Jabaran.id — Maraknya aksi begal sadis hingga pelakunya nekat menembak aparat kepolisian di Lampung bukanlah kejahatan yang berdiri sendiri. Fenomena ini dinilai sebagai akibat langsung dari pembiaran terhadap menjamurnya bandar narkoba dan mafia judi online di wilayah tersebut.
Kritik tajam ini disuarakan oleh Peneliti Center for Legal Policy and Digital Dynamics (CLPD) sekaligus praktisi hukum, Septa Aditya Aslam, S.H., M.H. Meski mengapresiasi langkah tegas polisi menembak mati begal di lapangan, ia menegaskan bahwa peluru panas tidak akan pernah mematikan pabrik kejahatannya selama “bos besar” dibiarkan bebas beroperasi.
“Tindakan tegas di lapangan itu kami apresiasi penuh. Bagus ditembak mati kalau memang mereka melawan tugas, jangan sampai nyawa aparat melayang sia-sia. Tapi ingat, peluru itu cuma menghentikan satu pelaku, bukan ekosistemnya. Begal ini lahir dan makin nekat karena adanya pembiaran terhadap bandar narkoba dan bos judi!” tegas Septa.
Secara akademis dan praktis, Septa membedah profil miris para pelaku kejahatan jalanan saat ini. Menurutnya, mayoritas pelaku berasal dari kelompok masyarakat yang sudah terimpit kemiskinan, putus sekolah, namun memiliki tuntutan gaya hidup. Kondisi ini kemudian diperparah hingga titik nadir oleh candu narkoba dan lilitan utang judi online.
“Coba cek penyebabnya, kenapa mereka nekat jadi pembegal? Profil mereka ini jelas: sudah miskin, banyak gaya, lalu akal sehatnya dihancurkan oleh narkoba dan judi online. Butuh uang cepat untuk nge-fly atau main judi lagi, akhirnya membegal. Makanya, polisi harus berani tangkap bandar narkobanya! Berantas habis bos judi online-nya! Kejahatan ini akibat dari pembiaran akar masalah tersebut,” cecar Septa dengan nada kritis.
Secara spesifik, Septa menyoroti wilayah Pesawaran dan Lampung Timur, yang kerap menjadi sarang komplotan pelaku. Ia melempar tantangan menohok kepada aparat yang dinilai seolah buta terhadap keberadaan “ikan besar” di kedua wilayah itu.
“Berantas tuntas jaringan narkoba dan judi online yang ada di Pesawaran dan Lampung Timur! Masa kepolisian dengan segala perangkat intelijennya tidak tahu siapa bandarnya? Selama bandar ini dibiarkan, begal-begal baru akan terus bermunculan. Jangan penegakan hukum ini hanya sebatas tangkap case by case. Kalau cuma begitu, siklusnya berulang: begal hari ini mati, besok polisi kita yang jadi korban lagi,” ujarnya memperingatkan.
Septa merasa miris melihat anggota reserse di lapangan yang kelelahan dan bertaruh nyawa memburu pelaku kelas teri, sementara dalang utama penyebab rusaknya mental pelaku justru leluasa berbisnis. Di ujung pernyataannya, ia melempar tantangan terbuka terkait integritas institusi kepolisian daerah setempat.
“Polisi di lapangan sudah capek-capek memburu, tapi yang mem-back up dan bandar-bandar besarnya dibiarkan berlindung. Saya meminta kepada Kapolda, berani tidak membongkar tuntas jaringan di Pesawaran dan Lampung Timur itu? Atau jangan-jangan memang ada oknum aparat yang dapat ‘jatah’ di situ sehingga penegakan hukum hanya menyentuh hilirnya saja? Jangan sampai yang ditembak mati cuma kroco kampungan, sementara hulunya dibiarkan. Penyebab struktural ini harus berani dihabisi!” pungkas Septa menantang.
