Jabaran.id – Sebanyak 50 orang ayah mengikuti seminar parenting yang digelar oleh Sekolah Nasional Plus (NP) Tunas Global Depok, di bawah naungan Yayasan Mandiri Tunas Global. Kegiatan tersebut mengusung tema unik, yakni ‘Reposisi Arah dan Peran Ayah dalam Persiapan Anak Menyongsong Abad 21’.
Berbeda dari seminar parenting pada umumnya yang lebih banyak menyasar ibu, kegiatan kali ini secara khusus membidik para ayah sebagai peserta utama. Seminar yang dibuka untuk umum tersebut dihadiri oleh puluhan ayah dari berbagai latar belakang, mulai dari orang tua siswa aktif hingga masyarakat umum di wilayah Depok dan sekitarnya.

Dewan Pembina Yayasan Mandiri Tunas Global, Eppy S. Rahman, bertindak sebagai narasumber tunggal dalam acara tersebut. Dalam pemaparannya, ia menekankan pentingnya peran aktif ayah dalam membangun komunikasi yang sehat di dalam keluarga.
“Ada trik bagaimana bisa disayangi di dalam keluarga. Salah satunya adalah komunikasi, bisa dengan berkomunikasi untuk hal-hal yang sederhana, seperti saling memberi dan menerima,” ujar Eppy S. Rahman di hadapan para peserta.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa komunikasi sederhana sering kali justru menjadi fondasi utama dalam membangun kedekatan emosional antara ayah dan anak. Menurutnya, ayah tidak perlu selalu berbicara dalam hal-hal yang besar atau serius, tetapi justru kebiasaan kecil seperti bertukar cerita atau mendengarkan keluhan anak dapat memperkuat ikatan keluarga.
Eppy S. Rahman juga mengingatkan para ayah untuk tidak menjadikan diri mereka sebagai satu-satunya role model yang harus ditiru sepenuhnya oleh anak. Ia menyoroti bahwa anak memiliki potensi dan jalannya masing-masing yang tidak selalu harus sama dengan apa yang diinginkan atau dicapai oleh orang tuanya.
Dalam kesempatan yang sama, ia memberikan sejumlah fakta bermanfaat terkait perkembangan kecerdasan anak. Eppy menjelaskan bahwa kecerdasan bukanlah sesuatu yang semata-mata diturunkan dari asal-usul keluarga, melainkan dapat dibentuk melalui kebiasaan berpikir.
“Kecerdasan itu bukan dari asalnya. Orang diajak berpikir baru menjadi pandai. Saraf menjadi kuat dan cerdas karena sering dipakai,” tegas Eppy S. Rahman.
Ia menambahkan bahwa orang tua dapat berperan aktif dalam merangsang kecerdasan anak dengan cara membiasakan diskusi dan membaca bersama. Menurutnya, aktivitas sederhana seperti membaca buku lalu mendiskusikan isinya dapat memperkuat koneksi saraf di otak anak, yang pada akhirnya meningkatkan kapasitas berpikir kritis dan kreatif.
Eppy S. Rahman juga memberikan rekomendasi konkret bagi para ayah untuk mulai mendiskusikan hal-hal yang berkaitan erat dengan kehidupan sehari-hari anak. Ia mencontohkan bahwa diskusi tidak harus selalu bertema berat atau akademis, tetapi bisa dimulai dari persoalan sederhana yang anak hadapi di sekolah atau lingkungan bermainnya.
Sementara itu, ia mengingatkan agar para ayah tidak memaksakan anak untuk menjadi seperti dirinya. Jangan pula menciptakan persaingan antar saudara di dalam keluarga, karena hal itu justru dapat merusak keharmonisan rumah tangga dan mengganggu tumbuh kembang psikologis anak.
“Jangan membuat adik dan kakak bersaing, dan jangan menjadikan orang tua sebagai role model dalam kehidupan. Jangan memaksakan anak menjadi seperti orang tuanya,” pungkas Eppy S. Rahman. (*)
