Jabaran.id — Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia ( FISIP UI ) mempertegas komitmennya sebagai pusat keilmuan sosial-budaya terdepan dengan menggelar The 9th International Symposium of Jurnal Antropologi Indonesia (ISJAI) di Kampus FISIP UI, Depok, pada 4–7 Agustus 2026.
Forum ilmiah bertajuk “Pluriversal Futures in a Multipolarising World: Global South Perspectives” ini menghadirkan ratusan antropolog, peneliti, akademisi, aktivis, hingga praktisi dari berbagai belahan dunia untuk merumuskan masa depan tatanan global yang lebih adil dan inklusif.
Dekan FISIP UI, Prof. Evi Fitriani, Ph.D., menegaskan pentingnya penyelenggaraan simposium ini di tengah pergeseran tatanan dan transformasi geopolitik dunia. Ia menyampaikan bahwa ISJAI ke-9 menjadi sarana penting untuk membongkar dominasi cara pandang tunggal dalam ilmu sosial.
“Tema yang diangkat pada ISJAI tahun ini sangat relevan dengan perkembangan dunia saat ini,” kata Prof. Evi Fitriani, Ph.D. saat membuka acara di Kampus FISIP UI.
“Tema ini tidak sekadar menunjukkan semakin cairnya batas-batas antardisiplin ilmu sosial, tetapi juga mengajak kita mengkaji hubungan antara pengetahuan dan kekuasaan,” lanjutnya.
Prof. Evi menambahkan bahwa momentum kebangkitan kawasan Global South harus dimanfaatkan secara optimal oleh para ilmuwan sosial.
“Seiring munculnya berbagai kekuatan baru dari kawasan Global South, kita memiliki kesempatan untuk mendekonstruksi cara pandang yang selama ini dianggap universal dan membangun pemahaman yang lebih beragam mengenai dunia,” ujar Prof. Evi.
Simposium internasional yang rutin dihelat sejak tahun 2000 ini turut menghadirkan pakar-pakar ternama sebagai pembicara kunci. Pakar antropologi lingkungan dari Ashoka University, India, Prof. Amita Baviskar, Ph.D., menyoroti keterkaitan erat antara krisis ekologi global, kebijakan pembangunan, dan ketimpangan sosial di Asia Selatan.
“Pengalaman nyata dan pengetahuan ekologis lokal masyarakat di kawasan Global South harus dijadikan basis utama dalam merumuskan solusi atas berbagai persoalan global yang berkeadilan,” tegas Prof. Amita Baviskar di hadapan para peserta simposium.
Perspektif mendalam mengenai kearifan lokal juga dipaparkan oleh akademisi Universitas Papua, Els Tieneke Rieke Katmo, Ph.D. Ia membeberkan bagaimana warisan kolonialisme masih memengaruhi pandangan masyarakat terhadap identitas, gender, dan pengelolaan sumber daya alam, seraya menawarkan konsep keilmuan berbasis tradisi masyarakat adat Papua.
“Alam adalah pemberi kehidupan,” tutur Els Tieneke Rieke Katmo, Ph.D. Ia menekankan bahwa peran serta pengalaman perempuan Papua sangat signifikan dalam menjaga keberlanjutan lingkungan dan membangun tradisi keilmuan yang lebih setara.
Sesi diskusi strategis yang dipandu oleh pakar gender dan masyarakat adat FISIP UI, Dr. Mia Siscawati, Ph.D., ini makin mengukuhkan peran UI dalam mengawal transformasi dunia kontemporer. Melalui helatan internasional ini, UI tidak hanya memfasilitasi diseminasi riset berkualitas, tetapi juga memperluas jejaring kolaborasi global demi menghadirkan kontribusi nyata bagi kemanusiaan.
