HomeLifestyleDulu Dijuluki Kota Hujan, Kini Bogor Justru Merindukan Rintiknya

Dulu Dijuluki Kota Hujan, Kini Bogor Justru Merindukan Rintiknya

Oleh: Sheila Nurullita

Jabaran.id – Ada yang terasa berbeda akhir-akhir ini di Bogor. Kota yang biasanya identik dengan payung, jas hujan, dan langit mendung yang tiba-tiba muncul di sore hari, kini justru terlihat gersang. Langit birunya kini terik terlalu lama, tanahnya retak, dan warganya kompak menengadahkan tangan, meminta satu hal yang dulu begitu melimpah: hujan.

Kerinduan itu semakin memuncak setelah bencana besar yang melanda TPAS Galuga. Kobaran api melahap hebat gunungan sampah. Bukan sehari dua hari, api itu baru benar-benar padam setelah 9 hari.

Asap pekatnya menyelimuti wilayah sekitar. Bau menyengat, sesak napas, dan rasa khawatir menjadi menu harian warga Bogor selama lebih dari sepekan. Pemadam datang silih berganti, namun di atas tumpukan sampah yang menggunung, air saja tidak cukup.

- Advertisement -

Tak hanya di Galuga. Di beberapa titik lain, dari lahan kosong , tumpukan ilalang , ruko-ruko bahkan rumah warga habis dilalap api, Bogor yang biasanya basah, kini mudah sekali terbakar.

Di tengah ikhtiar teknis dengan selang dan water bombing, ada ikhtiar lain yang tak kalah kencang: ikhtiar langit.

Di masjid-masjid, di pesantren, hingga di tepi TPAS Galuga itu sendiri, doa-doa dipanjatkan. Di grup-grup WhatsApp warga, seruan untuk berdoa bersama berseliweran. Ada yang menggelar istighosah, ada yang melakukan ritual adat, semuanya dengan satu harapan yang sama.

“Ya Allah turunkan lah hujan dikota hujan…”

Sebuah pemandangan yang ironis sekaligus menyentuh. Meminta hujan di Kota Hujan.

Ironi ini semakin terasa karena di sisi lain Bogor, banyak wilayah yang justru menjerit karena kekeringan. Sumur-sumur warga mulai mengering dan kesulitan air. Petani melihat sawahnya pecah-pecah. Aliran sungai menyusut.

Fenomena ini seperti pengingat bagi kita. Bahwa julukan “Kota Hujan” bukan jaminan. Alam punya caranya sendiri untuk menegur. Mungkin sudah terlalu lama kita menganggap hujan itu biasa saja, hingga lupa bersyukur saat ia datang.

Kini, setiap mata di Bogor menatap langit. Menunggu awan kelabu itu kembali pulang. Menunggu wangi tanah basah setelah hujan yang dulu sering kita keluhkan.

Karena di kota yang paling sering dihujani, tidak ada yang lebih dirindukan selain hujan itu sendiri.

Penulis: Sheila Nurullita (warga Kabupaten Bogor)

TERBARU

spot_img
spot_img

POPULER

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here