, perlu ada pembekalan, dan kali ini bukan teori yang ingin disampaikan, tetapi lebih ke arah praktiknya. Di mana guru harus memahami tentang berbagai problematika perundungan di sekolah dan bagaimana menanggapinya,” ujar Fitra Sukandar.

- Advertisement -

Fitra menegaskan bahwa penguatan kapasitas guru menjadi fondasi utama dalam menciptakan lingkungan belajar yang aman dan kondusif. Ia menilai, guru yang memiliki kesiapan mental dan pemahaman tentang dinamika perundungan akan mampu menjadi benteng pertahanan pertama bagi siswa yang mengalami atau terlibat dalam tindak kekerasan.

“Kami ingin guru-guru di enam sekolah ini tidak hanya paham definisi perundungan, tetapi juga terampil dalam membaca situasi, mengidentifikasi potensi konflik, dan melakukan intervensi awal secara tepat,” tambahnya.

Sementara itu, Kepala SMPN 30 Depok, Asri Khaerunnisa, menyambut baik kegiatan pendampingan ini dan menilai bahwa inisiatif tersebut sejalan dengan visi sekolahnya untuk menciptakan lingkungan pendidikan yang unggul, berkarakter, dan peduli lingkungan. Ia menyebut bahwa sekolah harus berperan sebagai rumah kedua bagi siswa, tempat mereka merasa aman dan nyaman untuk tumbuh dan berkembang.

“Sekolah adalah rumah kedua untuk siswa, jadi harus memberikan rasa nyaman untuk siswa dalam tumbuh dan berkembang. Ini adalah sebuah amanah besar, di mana sekolah bisa menghilangkan adanya perundungan dan kekerasan tersebut,” ujar Asri Khaerunnisa.

anti bullying di SMPN 30 Depok 1

Asri menambahkan bahwa momentum pendampingan ini menjadi langkah strategis bagi SMPN 30 Depok untuk terus memperbaiki kualitas pendidikan dan pelayanan terhadap siswa. Ia berharap sekolahnya dapat menjadi garda terdepan dalam upaya menghapuskan kekerasan di dunia pendidikan.

“Semoga momentum ini bisa menjadikan SMPN 30 Depok sebagai garda terdepan untuk perbaikan dunia pendidikan, sesuai dengan visi unggul, berkarakter, dan peduli lingkungan,” harapnya.

Lebih jauh, kegiatan pendampingan tersebut menghadirkan fasilitator bersertifikasi dari Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP), Yudo Hato Balibo Timtim. Dalam pemaparannya, Yudo menguraikan secara komprehensif mengenai akar masalah dan pemicu terjadinya tindak kekerasan di kalangan remaja. Ia juga memberikan sejumlah langkah strategis yang dapat diambil oleh guru dalam menyelesaikan konflik secara konstruktif.

Yudo memulai pemaparannya dengan menyoroti bahwa lingkungan terdekat, yakni rumah, memegang peranan penting dalam membentuk karakter dan perilaku anak. Menurutnya, pola asuh yang diterapkan di rumah menjadi fondasi awal bagi pembentukan kepribadian seseorang.

“Semua bisa berawal dari lingkungan terdekat, yakni rumah. Bisa dengan kekerasan atau kasih sayang berawal dari rumah. Ketika rasa aman dan nyaman untuk tumbuh dan berkembang tidak didapatkan di rumah, jadikan sekolah sebagai tempat untuk merasakan kenyamanannya,” jelas Yudo Hato Balibo Timtim.

Lebih lanjut, ia menekankan bahwa profesi guru memiliki peluang besar untuk menjadi agen perubahan yang mampu mengubah kehidupan seseorang, khususnya siswa yang menjadi korban atau pelaku kekerasan. Guru, lanjutnya, berada di garis terdepan dalam membimbing siswa menuju masa depan yang lebih baik.

“Menjadi guru memiliki peluang merubah kehidupan seseorang, yaitu siswa. Inilah mengapa pembekalan seperti ini sangat penting agar guru tidak hanya sekadar mengajar, tetapi juga menjadi teladan dan pelindung bagi anak didiknya,” tambahnya.

Yudo juga mengidentifikasi tiga faktor utama pemicu tindak kekerasan pada remaja. Faktor pertama adalah lingkungan, yang mencakup rasa kurang aman baik di sekolah maupun di rumah, serta paparan konten agresif dari media sosial. Faktor kedua adalah aspek sosial, yang meliputi tekanan dari teman sebaya dan kurangnya keterampilan sosial yang memadai. Faktor terakhir adalah faktor pribadi, seperti ketidakmampuan mengelola emosi, rendahnya empati terhadap orang lain, dan adanya trauma masa lalu yang belum terselesaikan.

“Ada beberapa pemicu tindak kekerasan pada remaja. Pertama adalah lingkungan, ini bisa disebabkan rasa kurang aman baik di sekolah atau di rumah, dan bisa juga dari media sosial, yakni konten agresif. Lalu ada sosial, yakni tekanan dari teman dan kurangnya keterampilan sosial. Terakhir adalah dari pribadinya, seperti tidak mampu mengelola emosi, kurangnya empati terhadap orang lain, dan trauma masa lalu,” paparnya.

Selain menguraikan faktor pemicu, Yudo juga memberikan panduan praktis mengenai langkah-langkah penyelesaian konflik secara konstruktif. Ia menyebut bahwa pendekatan yang digunakan harus berorientasi pada pemulihan hubungan dan penciptaan iklim sekolah yang damai.

Langkah pertama, menurut Yudo, adalah menciptakan ruang aman untuk komunikasi. Guru harus mampu membangun suasana yang membuat siswa merasa dihargai dan didengar tanpa rasa takut. Kedua, mengidentifikasi akar permasalahan secara mendalam agar tidak terjadi kesalahan dalam mengambil tindakan.

Ketiga, mendorong perspektif dan empati di antara pihak-pihak yang terlibat konflik. Keempat, menemukan solusi bersama yang melibatkan semua pihak secara partisipatif.

“Terakhir, melakukan tindak lanjut secara berkelanjutan untuk memastikan bahwa solusi yang telah disepakati berjalan efektif dan tidak memunculkan masalah baru,” pungkas Yudo. (*)

TERBARU

spot_img

POPULER

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here